home Dunia Kegelapan, NOVEL Dunia Kegelapan – Bab II (2)

Dunia Kegelapan – Bab II (2)

Sebelumnya Klik Disini

 

 

Di dalam mitologi manusia, makhluk wendigo di gambarkan sebagai sesosok serigala dengan badan yang tinggi besar, bercakar dan bertaring. Tidak jauh berbeda dengan konsepsi yang menjadi mitos di kalangan manusia, wendigo di dunia kegelapan pun bisa digambarkan seperti itu. Hanya saja, wendigo sebenarnya tidak terlalu mirip dengan serigala secara sempurna, tapi lebih tepat sedikit mirip dengan beruang. Dengan tubuhnya yang besar, sudah sangat jelas bahwa jenis wendigo merupakan penjelmaan beruang di dunia kegelapan.

Mata Thomas terus melotot memberikan aura kebencian.

“Anda mengancam saya pak Thomas? Saya tidak takut!” Al-Kuwail berdiri dan membalas tatapan Thomas.

“Tapi apa yang anda bicarakan sungguhlah gila! Apakah anda membawa kami kesini untuk meminta kerjasama dalam menjalankan misi tersebut?” Lesmunia angkat bicara. Drakula asli Rumania itu menggelengkan kepala, pertanda bahwa apa yang disampaikan Al-Kuwail hanyalah candaan belaka.

“Tidak, lebih tepatnya tidak dengan negara anda. Tapi ya dengan kalian. Saya hanya butuh kerjasama dengan kalian sebagai duta besar di setiap negara untuk memuluskan langkah saya,” Al-Kuwail kembali menjelaskan rencananya. Tetap dengan respon duta besar yang masih dengan tatapan meremehkan.

“Apa yang anda inginkan dari kami yang hanya sebagai duta besar? Ini benar-benar konyol. Kenapa pertemuan ini tidak kita tutup saja!” Cecep si pocong berdiri dan menatap tajam Al-Kuwail.

Seperti tidak mempedulikan tindakan Cecep—duta besar dari Indonesia, Al-Kuwail melanjutkan pembicaraannya, “Semua usaha yang akan kita lakukan sudah saya konsep sedemikian rupa. Kita akan membayar para monster untuk melakukan ini. Nyawa dan nama baik negara tidak boleh kita pertaruhkan untuk menghancurkan kekaisaran Iblis yang sangat kuat itu. Saya tahu kegelisahan kalian semua. Saya yakin ada diantara negara-negara disini yang masih menaruh dendam terhadap Iblis yang menerima perdamaian dari bangsa penyihir, meskipun secara sembunyi-sembunyi. Saya tahu itu.”

“Apa para monster siap dengan tawaran anda?” Tanya seorang duta yang sudah tidak aneh lagi, Kong Fa Chu, dari kerajaan Tiongkok. Tiongkok memang negara yang sangat dirugikan dari pertempuran bangsa penyihir dengan bangsa setan. Mengapa tidak, banyak warga Tiongkok yang dijadikan budak di dunia penyihir. Dan Tiongkok juga menjadi salah satu negara terdepan yang menghalau serangan bangsa penyihir. Tidak sedikit pasukan Tiongkok yang gugur di medan perang.

“Apa kalian benar-benar ingin melakukan ini? Benar-benar gila!” Cecep kembali duduk. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena duta besar ke-11 negara yang lain tidak ada yang mendukung tindakannya. Mau tidak mau, dia duduk kembali. Dia ingin mendengarkan ide konyol selanjutnya yang disampaikan oleh Al-Kuwail.

“Anda meremehkan cara saya bernegosiasi rupanya mister vampir China,” nada Al-Kuwail sinis. “Saya sudah merencanakan semuanya dengan matang. Saya hanya butuh dukungan materiil dari ke-12 negara yang saya undang saat ini. Saya hanya meminta persetujuan kalian sebagai sekutu kami, yang merupakan negara-negara terkaya di dunia. Emas, itu yang saya butuhkan. Bukan tentara. Bukan raja kalian. Saya hanya butuh dana. Kalian sebagai duta besar, tentu tahu kelemahan birokrasi negara-negara kalian. Itu yang harus kalian manfaatkan untuk bekerjasama dengan saya. Kerjasama ini bersifat memaksa. Jika kalian menolak, silahkan saja keluar dari sini, tapi saya tidak akan menjamin keselamatan kalian.”

“Anda mengancam kami Al-Kuwail?” tegas duta besar yang merupakan keturunan Guaricana, asli Brazil, Ronald. Dari tadi dia hanya diam mendengarkan pembicaraan. Tapi saat ini dia tidak ingin diancam. Brazil salah satu kerajaan besar yang bahkan di atas kertas, lebih kuat dari Saudi. Sejenis setan bertudung tanpa tanduk dengan dua sayap seperti Pasukan Bersayap Putih ini meremehkan rencana Al-Kuwail.

“Hah, pertanyaan konyol macam apa ini?” geram Al-Kuwail.

“Perlu kalian ketahui,” lanjutnya, “12 negara yang saat ini saya undang, sudah saya pasang dengan kekuatan Lindania. Jika kalian tidak menuruti perintah kami, negara kalian akan hancur lebur di sedot oleh hisapan neraka.”

“Anda gila Al-Kuwail?  Apa kami akan percaya omong kosongmu itu hah?” pertanyaan tak sopan itu keluar dari Lesmunia.

“Jika kalian tidak percaya, akan aku tunjukkan. Petunjukkan yang akan kalian saksikan, akan sangat membekas dalam sanu bari kalian.”

Al-Kuwail kemudian mendekati sebuah meja yang dari tadi berdiri di depan jendela aula. Meja tanpa kursi itu sejajar dengan kursi Al-Kuwail, hanya saja meja tersebut berada di pinggir ruangan, dekat dengan jendela mistis yang hanya bisa dilihat dari dalam keluar ruangan, tidak akan bisa dilihat dari luar ke dalam.

Meja tersebut merupakan meja dengan imajinasi teknologi yang sangat tinggi. Meja dengan kemiringan 90 derajat itu terdiri setidaknya lebih dari lima belas tombol. Ada tombol yang besar, kecil, dan semuanya disusun dengan susunan yang biasa didapati dalam tombol-tombol di dunia manusia. Susunan yang rapi. Tombol-tombol tersebut berbentuk persegi, dan ada pula yang persegi panjang. Hanya satu yang berbentuk lingkaran, itulah tombol yang paling besar.

Kemudian Al-Kuwail menekan sebuah tombol dalam meja tersebut, ya tombol lingkaran yang besar itu, dan muncul-lah sebuah perangkat komputer dengan kecanggihan empat dimensi di atas meja tersebut. Susunan layar komputer yang biasa dilihat manusia dalam film-film fiksi ilmiah  di abad ke-21. Sebenarnya apa yang dianggap manusia di abad 21 sebagai hal yang fiksi, nyatanya di tahun ini, 3193, hal tersebut benar-benar nyata. Manusia mewujudkan mimpi itu. Dan sekarang teknologi tersebut diadopsi oleh dunia kegelapan. Kemudian Al-Kuwail menekan sebuah tombol berwarna merah, dan monitor di aula-pun menyala.

 

 

====================

Ditulis oleh : @idikms

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat