home Dunia Kegelapan, NOVEL Dunia Kegelapan – Bab II (1)

Dunia Kegelapan – Bab II (1)

Sebelumnya Klik Disini

 

 

Bagian 2

 

“Apa gerangan Yang Mulia Ifrit mengundang saya dalam jamuan ini?” tanya Lesmunia, sesosok duta besar kerajaan Drakula di Rumania untuk Saudi.

“Oh tentu saja,” jawab Al-Kuwail dengan tanggap. “Pertanyaan ini akan ada dalam pembukaan pertemuan kita.”

“Perlu saudara-saudara ketahui,” lanjut Al-Kuwail sambil menatap tajam setiap duta besar yang hadir, “kejadian delapan belas tahun yang telah lewat, masih menyisakan trauma bagi negeri kami.”

“Lantas apa yang membawa kami berkumpul di sini Yang Mulia?” Tanya Kong Fa Chu, salah satu duta besar yang diundang oleh Al-Kuwail, duduk di deretan paling pojok di sebelah kanan Al-Kuwail. Dari nama yang di dengar, sudah sangat jelas, ras mana setan yang bertanya ini. Ya tentu saja, vampir China. Kong Fa Chu merupakan duta besar negara Tiongkok untuk Saudi.

“Agak aneh memang saya harus menyampaikan ini,” Al-Kuwail duduk di kursi singgasana ruangan tersebut. Sebuah ruangan yang ditata seperti aula di sekolah-sekolah. Ruangan segi empat dengan panjang sekitar dua puluh meter dan lebar sepuluh meter ini memberikan seni arsitektur ala Saudi tempo dulu. Dengan penerangan sepuluh buah api, lima di sebelah kiri dan lima buah lagi di sebelah kanan. Tentu saja sebuah api ini hanyalah rekaan arsitektur. Karena dunia kegelapan sudah mengenal listrik. Ilmu yang diturunkan dari dunia manusia ini berhasil di modifikasi menjadi bagian dari ilmu pengetahuan bangsa setan. Api yang muncul merupakan sambungan listrik yang di colok ke stop kontak di dekatnya. Ini lah modifikasi pengetahuan bangsa manusia yang dikembangkan di dunia kegelapan. Setiap penerangan yang menggunakan listrik, mereka sambungkan dengan lampu obor. Atau di beberapa negara, menggunakan lampu bola ramal, dan ada pula yang menggunakan tongkat dengan gambar setan di atasnya, dan dari kedua mata setan tersebut memunculkan cahaya listrik.

Kesan angker bagi golongan manusia mungkin akan sangat kentara. Ruangan remang-remang dengan penerangan lampu obor yang sengaja di buat tidak se-cerah matahari. Bangsa setan adalah bangsa yang tidak terlalu menyukai cahaya dalam intensitas yang sangat tinggi. Di tambah pula, matahari merupakan musuh utama bangsa setan di dunia kegelapan.

Ruangan aula pertemuan rapat tersebut berada di pinggir sebelah kiri kerajaan Saudi. Ruangan yang memang di tujukan untuk rapat-rapat tertutup. 12 duta besar yang diundang oleh Al-Kuwail duduk dengan rapi di kursinya masing-masing. Dilengkapi dengan meja panjang yang menyediakan makanan serta minuman khas bangsa setan. Ada darah, nanah, daging babi, dan beberapa daging manusia yang diambil dari mayat manusia.

Ada empat baris dalam pertemuan tersebut. Satu baris diduduki oleh tiga duta besar. Sementara Al-Kuwail yang merupakan pemimpin rapat, duduk di depan ke-12 duta besar. Dia duduk di kursi yang paling megah diantara kursi yang berada di sana. Kursi kerajaan dengan bentuk seperti kursi-kursi kerajaan di zaman mesir kuno. Tanpa adanya meja. Al-Kuwail yang memiliki kharisma dan wibawa yang sangat tinggi, duduk dengan santai serta memberikan tatapan yang mengancam.

Duduk di barisan pertama di depan Al-Kuwail sebelah kiri, terlihat dengan gagah, Lesmunia, seorang setan drakula yang merupakan duta besar Rumania untuk Saudi. Sedangkan di sebelah kanannya, merupakan  perwakilan setan dari Tiongkok, Kong Fa Chu. Sedangkan di tengahnya, ialah Cecep, setan pocong yang merupakan wakil dari kerajaan Indonesia, negeri kepulauan yang sangat melegenda. Pocong ini sangat gagah dengan balutan cahaya menyembur dari dada ke permukaan wajahnya. Cahaya merah itu memberikan wibawa kesetanan.

“Saya berdiri disini untuk meminta kerjasama dengan kalian semua. Kerjasama yang mungkin sangat gila dalam ukuran setan-setan seperti kalian. Tapi tidak untuk saya. Hal ini merupakan hal yang wajib untuk dituntaskan!” nada keras yang meraung-raung itu keluar dari mulut Al-Kuwail. Nada dengan intonasi yang tinggi tersebut membuat siapapun manusia di alam manusia akan lari terbirit-birit.

“Apa kerjasama yang hendak Yang Mulia tawarkan kepada negara kami, Tuan?”, Cecep membuka mulutnya dengan intonasi datar, tapi tanpa mengurangi wibawa kesetanannya.

“Saya berniat melakukan makar terhadap kekaisaran Iblis,” Al-Kuwail menjawab pertanyaan duta besar Indonesia itu dengan nada yang rileks, namun penuh dengan nada kelicikan.

Mendengar jawaban itu, seluruh duta besar yang hadir saling tatap antara satu dengan yang lainnya. Antara tidak percaya, dan bagaikan mendengar ide yang sangat konyol. Bagaimana tidak, negeri manapun di dunia kegelapan, sehebat apapun itu, tentu saja tidak akan mungkin memiliki ide konyol semacam ini. Kerajaan Indonesia dan Jerman saja yang dalam ukuran militer dan teknologi jauh lebih maju dari Saudi, tidak memiliki niat sama sekali untuk melakukan hal gila semacam itu. Kerajaan Amerika Serikat yang sering memenangkan pertempuran di zaman dahulu, tetap saja sangat was-was dengan ide gila Al-Kuwail. Bagaimana mungkin, sebuah kerajaan sebesar Saudi, yang bahkan masih kalah dengan beberapa negara dalam bidang militer ini bisa mencetuskan hal itu. Hal yang sebenarnya sangat mustahil dilakukan. Kalaupun memang berani berperang, itu akan menjadi bumerang bagi kerajaan Saudi sendiri. Belum lagi, setiap raja di 12 negara yang di undang oleh Al-Kuwail, besar kemungkinan untuk menolak membantu negeri gurun pasir ini. Tidak mungkin sama sekali sebuah negara Saudi dapat mengalahkan tujuh kekaisaran Iblis di seluruh dunia.

“Anda gila Al-Kuwail?” Thomas mengeluarkan pertanyaan kerasnya. Duta besar yang merupakan setan ras wendigo ini merupakan duta besar perwakilan Amerika Serikat yang duduk di barisan paling belakang sebelah kiri. Dia duduk dengan sangat gagah berani.

 

 

===============

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat