home OPINI Rindu Sang Komedian Gus Dur

Rindu Sang Komedian Gus Dur

Akhir-akhir ini, hampir setiap hari, kita disuguhkan dengan berita-berita yang tidak mengenakkan. Masalah pelanggaran pidana, mungkin itu sudah terlampau banyak. Dari dulu. Selalu begitu, hukum kita memang sedang tertinggal zaman. Sementara kejahatan sudah berada di bulan, undang-undang masih muter-muter di terminal. Itu realita. Sulit mencari kambing hitamnya. Pemerintah? Lagi-lagi pemerintah yang disalahkan. Parlemen? Lagi-lagi anak TK yang salah. Rakyat? Kok bisa si dungu-dungu itu yang disalahkan? Mahasiswa? Apa-apaan bawa-bawa pengangguran. Sudahlah, ini salah Yahudi, ini salah Belanda, mereka yang bertanggung-jawab. Mengapa pula dulu mereka menjajah kita. Mengapa pula mereka memberlakukan KUHP yang usang itu. Dasar primitif!

Berang juga ngomongin itu. Biarlah kejahatan menguasai negeri ini. Sudah sepantasnya monster merasakan kemenangan lawan si power ranger keroyokan itu. Kita biarkan mereka menang, dan memang harus begitu. Memangnya apa yang bisa kita lakukan? Tidak ada bukan? Biarlah…

Berita-berita busuk terus-terusan masuk ke telinga kiri. Geram iya. Enek apa lagi, pengen muntah rasanya hidup di negeri ini. Yang ada hanya masalah, tak ada yang lain. Apa karena media-nya antek asing dan aseng ya, sehingga yang ditonjolkan sesuatu hal yang kita benci terus? Entahlah, mungkin benar mereka gerombolan zionis.

Politik. Ini yang akut. Sumber malapetaka negeri ini. Sumber kekacauan saat ini. Udah kronis banget, masuk stadium 4. Kubu satu, kubu dua, saling hajar. Saling sikut. Saling teriak maling. Padahal dua-duanya kurang ajar. Yang satu bilang “Allahu Akbar”, satunya lagi bilang “Pancasila”. Dungu dua-duanya. Jadi nanti bakal diadu antara Tuhan vs Burung? Konyol.

Ribuan otak-otak kosong saling caci. Sesama rakyat jelata padahal. Sesama pengangguran padahal. Sama-sama butuh duit padahal. Sesama oon, sesama kere. Hidup habis hanya untuk bertengkar, lupa akan tugas utama. Anak dan istri ditelantarin entah kemana. Yang penting jihad, selain itu nomor 2. Yang penting bela yang benar, sementara hak-hak kebenaran yang ada di sekelilingnya terabaikan. Ngakunya sih di jalan yang lurus, tapi saling jotos hanya untuk memaksakan ide gilanya.

Udahlah, kalian dua-duanya salah. Sama-sama kurang ajarnya. Si merah yang dukung si sipit, moral kalian hancur berantakan. Si putih yang dukung si jenggot juga rusak nalurinya. Dua-duanya seperti penyakit, menggerogoti tanah asri ini. Ibu pertiwi menangis menahan luka dari anaknya sendiri. Anak biadab. Anak kurang ajar.

Politik, sama busuknya dengan hukum. Lebih keji malah. Sudah berapa nyawa melayang sia-sia karena mempertahankan orang udik? Berapa orang terluka parah dibawah bendera yang ngakunya kebenaran?

Semua ini membuatku prihatin bukan main. Tampak enggan ku melihat kerancuan hidup di negeri ABG ini. Andai kau masih ada, gus. Kau mungkin akan tertawa, menyeringai. Kau itu hebat, gus. Matamu tak bisa melihat, tapi hatimu dapat menilai dengan jernih. Entah kenapa, aku yakin seyakin-yakinnya, jika kau masih ada, kau akan buat kubu tandingan yang ketiga. Akan kau bantai si kunyuk merah dan putih itu bersama-sama. Lalu kau berdiri di tengah podium sambil berbisik ke telinga rakyat, “gitu aja kok repot.”

 

========================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

 

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat