home OPINI Hakikat Keislaman

Hakikat Keislaman

Di tengah-tengah kehidupan negeri yang jauh akan keadilan, jauh akan kesejahteraan, jauh akan rasa kedamaian dan ketentraman, muncullah penggagas-penggagas dari segelintir umat Islam yang menganggap Demokrasi kita gagal, dan seharusnya-lah berpaling terhadap aturan Islam. Mereka terus menyuarakan sebuah gerakan perubahan total di negeri ini, demi tujuan untuk memperbaiki segala kekurangan yang ada pada saat ini. Mereka beranggapan negeri ini memiliki penganut Muslim terbesar di dunia, dan seharus-nya lah menjunjung tinggi nilai-nilai ke-Islaman.

Tapi entah mengapa, banyak rakyat yang menolak ide mereka. Bukan hanya dari kaum nasionalis dan non-muslim, tapi dari golongan muslim itu sendiri. Apa yang salah? Ini yang akan kita bahas dengan suatu perspektif baru. Cara kita memandang suatu perubahan, dan mencoba menggali trik-trik dakwah yang serasa hilang dari genggaman kita.

Kebanyakan dari kita memiliki sikap dakwah yang buruk. Maksudnya buruk disini, ialah bukan malah menambah keyakinan akan Islam, malah menjauhkannya. Bukan malah membuat orang lain memandang Islam sebagai suatu kebenaran, tapi justru sebaliknya. Mereka berdakwah dengan sikap yang keras. Merasa dirinya memiliki paham yang paling benar. Padahal kebenaran manusia bersifat subjektif, kebenaran Allah-lah yang universal, dan itu tidak bisa diklaim oleh kita, karena kita tidak akan mungkin melihat kebenaran Allah dari satu sudut pandang saja.

Nah orang-orang seperti inilah yang membuat agama ini semakin terpecah belah. Umat Islam yang dulu hanya beberapa golongan, sekarang bertambah banyak tak bisa dihitung. Memang benar, fenomena perpecahan ini sudah di sabdakan oleh Nabi, tapi tentu saja Allah pasti akan memberikan sebab akibat atas semua hal yang terjadi di bumi ini. Mereka mengklaim kebenaran mereka, dan bahkan mencoba menafsirkan setiap ayat dalam al-Qur’an dengan kehendak mereka sendiri. Akibatnya, setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda terhadap satu ayat. Mungkin kalau perbedaan itu di kalangan ulama (para ahli atau pakar), itu tidaklah masalah karena pastinya mereka memiliki argumentasi mereka masing-masing. Tapi kalau perbedaannya di sesama kita, orang-orang yang masih bau kencur, masih tidak tahu mana Islam dan mana yang bukan, ini menjadi masalah. Akhirnya, setiap orang menafsirkan ayat sesuai pemikirannya, dan kemudian membentuk sebuah komunitas baru. Dari komunitas itulah menjadi sebuah gerakan, dan menjadi sebuah aliran.

Kembali kepada pembahasan utama kita. Bahwa sebenarnya, masyarakat Indonesia secara naluri kemanusiaan, tidaklah menolak hukum Islam diterapkan di Indonesia. Bahkan bukan hanya orang Islam, tapi non-Muslim pun secara naluri mereka menerimanya. Apa buktinya? Kenapa saya bisa menyimpulkan hal tersebut?

Saya akan memberikan satu contoh saja. Jika seandainya kita lebih teliti menengok fenomena yang ada, ternyata hampir semua persidangan tentang kasus pembunuhan pasti berujung ricuh. Dipercaya atau tidak, itulah faktanya. Apa yang menyebabkan ini bisa terjadi? Ketika seorang reporter televisi bertanya kepada keluarga korban, si keluarga korban pasti menjawab putusan hakim tidaklah adil. Ketika reporter bertanya lagi, hukuman apa yang pantas untuk terdakwa, dan keluarga korban rata-rata menjawab hukuman mati. Bukan hanya oraang Islam yaang menjawab itu. pernah saya melihat di televisi sidang pembunuhan ricuh dan korbannya adalah seorang Kristiani. Keluarga korban tetap mengatakan hal yang sama, hukuman mati adalah hukuman yang setimpal. Padahal sebenarnya, kita tidak berhak menyalahkan hakim, karena mereka sudah memberikan putusan sesuai dengan hukum yang ada, sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Inilah fenomenanya.

Coba renungkan saja, jika seandainya orang yang paling anda cintai dibunuh (misalnya ibu anda) oleh seseorang dengan kejam, hukum apa yang pantas untuk si pelaku? 20 tahun penjara atau hukuman mati? Jawab dengan jujur  tanpa harus memikirkan ini dan itu. Jadi kesimpulannya, hukuman yang pantas bagi pembunuh yang sadis adalah hukuman mati. Ini contoh sederhana yang bisa saya ambil.

Lalu kemudian, Islam datang dan menyerukan hal yang sama. Seorang pembunuh yang kejam dengan bukti-bukti yang kuat, dapat dihukum mati dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Coba lihat ini. Islam memberikan solusi yang sama atas permasalahan hukum di atas. Tapi mengapa, ketika ada sekelompok orang menyerukan “Tegakkan Hukum Islam”, masyarakat Indonesia menolaknya? Bahkan umat Muslim itu sendiri?

Jawabannya hanyalah penggunaan strategi. Saya sudah katakan sebelumnya, bahwa dalam dakwah saja kita harus memiliki trik atau strategi. Tidak sekeras orang-orang di sekeliling kita yang kadangkala tingkat efisiensi dakwah mereka kurang mmberikan kontribusi terhadap kemajuan agama. Ini bid’ah, ini sesat, yang akhirnya Islam terpecah dan saling bertabrakan antara satu dengan yang lainnya.

Kita butuh trik. Ya, kita butuk strategi. Untuk memunculkan hukum Islam di negeri yang sangat plural ini, kita butuh suatu metode atau cara yang hebat. Kita tentu ingat tentang Piagam Jakarta yang ditolak mentah-mentah oleh saudara kita di timur bukan? Oleh karena itu, kita tidak boleh mengalami kejadian yang sama. Meskipun jumlah non-Muslim dianggap sebagai minoritas, tapi kita juga harus mengakui, ada diantara pahlawan yang membela kemerdekaan negeri ini dari golongan mereka. Mereka tetap harus kita hormati, sebagaimana kita menghormati makhluk Allah yang lainnya.

Dari uraian singkat diatas, dengan sebuah contoh yang mudah-mudahan dapat dipahami, dapat di tarik sebuah kesimpulan yang mendasar, bahwa negeri ini pada hakikatnya menerima segala hal yang datang dari Islam, karena Islam diturunkan dari Rabb Yang Menciptakan manusia, yang tentunya jauh lebih tahu apa saja yang kita butuhkan. Untuk mengaplikasikan beberapa hukum Islam yang sangat adil ini, seharusnya kita tidak membenturkannya dengan tergesa-gesa dan mengenyampingkan sikap sopan-santun yang sudah menjadi bagian dari ciri khas manusia Indonesia. Kita merubah ini semua sedikit demi sedikit.

OK lah misalnya, namanya tetap KUHP, tapi hukum didalamnya sesuai syariat Islam, hukum bagi pembunuh ialah di hukum mati. Ini yang seharusnya kita pikirkan. Daripada kita bersuara dengan lantang, berdemontrasi memacetkan jalan yang justru merugikan rakyat, ternyata hasilnya nol besar. Ada cara lain menuju sebuah perubahan besar tanpa harus dengan gerakan yang besar dan memiliki resiko perpecahan negara, bahkan kita bisa kehilangan banyak pulau hanya karena tindakan bodoh kita.

Saya berikan contoh terakhir, mudah-mudahan dapat membantu. Kota Surabaya merupakan kota yang sudah metropolitan. Kehidupannya bebas. Satu tempat yang paling terkenal yang merupakan pangkalan maksiat, ialah Dolly. Berapa tahun kebelakang, orang-orang kita berdemo ke sana kemari dengan menghancurkan segala fasilitas publik, memacetkan jalan raya, tapi Dolly tetap bertahan. Dan kemarin-kemarin, ketika banyak ulama  menjumpai ibu walikota Surabaya untuk menutup lokalisasi tersebut, akhirnya bisa terwujud. Pesan terakhir saya, tujuan boleh sama, tapi kefektifan meraih suatu garis akhir ditentukan dengan cara atau strategi.

 

======================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat