home OPINI PBNU vs DPP FPI

PBNU vs DPP FPI

Bagi beberapa orang, mungkin heran melihat realita yang ada sekarang. PBNU dan DPP FPI belakangan ini menjadi kubu yang saling berseberangan. Mengapa harus penasaran?

Tentu saja aneh, karena sebenarnya kedua organisasi ini memiliki kubu yang sama dalam firqah keislaman. FPI secara kultur lebih dekat kepada NU, ketimbang Muhammadiyah maupun Persis.

Di jelaskan di Anggaran Dasar FPI Bab II pasal 5 tentang Asas, Aqidah dan Madzhab menyatakan :

  1. Organisasi FPI berasaskan Islam.
  2. Organisasi FPI beraqidahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
  3. Organisasi FPI bermadzhab Aqidah Asy’ari dan bermadzhab Fiqih Syafi’i.

 

Serupa sekali dengan yang dituangkan dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama, bahwa NU merupakan organisasi yang menjunjung tinggi ajaran dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni), berpedoman kepada imam al-Asy’ari dalam bidang teologi, taklid dan ittiba’ kepada madzhab Syafii dalam bidang fiqh, dan menerima peran tasawuf.

Selain itu, PBNU dan DPP FPI juga memiliki tradisi keislaman yang sama, seperti tahlilan, maulidan, sholawatan, ziarah kubur, istighosah, dzikir bersama, qunut dalam shubuh, dan lain sebagainya. Memang tak bisa disangkal lagi, setiap habib di Indonesia pasti memiliki ciri kultur yang sama dengan Nahdlatul Ulama, termasuk didalamnya Habib Rizieq Syihab. Lebih jauh lagi, para pengurus dan simpatisan FPI, secara kultur pasti lahir dari keluarga NU.

Lantas mengapa keduanya (baca: para pengurus PBNU dan DPP FPI) saling bertengkar satu sama lainnya?

Jawaban termudahnya adalah politik. Bagi penulis, perbedaan cara pandang politik antara PBNU dan DPP FPI menjadi sekat pemisah yang sangat kontras sekali. Manakala PBNU berdiri sebagai koalisi pemerintah, DPP FPI justru tampil sebagai kontra/oposisi pemerintah.

Dekatnya PBNU di pemerintahan Jokowi sekarang dianggap oleh banyak pihak sebagai, “gerombolan ulama bayaran pemerintah”. Dan kedekatan PBNU ini tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Semuanya sudah jelas dan mafhum, bahwa PBNU memiliki kecondongan untuk mendukung rezim Jokowi.

Dari segi politik, walau NU sudah menyatakan khittah 1926 untuk tidak mengikuti politik praktis,  namun tokoh-tokoh di kepengurusan NU selalu aktif di partai politik. Catatan yang paling penting bagi kita semua adalah bahwa PBNU saat ini secara politik dikuasai oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), mengalahkan reputasi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Hal ini bukan tanpa alasan, muktamar NU yang ke-33 kemarin menunjukkan hal tersebut, bahwa secara politik, PBNU sudah dikuasai oleh PKB, walaupun upaya perebutan suara dari PPP masih tetap berjalan.

Karena PKB merupakan partai koalisi dari pemerintah, sehingga bisa ditebak arah politik PBNU saat ini. PBNU tentu akan memilih untuk dekat dengan pemerintah karena desakan dari pengurus-pengurus yang memang menjadi kader PKB. Ditambah, pemerintahan Jokowi memberikan keistimewaan besar untuk PBNU, memberikan banyak jatah kursi di pemerintahan kepada para pengurus NU.

Disisi yang lain, DPP FPI tidak memiliki basis kekuatan politik. Sikapnya yang masih menggunakan pendekatan ulama salaf, memberikan posisi DPP FPI semakin jelas di negeri ini. Dalam referensi kitab-kitab klasik, kepemimpinan non-muslim diatas warga yang mayoritas muslim, hukumnya haram mutlak. Dan DPP FPI meyakini betul pendapat ini. Sehingga ketika Ahok muncul ke permukaan Jakarta, DPP FPI bereaksi keras, menentang dengan segala upaya.

Disini terlihat jelas, DPP FPI muncul sebagai oposisi dari pemerintahan Jokowi. Latar belakang Ahok yang merupakan sekutu Jokowi, menjadi nilai tambah kebencian DPP FPI terhadap rezim sekarang.

Latar belakang inilah yang memunculkan ke permukaan, permusuhan antara PBNU dengan DPP FPI.

Bagi penulis yang merupakan seorang Nahdliyyin (warga NU), melihat fenomena antara PBNU dan DPP FPI ini tidak penulis risaukan secara berlebihan. Karena siapapun yang menang, tradisi-tradisi keislaman yang biasa penulis jalani di dalam keluarga, tidak akan tergusur. Andaikan PBNU bisa mempertahankan eksistensinya di era Jokowi, tradisi keislaman keluarga penulis akan tetap jalan seperti sedia kala. Dan apabila pada akhirnya DPP FPI yang berhasil memenangkan pertandingan, tradisi-tradisi keislaman keluarga penulis juga tidak akan luntur. Siapapun yang menang, ajaran dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah akan tetap eksis di negeri ini.

Siapapun yang menang akan penulis dukung, asal bukan si songong yang biasa nuduh-nuduh bid’ah. Itu kelompok kurang ajar!

 

=====================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat