home CERITA PENDEK Iranian Corner

Iranian Corner

Suntuk dan suntuk. Tak ada komentar lain akan kuliah. Manakala jam kuliah berakhir, tak tahu harus apa dan tak tahu harus kemana. Kadangkala aku selalu berpikir bahwa kuliah hanyalah permainan belaka. Permainan yang tak kunjung ada habisnya. Tak punya tujuan. Tak punya harapan. Dan tak punya konsep yang jelas. Semuanya suram ketika diriku memikirkan sebuah masa dimana orang lain meraih kesuksesan.

Waktu-waktu luang yang teramat besar di saat-saat kuliah aku habiskan di perpustakaan. Tempat dengan lantai 4 dan menjadi basecamp paling menyenangkan, setidaknya untuk diriku yang tidak memiliki arah hidup untuk melangkah. Perpustakaan yang sudah canggih dengan dilengkapi semua hal yang sudah menjadi standar nasional dan bahkan masuk catatan Museum Rekor Indonesia.

Ada dua tempat di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga yang paling sering menjadi bagian dari wilayah kekuasaanku. Ya, aku selalu duduk di tempat yang sama jika aku pergi ke perpustakaan. Setidaknya jika tempat itu masih kosong. Jika penuh, terpaksa aku cari tempat lain. Kemudian jika tempat itu kosong, aku kembali dan duduk di tempat favoritku.

Tempat pertama berada di lantai empat sebelah selatan yang berada di pinggir AC. Tempat itu nyaman banget untuk membuat ide-ide atau gagasan-gagasan cemerlang. Kadangkala sendirian, atau ditemani beberapa teman, atau bahkan aku duduk-duduk dengan orang yang aku tidak kenal, begitupun mereka pasti tidak mengenal diriku. Kami duduk sebagai pelanggan setia perpustakaan yang mencoba mencari kehidupan masa depan dengan membaca referensi-referensi yang kita inginkan.

Tempat kedua yang paling penting lagi berada di lantai 3. Iranian corner. Itulah namanya. Perlu juga diketahui, bahwa perpustakaan UIN Sunan Kalijaga memiliki koneksi dengan 3 negara asing yang membuka ruangan khusus. Ialah Canadian corner, yang berfokus pada naskah-naskah Kanada. Arabian corner, yang semuanya mengupas habis mengenai segala hal yang berkaitan dengan negeri padang pasir. Dan terakhir Iranian corner, sebuah ruangan kecil kira-kira 4×4 meter yang di dalamnya memuat semua buku yang memiliki tema tentang negeri Persia, baik dari segi agama yang menyangkut Syiah, sejarah, maupun budaya dan corak pemerintahannya.

Dari ketiga corner tersebut, Iranian corner menjadi tempat yang paling aku sukai. Kenapa? Karena disinilah tempat aku mengisi daya bagi laptop kesayanganku. Jadi,  tempat pertama yang aku kunjungi jika aku masuk perpustakaan ialah tempat favoritku di lantai 4. Jika kemudian daya baterai laptopku habis, maka aku akan turun ke Iranian corner. Disitulah tempat pengisian daya yang sering kosong. Memang ada colokan listrik di lantai 4 dan di area-area yang lain, tapi sayangnya, seringkali sudah penuh oleh mereka yang memiliki problem yang sama. Tapi anehnya, Iranian corner menjadi pengecualian. Tempat ini jarang mengalami situasi pengguna colokan hingga full. Jadi tempat ini benar-benar membantu sekali.

***

Hari itu seperti biasa, setelah jam kuliah selesai, aku langsung cabut ke perpustakaan. Dan seperti hari-hari sebelumnya, aku menyempatkan diri untuk naik ke lantai 4, tempat favoritku yang dekat AC, untuk mendinginkan suhu tubuh yang panas akibat cuaca Jogja yang tidak bersahabat dengan kondisi tubuhku yang dulunya biasa di pegunungan.

Setelah sekian lama, daya baterai laptopku habis. Dan aku tahu harus melangkah kemana. Iranian corner. Itulah tempat yang sudah ada dipikiranku. Aku turun ke lantai 3 dan masuk ke Iranian corner dengan mengisi buku tamu terlebih dahulu dan menandatangani sebagai bukti data pengunjung.

Aku masuk dan duduk di karpet yang sudah disediakan, dengan membuka sepatu terlebih dahulu. Aku kembali buka laptop dan menyambungkan charger dari laptop ke colokan listrik. Daya listrik masuk ke laptopku. Itu artinya aku masih bisa leluasa internetan dan mengerjakan tugas tanpa harus was-was melihat kondisi baterai.

Kadangkala aku adalah orang yang bersifat konstan. Setiap apapun yang aku lakukan biasanya menjadi budaya dan kebiasaan yang teratur. Kubuka laptopnya, langsung mengaktifkan wifi, masukkan nim dan password, dan gerbang internet-pun terbuka.

Seperti biasanya, aku pantengi laptop seperti halnya anak ABG yang sedang memainkan HP. Fokus dan lupa segalanya. Hingga akhirnya aku menguap, ngantuk dan mata terasa disihir dengan kekuatan magis yang tinggi.

Ketika aku hampir terlelap, aku mencoba menyegarkan tubuhku dengan melambaikan tangan kiriku kesamping, seperti orang yang akan berolahraga untuk meregangkan otot.

Tidak disengaja, tangan kiriku menubruk seorang perempuan yang berada di sisiku yang dari tadi duduk. Dan anehnya, dari tadi pun aku tidak menyadari bahwa sebenarnya disisiku itu sudah ada perempuan itu.

Aku kaget. Dengan spontan aku meminta maaf.

“Maaf mba, tidak sengaja,” ucapku dengan sangat sopan.

“Oh tidak apa-apa mas,” jawabnya dengan nada yang jauh lebih santun.

Ketka aku melihat wajahnya, aku mulai gemetaran. Cantiknya perempuan itu. Matanya indah bagaikan intan permata. Kulitnya putih dan halus bagaikan pasir putih di pinggir pantai. Entah rasa apa yang menyelimuti hati ini. Pandangaan pertama itu membuat aroma yang tak akan pernah terlupa.

“Lagi ngerjain tugas mba?” tanyaku membuka keheningan, karena memang hanya kami berdua yang berada di Iranian corner, ditambah seorang penjaga ibu-ibu yang duduk di kursi kerjanya di depan pintu, sambil memainkan mouse di depan komputer.

“Iya nih mas, ada tugas makalah mata kuliah Hadits Hukum.”

“Semester baru yah?”

“Iya”

“Oh pernah itu. Yang dosennya pak Sadikin kan?”

“iya mas, sama berarti.”

Ternyata kami satu fakultas, dan satu jurusan. Itu membuatku semakin deg-degan. Hanya saja kami terpaut waktu yang cukup panjang, 2 tahun. Dia berada di semester 2, sedangkan diriku sudah di semester 6. Tapi tidak apa-apa. Justru karena itulah, aku membantu menyelesaikan tugas makalahnya. Jauh lebih cepat dari yang dia bayangkan.

Hari-hari berikutnya kami bertemu lagi. Kami ngobrol dan semakin dekat. Kini aku tahu namanya, Sinta. Seorang keturunan Sunda yang cantik dan anggun. Kami bertukar nomer HP dan kami berinteraksi setiap hari.

Ketika dia memiliki tugas, dia memanggilku untuk datang ke perpustakaan dan kami mengerjakannya bersama. Kadangkala ketika aku memiliki tugas, dia pun berada disampingku untuk membantu. Meskipun aku lebih cocok mengerjakan tugas sendiri. Karena mengerjakan tugas dengan dibantu orang lain, justru membuat tugasku makin lama selesai, karena harus ngobrol sana-sini. Tapi entah kenapa, kali ini aku senang. Meskipun aku mengerjakan tugas dengan lama, itu justru membuat hatiku semakin nyaman.

Tiga bulan kami berkomunikasi dan saling membantu mengerjakan tugas. Dari saat itulah rasa hatiku semakin memuncak dan terus memuncak. Mungkin inilah yang dinamakan cinta. Aku takut mengungkapkannya. Tapi teman baikku sendiri ternyata mengetahui permasalahanku. Dia siap membantuku, entahlah aku tidak tahu apa yang hendak ia lakukan.

Dan keesokan harinya, tiba-tiba Sinta tersenyum kepadaku, lalu dia berkata, “Aku juga cinta sama kamu mas.”

“Hah?” awalnya aku tidak mengerti apa yang menjadi alasana dia mengatakannya, meskipun hati ini senangnya bukan main. Tapi ketidak mengertianku lalu terjawab dengan ucapannya.

“Kemarin Rizka, teman baikmu mengatakan hal itu kepadaku.”

Gila, Rizka-Rizka, akan kubunuh kau. Tapi entah mengapa hatiku justru menjadi semakin nyaman. Dan justru entah mengapa Rizka bagaikan seorang pahlawan yang mungkin akan aku agung-agungkan.

Dari kejadian itulah, kami sering bersama ke Iranian corner, yang menjadi tempat pertama pertemuan kami.

 

=====================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat