home Fikih, NGAJI ONLINE Sekilas Tentang Shalat Sunnah

Sekilas Tentang Shalat Sunnah

Shalat adalah ritual ibadah yang paling penting dalam agama Islam. Disebutkan bahwa shalat adalah tiang dari agama. Shalat juga dianggap sebagai wajan yang mewadahi amalan-amalan yang lain.

Penulis kira, masalah shalat ini sudah umum dibicarakan, khususnya shalat wajib. Tapi banyak fenomena di masyarakat antara satu orang dengan yang lainnya, memiliki karakter shalat yang berbeda. Penulis tidak menyangkal perbedaan tersebut. Semuanya memiiki dalil masing-masing.

Tapi menurut penulis, sebaiknya kita ikuti saja tata cara shalat yang umum dilakukan. Hal ini bukan tanpa alasan, karena dengan kaidah yang umum di masyarakat, setidaknya kita bisa terlepas dari fitnah. Maka dari itu, apa yang telah disampaikan oleh para ulama kita, sebaiknya kita ikuti, asalkan ulama yang kita pilih memiliki sanad keilmuan yang baik.

Agama Islam juga tidak mempersulit umatnya untuk melakukan shalat. Andaikan kita dalam keadaan sakit, maka aturan shalat bisa dipermudah. Pun demikian, jika kita berada dalam perjalanan, Islam hadir untuk memberikan keringanan berupa shalat jama’ dan qashar.

Maka dari itu, penulis hanya memberikan beberapa pengertian dari praktik shalat sunnah yang biasa kita dengar di masyakarat. Untuk referensi yang lebih jelas, pembaca bisa mencari di berbagai sumber lain yang lebih lengkap.

  1. Shalat Sunnah Tahajud

Shalat sunnah Tahajud adalah shalat yang dikerjakan pada waktu tengah malam di antara shalat Isya dan shalat Shubuh setelah bangun tidur. Jumlah rakaat shalat Tahajud minimal dua rakaat hingga tidak  terbatas.

  1. Shalat Sunnah Dhuha

Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00 hingga jam 10.00 waktu setempat (tergantung kondisi matahari). Jumlah rakaat shalat dhuha minimal dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat dengan satu salam setiap dua rakaat. Manfaat dari shalat dhuha adalah supaya dilapangkan dada dalam segala hal, terutama rezeki.

  1. Shalat Sunnah Istikharah

Shalat istikharah adalah shalat yang tujuannya adalah untuk mendapatkan petunjuk dari Allah swt dalam menentukan pilihan hidup, baik yang terdiri dari dua hal/perkara maupun lebih. Hasil dari petunjuk Allah swt akan menghilangkan kebimbangan dan kekecewaan di kemudian hari. Setiap kegagalan akan memberikan pelajaran dan pengalaman yang kelak akan berguna di masa yang akan datang. Contoh kasus penentuan pilihan:

  • memilih jodoh suami/istri;
  • memilih pekerjaan;
  • memutuskan suatu perkara;
  • memilih tempat tinggal, dan lain sebagainya.

Dalam melakukan shalat istikharah sebaiknya juga melakukan puasa sunnah, shodaqoh, zikir, dan amalan baik lainnya.

  1. Shalat Sunnah Tasbih

Shalat tasbih adalah shalat yang bertujuan untuk memaha-sucikan Allah swt. Waktu pengerjaan shalatnya bebas. Setiap rakaat dibarengi dengan 75 kali bacaan tasbih. Jika shalat dilakukan siang hari, jumlah rakaatnya adalah empat rakaat, sedangkan jika malam hari dengan dua salam.

  1. Shalat Sunnah Taubat

Shalat taubat adalah shalat dua rakaat yang dikerjakan bagi orang yang ingin bertaubat, insyaf atau menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukannya dengan bersumpah tidak akan melakukan serta mengulangi perbuatan dosanya tersebut. Sebaiknya shalat sunnah taubat dibarengi dengan puasa dan shodaqoh.

  1. Shalat Sunnah Hajat

Shalat Hajat adalah shalat agar hajat atau cita-citanya dikabulkan oleh Allah swt. Shalat hajat dikerjakan bersamaan dengan ikhtiar atau usaha untuk mencapai hajat atau cita-cita. Shalat sunnah hajat dilakukan minimal dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat, dengan satu salam setiap dua rakaat. Lebih baik dilakukan pada sepertiga terakhir waktu malam.

  1. Shalat Sunnah Safar

Shalat safar adalah sholat yang dilakukan oleh orang yang sebelum bepergian atau melakukan perjalanan selama tidak bertujuan untuk maksiat seperti pergi haji, mencari ilmu, mencari kerja, berdagang, dan sebagainya. Tujuan utamanya adalah supaya mendapat keridhaan, keselamatan dan perlindungan dari Allah swt.

  1. Shalat Sunnah Rawatib.

Shalat sunnah rawatib dilakukan sebelum dan setelah shalat fardhu. Yang sebelum Shalat Fardhu disebut shalat qobliyah, dan yang setelah shalat fardhu di sebut shalat ba’diyah. Keutamaannya adalah sebagai pelengkap dan penambal shalat fardhu yang mungkin kurang khusu atau tidak tumaninah.

  1. Shalat Sunnah Istisqho’

Shalat sunnah ini di lakukan untuk memohon turunnya hujan. dilakukan secara berjamaah saat musim kemarau.

  1. Shalat Sunnah Witir

Shalat sunnah witir dilakukan  sebelum fajar. Bagi yang yakin akan bangun malam diutamakan dilakukan saat sepertiga malam setelah shalat Tahajud. Shalat witir disebut juga shalat penutup. Biasa dilakukan sebanyak tiga rakaat dalam dua kali salam, dua rakaat pertama salam dan dilanjutkan satu rakaat lagi. Shalat ini hanya mengenal jumlah rakaat ganjil.

  1. Shalat Tahiyatul Masjid

Shalat tahiyatul masjid ialah shalat untuk menghormati masjid. Disunnahkan shalat tahiyatul masjid bagi orang yang masuk ke masjid, sebelum ia duduk. Shalat tahiyatul masjid hanya berjumlah dua rakaat.

  1. Shalat Tarawih.

Shalat Tarawih yaitu shalat malam pada bulan ramadhan, hukumnya sunnah muakad bagi laki-laki atau perempuan. Boleh dikerjakan sendiri-sendiri dan boleh pula berjama’ah.

  1. Shalat Hari Raya (Idul Adha dan Idul Fitri)

Sebagaimana telah diterangkan bahwa waktu shalat hari raya idul fitri adalah tanggal 1 syawal mulai dari terbit matahari sampai tergelincirnya matahari. Sedangkan untuk shalat hari raya Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.

  1. Shalat Dua Gerhana

Kusuf adalah gerhana matahari dan khusuf adalah gerhana bulan. Shalat kusuf dan khusuf hukumnya sunnah muakadah.

Wallahu A’lam

 

 

===========================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat