home ANALISIS, Keagamaan Diskursus Akidah Sunni dan Wahabi (Allah Ada Tanpa Arah dan Tempat)

Diskursus Akidah Sunni dan Wahabi (Allah Ada Tanpa Arah dan Tempat)

Perdebatan atau diskursus keagamaan yang terjadi pada page Aqidah Ahlussunah: Allah Ada  Tanpa  Tempat  merupakan  diskursus  yang  terjadi diantara dua paham yang berbeda dalam Islam, yaitu paham Ahlussunah dan Wahabi. Paham Ahlussunah dan Wahabi merupakan sebagian dari ragam aliran yang ada dalam Islam. Pertentangan diantara keduanya cukup tajam dan banyak mewarnai diskursus keagamaan di media sosial. Selain itu, aliran  Ahlussunah  merupakan  kelompok  mayoritas  dalam  Islam  dengan ajaran dan pengaruhnya yang cukup luas dan kuat sampai dengan saat ini.

Sementara Wahabi dapat dikatakan sebagai aliran kontemporer yang muncul untuk  memberikan  perlawanan  terhadap  kemapanan  ajaran  Sunni  dengan jargon “pemurnian tauhid”nya. Oleh karena itu, perdebatan diantara kedua kelompok tersebut yang mengemuka dalam ruang maya menjadi sesuatu yang menarik  untuk  dapat  dicermati  dan  dipahami  sebagai  suatu  upaya  untuk memahami dinamika agama dalam masyarakat kontemporer.

Beragam  persoalan  mengemuka  dalam  perdebatan  diantara  paham Ahlussunah dan Wahabi untuk menunjukkan kebenaran dari sisi pemahaman masing-masing.  Dalam  diskursus  yang  terjadi  melalui  page  Aqidah Ahlussunah: Allah Ada  Tanpa  Tempat  terdapat  beragam  persoalan  yang mengemuka, tabel berikut menunjukkan ragam isu yang kerapkali diangkat dan mengundang perdebatan diantara mereka yang berbeda paham:

  1. Ahlussunnah Memperbolehkan ziarah kubur, Wahabi Menolak ziarah kubur;
  2. Ahlussunnah Memperbolehkan tawassul, Wahabi Menolak tawasssul;
  3. Ahlussunnah Memperbolehkan penggunaan tasbih, Wahabi Menolak penggunaan tasbih;
  4. Ahlussunnah Memperbolehkan tabarruk, Wahabi Menolak tabarruk;
  5. Ahlussunnah Memperbolehkan perayaan keislaman  seperti  Maulid  Nabi, Nuzulul  Qur’an,  Isra’  Mi’raj,  dan lain sebagainya, Wahabi Menolak perayaan keislaman;
  6. Ahlussunnah Memperbolehkan tahlil, Wahabi Menolak tahlil;
  7. Ahlussunnah Menerima ta’wil  ayat-ayat mutasyabihat,  misalnya  dalam penafsiran  mengenai  keberadaan Tuhan, Wahabi Menolak  ta’wil ayat-ayat mutasyabihat
  8. Ahlussunnah Menolak pembagian  tiga  macam tauhid (asma’ wa sifat,  uluhiyah, rububiyah), Wahabi Meyakini  pembagian  tiga macam tauhid (asma’ wa sifat, uluhiyah, rububiyah).

 

Persoalan-persoalan  tersebut  adalah  persoalan  yang  kerapkali mengemuka dalam  perdebatan  antara Ahlussunah  dan Wahabi dalam berbagai kesempatan.

Eksistensi  Tuhan  yang  menyangkut  keberadaan  dan  Dzat  Tuhan adalah  fokus  utama  permasalahan,  dimana  akar  permasalahannya  terletak pada perbedaan penafsiran terhadap ayat Al Qur’an. Sebagaimana yang terjadi dalam penafsiran dan pemahaman terhadap QS Thaha ayat 5 yang berbunyi:

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas’Arsy”

Kelompok Ahlussunah cenderung untuk tidak memaknai ayat tersebut secara harfiah. Ayat tersebut ditafsirkan dengan cara ta’wil, yaitu menafsirkan ayat tersebut bukan menurut asal arti dari perkataan. Ta’wil dilakukan karena ayat  tersebut  digolongkan  ke  dalam  kategori  ayat  mutasyabihat.

Para ulama Salaf tidak banyak menggeluti pentakwilan ayat ini dengan  menentukan  makna  tertentu  baginya.  Mereka  hanya mengatakan bahwa makna “istawa” dalam ayat tersebut adalah makna  yang  sesuai  bagi  keagungan Allah,  dengan  meyakini kesucian-Nya dari menyerupai sifat-sifat makhluk. Para ulama Salaf  sepakat  dalam  menafikan  sifat-sifat  benda  dari Allah. Firman Allah dalam QS. Thaha: 5 tersebut di atas tidak boleh dipahami bahwa Allah bertempat, duduk, atau bersemayam di atas arsy. Karena arsy adalah makhluk Allah, dan  Allah  mustahil  membutuhkan  kepada  makhluk-Nya. Sebelum menciptakan arsy; Allah ada tanpa arsy, demikian pula setelah menciptakan arsy Dia ada tanpa arsy. Tetapi makna“Istawa” dalam ayat tersebut adalah “Yang Maha Menguasai”.

Menurut Bryan S. Turner (2006;170) bahwa dalam tradisi Islam kitab suci  dan  hukum  sebagaimana  yang  diinterpretasikan  oleh  para  ulama membentuk  pusat  ortodoksi  praktek  dan  keyakinan  yang  selanjutnya menyatukan  umat  ke  dalam  satu  komuni  yang  memiliki  signifikansi teleologis. Yang menjadi persoalan kemudian adalah ketika terjadi ragam interpretasi terhadap kitab suci dan hukum oleh banyak ulama yang dianut, maka  konsekuensinya  yang  terjadi  adalah  bukannya  penyatuan  umat, melainkan  perpecahan  umat  ke  dalam  sekte-sekte  yang  berbeda  dengan kebenarannya  masing-masing  sebagaimana  dapat  terbaca  pada  perdebatan yang terjadi di antara kelompok Ahlussunnah dan Wahabi diatas.

Selanjutnya,  permasalahan  tauhid  yang  juga  menjadi  perselisihan diantara paham Ahlussunah dan Wahabi adalah mengenai pembagian tiga macam  tauhid  menjadi  tauhid  asma’  wa  sifat,  tauhid  uluhiyyah,  tauhid rububiyyah.

Pendapat  kaum  Wahabi  yang  membagi  tauhid  kepada  tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid alAsmâ’  Wa  ash-Shifât  adalah  bid’ah  batil  yan  menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para  ulama  Salaf  atau  seorang  ulama  saja  yang  kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut.  Pembagian  tauhid  kepada  tiga  bagian  ini  adalah pendapat  ekstrim  dari  kaum  Musyabbihah  masa  sekarang; mereka  mengaku  datang  untuk  memberantas  bid’ah  namun sebenarnya  mereka  adalah  orang-orang  yang  membawa bid’ah.

Pembagian  tauhid  kedalam  tiga  bagian  merupakan  sesuatu  yang tertolak. Hal ini dikuatkan dengan dalil-dalil  agama  berupa  hadits  Nabi  sebagai  penguat  argumentasinya tersebut, antara lain yaitu:

“Aku  diperintah  untuk  memerangi  manusia  hingga  mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darang-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).”

Hadits tersebut ditafsiri sebagai dasar yang menunjukkan tidak adanya pembagian  tiga  macam  tauhid  sebagaimana  yang  diyakini  oleh  Wahabi. Penafsiran tersebut dapat terlihat dari catatan berikut ini:

Dalam hadits ini Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian,  beliau  tidak  mengatakan  bahwa  seorang  yang mengucapkan  “Lâ  Ilâha  Illallâh”  saja  tidak  cukup  untuk dihukumi masuk Islam,  tetapi juga harus mengucapkan  “Lâ Rabba Illallâh”. Tetapi makna hadits ialah bahwa seseorang dengan  hanya  bersaksi  dengan  mengucapkan  “Lâ  Ilâha Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini telah masuk dalam agama Islam.

Selanjutnya, perdebatan yang ada tidak hanya berputar pada persoalan aqidah,  melainkan  juga  pada  praktek  bid’ah.  Dengan  doktrin  pemurnian tauhidnya, Wahabi cenderung keras dalam memahami agama sebagaimana yang  terbaca  dalam  sejarahnya.  Kritik  keras  Wahabi  terhadap  kelompok Ahlussunah  adalah  mengenai  praktek  ziarah  kubur,  tabarruk,  tawassul, perayaan keislaman seperti maulidnabi, dan hal-hal semacamnya yang oleh aliran Wahabi dikategorikan sebagai perilaku  bid’ah. Pengertian  bid’ah itu sendiri, diantara kelompok Ahlussunah dan Wahabi memiliki perbedaan.

Dalam  pengertian  syari’at,  bid’ah  adalah Sesuatu yang baru yang tidak terdapat penyebutannya secara tertulis,  baik  di  dalam  al-Qur’an  maupun  dalam  hadits. (Sharih al-Bayan, j. 1, h. 278).

Bid’ah terbagi menjadi dua bagian:

Pertama: Bid’ah Dlalalah. Disebut pula dengan Bid’ah Sayyiah atau Sunnah Sayyi-ah. Yaitu perkara baru yang menyalahi al-Qur’an  dan  Sunnah.

Kedua: Bid’ah Huda atau disebut juga dengan Bid’ah Hasanah atau  Sunnah  Hasanah.  Yaitu  perkara  baru  yang  sesuai  dan sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam pengertian tersebut di atas, beberapa perbuatan digolongkan sebagai  bid’ah  hasanah,  yaitu  bid’ah  yang  masih  dapat  ditolerir  karena kesesuaiannya dengan rujukan utama Al Qur’an dan Sunnah. Contoh-contoh dari  bid’ah hasanah tersebut adalah:

  1. Penambahan Adzan  Pertama  sebelum  shalat  Jum’at  oleh sahabat  Utsman  bin  ‘Affan.
  2. Pembuatan titik-titik  dalam beberapa  huruf  al-Qur’an  oleh  Yahya  ibn  Ya’mur.
  3. Pembuatan Mihrab  dalam  majid  sebagai  tempat  shalat Imam.
  4. Peringatan Maulid Nabi.
  5. Membaca shalawat atas Rasulullah setelah
  6. Menulis kalimat  “Shallallahu ‘Alayhi  Wa  Sallam”  setelah  menulis  nama
  7. Beberapa Tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang-orang saleh.

Sementara untuk bid’ah sayyi’ah dicontohkan sebagai berikut:

  1. Bid’ah-bid’ah dalam  masalah  pokok-pokok  agama (Ushuluddin),  di  antaranya  seperti: Bid’ah Pengingkaran terhadap ketentuan (Qadar) Allah, Bid’ah Jahmiyyah…setiap hamba tidak memiliki kehendak sama sekali ketika melakukan segala perbuatannya, Bid’ah kaum Khawarij.  Mereka  mengkafirkan  orang-orang  mukmin  yang melakukan  dosa  besar,  Bid’ah  sesat  yang  mengharamkan dan mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para nabi atau dengan orang-orang saleh setelah para nabi atau orangorang  saleh  tersebut
  2. Bid’ah-bid’ah ‘Amaliyyah yang buruk.

Akhirnya,  dapat  terbaca  bahwa  kedua  persoalan  tersebut,  yaitu persoalan  tauhid  dan  bid’ah adalah  persoalan  yang  mendominasi  dalam pertentangan di antara aliran Ahlussunnah dan Wahabi. Dimana pertentangan tersebut lebih banyak disebabkan oleh perbedaan penafsiran dan pemahaman dalam  agama.  Namun  demikian,  konfrontasi  atau  pertentangan  yang  ada menjadi semakin tajam karena perbedaan tersebut dikatakan telah masuk ke dalam ranah keyakinan atau keimanan dalam beragama, dimana dalam ranah tersebut yang ada hanyalah dua hal, yaitu “hitam” atau “putih”.

 

 

=============================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat