home Akidah, NGAJI ONLINE Tauhid Ala Ahlussunnah wal Jamaah

Tauhid Ala Ahlussunnah wal Jamaah

 

  • Pentingnya Teologi

Tauhid atau bahasa kerennya adalah teologi adalah sebuah bidang keilmuan dalam dunia Islam. Ilmu ini lebih fokus dalam memahami hakikat ketuhanan. Menurut penulis, teologi dan tauhid memiliki makna substansi yang berbeda. Teologi memiliki pengertian yang lebih luas, karena diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang ketuhanan. Sementara tauhid adalah bagian dalam kaidah dan kajian teologi, yakni sebuah aliran yang mengklaim bahwa Tuhan itu satu.

Tauhid atau teologi adalah landasan paling pokok dalam Islam. Penulis meyakini, bukan hanya Islam yang menjadikan teologi sebagai ajaran inti, tapi seluruh agama yang ada di dunia ini. Jika anda ingin masuk kedalam agama Kristen, maka anda harus mempercayai bahwa Yesus itu Tuhan. Jika anda ingin masuk ke agama Buddha, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengakui bahwa Buddha adalah Tuhan. Begitupun dengan Islam. Jika anda ingin dikatakan sebagai orang Islam, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengakui dan meyakini bahwa “Tiada Tuhan selain Allah, dan nabi Muhammad adalah utusan terakhir Allah”.

Maka jelas dari sini, teologi adalah landasan paling penting dalam beragama. Karena dengan masalah teologi inilah, merupakan pembeda antara satu agama dengan agama yang lain, antara satu penganut dengan penganut yang lain.

Lantas teologi seperti apa yang diakui oleh mayoritas umat Muslim? Pembahasan inilah, kita kupas secara tuntas.

 

  • Syahadat dan Tauhid

Seluruh umat Muslim di dunia, mayoritas aliran Islam di dunia, mayoritas ulama di dunia, pasti setuju, bahwa syahadat adalah bagian paling penting dalam hakikat ajaran Islam. Dengan membaca dan meyakini 2 kalimat syahadat, maka secara otomatis orang tersebut dikatakan sebagai orang Muslim.

Meskipun penulis tidak menyanggah, bahwa terjadi perbedaan pendapat untuk menentukan hal pertama untuk masuk Islam, yaitu:

  1. Pendapat pertama mengatakan bahwa, orang yang akan masuk Islam, lebih diutamakan membaca syahadatain, untuk kemudian mempelajari tauhid;
  2. Pendapat kedua berkata sebaliknya. Orang yang ingin masuk Islam, harus paham dulu hal-hal mendasar dalam Tauhid, kemudian baru membaca syahadat.

Penulis tidak menafikan perbedaan pendapat diantara keduanya. Tapi kalau boleh, penulis ingin memberikan sebuah pemahaman yang bisa menggabungkan dari kedua pemikiran tersebut. Jika kita kaji dan kita kupas 2 kalimat syahadat, salah satu makna terpentingnya adalah menyatakan bahwa “Tiada Tuhan selain Allah”. Hal ini jelas bahwa dalam kalimat syahadat, telah tercermin hakikat-hakikat Tauhid. Jadi kalau boleh penulis memberikan kesimpulan, bahwa syahadat adalah bagian dari permukaan tauhid, sementara tauhid adalah penjabaran dari kalimatus syahadat. Intinya, orang yang membaca syahadat, secara tidak langsung dia telah menyadari makna tauhid dalam Islam, dan ketika orang sudah memahami hakikat tauhid, berarti secara tidak langsung dia telah paham makna dua kalimat syahadat.

 

  • Dalil Naqli dan Aqli

Ada dua golongan besar di dunia Islam dalam memahami konsep-konsep Tauhid. Golongan pertama adalah golongan rasionalisme Islam, yang salah satu golongan terkenalnya adalah golongan Muktazilah. Golongan ini adalah golongan yang mendewa-dewa-kan akal. Segala sesuatu dalam kajian teologi, akan menggunakan konsep-konsep logika Aristoteles. Madzhab Muktazilah pernah menjadi madzhab resmi negara, yaitu di era al-Makmun. Maka tidak heran, peradaban muslim yang benar-benar maju, akan berkiblat ke masa ini. Kaum Muktazilah hanya mengenal dalil aqli. Mereka hanya akan mengakui sebuah ayat al-Qur’an jika ayat tersebut sesuai dengan akalnya. Maka tidak heran, golongan ini menganggap al-Qur’an lah yang harus menyesuaikan dengan logika mereka.

Dengan munculnya golongan rasionalisme yang kebablasan itu, lahirlah golongan yang kedua, yaitu golongan Ahlul Atsar. Salah satu kelompoknya yang sangat ekstremis, yaitu kelompok Salafi Wahabi. Kelompok ini ditandai munculnya ulama terkenal yang memiliki nama Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah ini sangat anti terhadap logika Aristoteles. Menurutnya, masalah teologi tidak pantas diperdebatkan secara logika. Kita dianjurkan untuk menerima saja apa yang sudah difirmankan oleh Allah tanpa adanya lagi kajian. Kelompok ini sangat monoton. Kelompok ini hanya memiliki kamus dalil naqli, yaitu dalil yang hanya tertulis di dalam al-Qur’an. Maka tidak heran, ketika ada ayat yang mengatakan “Allah bersemayam di atas Arsy” atau ayat “Tangan Allah di atas tangan mereka”, golongan ini menerima ayat tersebut dengan membabi buta. Mereka langsung mengakui bahwa Allah itu berdiam diri di atas Arsy, dan juga memiliki tangan. Golongan ini kemudian dikembangkan oleh orang yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab.

Kedua golongan ini, sama-sama memiliki kelebihan dan kelemahan. Golongan rasionalis, membuat perdaban Islam semakin maju karena mengembangkan akalnya dalam memahami hakikat hidup. Begitupun dengan golongan tekstualis, memiliki kelebihan untuk mengesampingkan akal agar terhindar dari kesalahan tafsir. Tapi tentu kedua-duanya memiliki kelemahan. Golongan rasionalis jelas akan membabi buta dengan ayat-ayat Mutasyabihat, dan golongan tekstualis justru akan monoton dalam memahami agama.

Maka lahirlah golongan ketiga yang menjadi penengah diantara keduanya, yaitu golongan yang menerima dalil naqli, dan juga menerima dalil aqli (golongan Ahlussunnah wal Jamaah). Dalil naqli sangat penting, karena firman Allah adalah satu-satunya sumber yang bisa dipercaya. Tapi dalil aqli juga penting, karena dengan akal, kita bisa memahami substansi dari ayat yang di firmankan Tuhan. Jangan sampai, ketika ada ayat 10 surat Fath yang berbunyi “Tangan Allah di atas tangan mereka”, langsung menafsirkan bahwa Allah itu memiliki tangan. Padahal jelas, bahwa Allah itu dihindari dari sifat-sifat yang sama dengan makhlukNya. Hal yang tepat adalah, menafsirkan kata “Tangan” dengan “Kekuasaan”. Maka ketika ada kalimat “Tangan Allah”, tafsiran yang hak adalah “Kekuasaan Allah”, karena Allah jelas tidak memiliki tangan seperti makhlukNya.

Dari sini, ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan mayoritas, dengan jelas menerima dalil naqli dan dalil aqli.

Dengan demikian, madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah yang dibawakan oleh al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi mengembalikan ajaran Islam kepada Sunnah Rasulullah dan para shahabatnya dengan berpegang kepada dalil al-Qur’an dan as-Sunnah dengan tidak meninggalkan dalil-dalil akal. Artinya memegang kepada dalil akal tetapi lebih mengutamakan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah.

 

  • Penggunaan Dalil dalam Tauhid

Dalam kajian Ahlussunnah wal Jamaah, penggunaan dalil naqli lebih di utamakan ketimbang dalil aqli. Menurut KH. Nuril Huda, jika kita ibaratkan dalil aqli sebagai mata, maka dalil naqli kita ibaratkan sebagai pelita yang terang benderang. Mata kita harus disesuaikan dengan pelita. Jika pelita sudah jelas dan clear, maka mata mengikutinya. Tapi jika cahaya pelita itu agak blur, maka mata harus mengkajinya hingga tampaklah pelita itu kembali terang di depan mata. Akal manusia mengikuti dalil al-Qur’an dan Hadits, bukan al-Qur’an dan hadits yang disesuaikan dengan akal manusia.

Rasulullah pernah bersabda bahwa “tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal”. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang yang menerima agama adalah orang-orang yang berakal. Tapi bukan berarti juga agama yang harus menerima akal. Akal lah yang harus menerima agama. Itu artinya, kebenaran naqli lebih di dahulukan dari kebenaran aqli. Tapi walau begitu, bukan berarti kita menghilangkan fungsi akal sebagaimana golongan Salafi Wahabi.

 

  • Madzhab Mayoritas Teologi

Fatwa agama yang datang dari mana pun saja kalau tidak berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qiyas wajib kita tolak. Maka di dalam ilmu Tauhid kita berpegangan kepada al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.

Al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari dilahirkan di Bashrah pada tahun 260 H dan wafat tahun 324 H. Beliau belajar kepada ulama Muktazilah, di antaranya al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab Al-Jabal. Karena pada masa itu Muktazilah merupakan madzhab pemerintah pada zaman khalifah Abbasiyah; khalifah Al-Ma’mun bin Harun al-Rasyid al-Mu’tashim dan al-Watsiq, dan beliau termasuk pengikut setia madzhab Muktazilah.

Setelah beliau banyak melihat kekeliruan faham Muktazilah, maka beliau menyatakan keluar dari Muktazilah di depan khalayak ramai dengan tegas, bahkan akhirnya beliau menolak pendapat-pendapat Muktazilah dengan dalil-dalil yang tegas.

 

  • Rukun Iman

Dalam ilmu Tauhid, rukun iman menurut Ahlussunnah wal Jama’ah ada 6 (enam) pilar, yaitu:

  1. Iman kepada Allah;
  2. Iman kepada para malaikat Allah;
  3. Iman kepada para nabi dan rasul Allah;
  4. Iman kepada kitab-kitab suci Allah;
  5. Iman kepada Hari Akhir; dan
  6. Iman kepada Qadla/Qadar Allah.

Dalam memahami Allah, Ahlussunnah wal Jamaah secara mayoritas menyetujui bahwa Allah memiliki 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat jaiz. Oleh karena itu, Allah dikesampingkan dari hal-hal yang sama dengan makhlukNya, salah satunya dimensi tempat dan waktu. Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah berpendapat bahwa dimensi waktu dan tempat hanya berlaku bagi makhluk, sementara bagi Allah, hal itu jelas tidak berlaku. Itu artinya, Allah tidak dipengaruhi oleh waktu dan tidak memiliki tempat.

Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah juga mengakui bahwa tidak ada yang mengetahui jumlah malaikat kecuali Allah Azza wa Jalla. Hanya saja, kita diwajibkan untuk mengenal 10 malaikat.

Begitupun dengan para nabi dan rasul. Kita diwajibkan untuk mengenal 25 nabi dan rasul, yang diawali oleh Adam dan diakhiri oleh Muhammad. Kita juga diwajibkan untuk mengakui dan meyakini bahwa beberapa nabi dan rasul diturunkan kitab oleh Allah dan wajib diketahui, yaitu kitab Zabur kepada Daud, Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa, dan al-Qur’an kepada Muhammad.

Kita juga harus meyakini bahwa alam raya ini bersifat fana. Itu artinya, suatu saat nanti alam raya ini akan hancur dengan izin Allah. Meyakini Hari Kiamat juga termasuk meyakini perjalanan atau tanda-tanda menuju Kiamat. Misalnya kedatangan al-Mahdi, turunnya Isa al-Masih, keluarnya Dajjal, keluarnya Yakjuj Makjuj, dan segala macamnya.

Dan terakhir meyakini bahwa kita tidak bisa terlepas dari takdir Tuhan. Tapi perlu dipahami disini, ada dua golongan yang memandang Qadla dan Qadar dengan gaya yang berbeda. Pertama memandang bahwa manusia memiliki hak penuh untuk menentukan takdirnya sendiri. Golongan ini disebut sebagai golongan Qadariyyah.

Sementara golongan kedua adalah mereka yang menafikan usaha manusia. Segala sesuatu sudah diatur oleh Allah, dan manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Golongan ini berbanding terbalik dengan golongan Qadariyyah. Golongan ini biasa disebut sebagai golongan Jabariyyah.

Diantara keduanya, Ahlussunnah wal Jamaah berdiri di tengah-tengah mereka. Ahlussunnah wal Jamaah mengakui eksistensi usaha manusia, tapi untuk masalah hasilnya, dikembalikan kepada ketentuan Allah Swt. Wallahu A’lam.

 

 

=====================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat