home OPINI JIL yang Tak Lagi JIL

JIL yang Tak Lagi JIL

Fenomena munculnya Jaringan Islam Liberal (JIL) memberikan suatu spirit baru di kalangan Islam Indonesia yang masih dalam taraf tradisi. Islam Indonesia masih dianggap kaku untuk bisa bersanding dengan peradaban abad 21. Sikapnya yang tertutup, membuat banyak kalangan dari anak-anak muda melakukan suatu motivasi ilmiah bagi masyarakat. Dan entah karena apa, orang-orang yang menjadi penguasa di Jaringan Islam Liberal biasanya didominasi oleh para aktivis muda Nahdlatul Ulama. Ada yang aneh? Tentu saja iya. NU yang disimbolkan sebagai golongan tradisional itu justru muncul sebagai gerakan pembaharu, lebih hebat dari saingan terdekatnya, Muhammadiyah.

Aneh memang, karena seharusnya yang mempelopori kegiatan-kegiatan liberalisme lahir dari Muhammadiyah sebagai organisasi golongan modernis yang tidak kaku dengan perubahan. Lihatlah sejarah, manakala kiai-kiai kolot di kampung masih ngaji dengan kitab kuning, KH. Ahmad Dahlan sudah melakukan terobosan baru menggunakan fasilitas ala Belanda, yang kemudian ditentang oleh kelompok tradisional dan dianggap sebagai bagian dari tasyabbuh.

Entahlah. Muhammadiyah sekarang justru lebih tertutup ketimbang Nahdlatul Ulama. Perkembangan keilmuan di Muhammadiyah juga masih berkutik di tempat-tempat yang sama, masih mempermasalahkan tentang tahlilan, ziarah kubur, rokok, dan lain-lain. Bahkan ketika penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah mayoritas warga Muhammadiyah, disana masih memperdebatkan tentang membaca shalawat dalam ceramah. Sungguh aneh.

Maka dari itu, penulis memiliki sedikit anekdot untuk menggambarkan NU dan Muhammadiyah saat ini. Karena NU lahir dan berkembang di pesantren-pesantren yang letaknya di kampung-kampung, mereka biasanya berpikiran sempit. Namun sesaat setelah mereka pergi ke kota, melihat realitas yang ada, pikiran mereka terbuka dengan lebar, dan ujung-ujungnya menjadi liberal (lihat realita akademisi muda NU yang kuliah ke luar negeri).

Muhammadiyah berbanding terbalik dari itu. Gerakan Muhammadiyah lahir di perkotaan dengan segala kemegahannya. Manakala mereka masuk ke kampung-kampung, pikirannya berubah drastis menjadi sempit. Melihat realitas masyarakat kampung yang masih kuno, masih mempercayai takhayul, mereka biasanya langsung menuduh masyarakat di kampung itu bid’ah, syirik, sesat, kafir. Mengapa? Karena bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits, begitu kata mereka.

Itu hanyalah anekdot yang penulis lihat sendiri. Bukan suatu generalisasi. Sama sekali tidak. Hanya suatu guyonan untuk menggambarkan bagaimana NU dan Muhammadiyah mengalami pergeseran yang cukup signifikan. NU yang dulu, menjadi Muhammadiyah yang sekarang, dan Muhammadiyah yang dulu, menjadi NU yang sekarang. NU yang dulu menuduh Muhammadiyah liberal, dan Muhammadiyah yang sekarang menuduh NU liberal. NU yang dulu dianggap kolot, sekarang menjadi modernis. Dan Muhammadiyah yang dulu modernis, sekarang justru menjadi kolot. Lucu bukan? Keduanya memang sedang berganti peran.

Sehingga tidak heran, aktivis-aktivis Jaringan Islam Liberal lebih banyak dikuasai oleh para pemuda NU. Ada yang Muhammadiyah, tapi sedikit sekali jumlahnya. Liberalisme lebih banyak menyebar di kampus-kampus Islam Negeri (basis warga NU) ketimbang kampus-kampus Muhammadiyah yang elit itu.

Penulis sedikit tertarik dengan gaya dialog orang-orang di Jaringan Islam Liberal. Setiap hari, mereka selalu mengkampanyekan kebebasan beragama, kebebasan dalam berprinsip, dan tidak memaksakan orang lain dalam beragama. Penulis merasa tersanjung dengan kampanye mereka. Ini merupakan kampanye yang benar, begitulah penulis menilai mereka. Penulis sepakat dengan gaya berpikir mereka. Gaya berpikir yang memang sudah seharusnya digunakan. Untuk apa lagi kita memaksa orang lain untuk mengikuti agama kita, sementara Tuhan telah berfirman dalam kitab sucinya bahwa, “Tiada paksaan dalam beragama.”

Upaya-upaya ini terus dikampanyekan oleh banyak tokoh muda, sebut saja Ulil Abshar Abdalla, Akhmad Sahal, Zuhairi Misrawi, dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu memiliki kecenderungan sebagai pengurus muda Nahdlatul Ulama. Walaupun dikemudian hari muncul para pembencinya yang setia, dengan menggunakan hastag #IndonesiaTanpaJIL, Jaringan Islam Liberal tetap berkembang dengan banyak pendukung, khususnya anak-anak muda.

Dalam beberapa hal, penulis menyepakati hal ini dengan kelompok Jaringan Islam Liberal. Mengkampanyekan toleransi beragama, menghormati ajaran agama lain, dan saling membantu dalam bidang kemanusiaan tanpa melihat latar belakang agamanya. Cocok dengan ungkapan Gus Dur, “Jika engkau berbuat baik untuk orang lain, orang tidak akan tanya apa agamamu.” Gus Dur memang menjadi idola di kalangan Jaringan Islam Liberal.

Namun selain sisi positifnya itu, justru suatu kelemahan muncul dari pandangannya sendiri. Islam Liberal saat ini terlihat tidak liberal lagi. Manakala para aktivis JIL tersebut masuk ke ranah politik, semuanya terasa begitu aneh. Mereka justru mengklaim kebenaran dan memaksakan ide-ide-nya untuk diterima oleh masyarakat. Ini terlihat paradoks. Prinsip liberal adalah kebebasan bukan? Lalu untuk apa memaksakan kehendak?

Lihat saja bagaimana kelompok liberal ini berseteru tiada henti dengan beberapa kelompok, sebutlah FPI misalnya, terlihat disini Islam Liberal sudah meninggalkan jejak objektivitasnya sebagai suatu pemikiran yang independen. Berangkat dari klaim “ormas anti NKRI”, Islam Liberal menyerang lawan “politik”nya dengan argumentasi yang dipaksakan. Disini letak kelemahannya.

Sehingga pandangan penulis akan Jaringan Islam Liberal berubah total sejak era Jokowi ini dimulai. JIL yang sekarang tidak se-liberal JIL yang dulu. Lalu kemanakah JIL yang murni itu? Mereka telah menjadi usang ditelan ideologinya sendiri.

 

=======================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat