home OPINI, UMUM Tantangan untuk HTI

Tantangan untuk HTI

Ada 2 hal pokok yg tak akan pernah bisa dijelaskan HTI tentang khilafah.
.
Yang pertama, mereka tak akan bisa menjawab tentang sistem dasar nya. Model sederhana dari sistem adalah pengangkatan khalifah. Apakah seperti nabi yg diminta menjadi pemimpin oleh beberapa suku di madinah (konsep terbaik)? Atau seperti Abu bakar atas kesepakatan Muhajirin & Anshor (awalnya dengan format voting mirip demokrasi, sebelum Umar secara tegas mengangkat Abu Bakar)? Atau seperti Umar yg ditunjuk oleh Abu Bakar sebelum wafat (konsep hibah)? Atau seperti Ustman yg dibaiat oleh tim komite yg dibuat Umar (mirip sidang MPR jika zaman sekarang)? Atau seperti Ali yg dibaiat karena desakan beberapa pihak (mirip kasus pengangkatan megawati)? Atau malah dibaiat dengan garis keturunan seperti zaman Umayyah, Abbasiyah, dll (model kerajaan)?
.
Ini baru satu kasus dalam materi sistem, belum lagi menjawab bagaimana kontrol pemerintahan, bagaimana pertanggungjawabannya, bagaimana kedudukan lembaga yudikatif (pengadilan) dihadapan khalifah, dan lain sebagainya.
.
Dan yg kedua, jika seandainya seluruh umat Islam di dunia ini sepakat membentuk Khilafah, kira2, siapa yg paling pantas menjadi “kandidat” khalifah di zaman ini?
.
Orang Saudi akan menjawab “Raja Muhammad bin Salman”. Orang NU akan menjawab “Kiai Said”. Orang FPI akan menjawab “Habib Rizieq”. Orang Muhammadiyah akan menjawab “Haedar Nashir”. Dan lain-lain.
.
Sehingga ketika kesepakatan khilafah itu muncul, secara bersamaan akan terjadi perang saudara diantara umat Islam. Karena hal ini jelas berkenaan dengan ambisi politik. Siapa yg tak mau menjadi pemimpin bagi 1,8 milyar orang? Baru menjadi presiden untuk 250 juta rakyat saja sudah menghalalkan segala cara, apalagi untuk seluruh umat Islam? Anda pikir yg dilakukan ISIS itu tidak menghalalkan segala cara?

.

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat