home OPINI Dinamika Liberalisme Universitas Islam

Dinamika Liberalisme Universitas Islam

Saat tulisan ini dibuat, penulis masih terdaftar sebagai mahasiswa aktif di salah satu Universitas Islam Negeri di Indonesia. Sesuai dengan nama almamaternya, UIN adalah kampus yang memiliki banyak program studi keislaman, tersebar di berbagai macam fakultas. Hal yang pasti ada di setiap universitas Islam, tentu saja fakultas Tarbiyah, Syariah, Adab, Dakwah, dan Ushuluddin. Bagi penulis, 5 fakultas ini merupakan fakultas penopang universitas Islam.

Seiring perkembangan zaman, keilmuan di kampus-kampus UIN selalu mengalami dinamika perubahan yang sangat cepat. Arus globalisasi dan perkembangan IPTEK memberikan implikasi terhadap daya pemikiran di kampus-kampus Islam. Terjadinya disintegrasi antara ijtihad usang dengan realitas sosial, membuat kampus-kampus Islam memunculkan ide-ide pembaharu (tajdid) dalam berbagai hal. Upaya-upaya penggabungan dua ajaran (keislaman dan peradaban) selalu dikultuskan oleh setiap pendidik dan pengajar di universitas Islam. Upaya ini teramat sistematis, dan memiliki pendukung di internal mahasiswa. Seiring perkembangan zaman, mungkin upaya pembaharuan (tajdid) ini dinisbatkan kepada keberhasilan al-Ghazali yang sanggup mengintegrasikan antara fikih dan tasawuf, antara agama dan filsafat. Bagi UIN, al-Ghazali kontemporer harus muncul untuk membimbing umat Islam di Indonesia yang “dianggap” masih jumud.

Namun dari pada itu, sebagai mahasiswa UIN, tuduhan-tuduhan miring di masyarakat terhadap gebrakan ini tidak bisa lagi disembunyikan. Bagi masyarakat, UIN sudah seperti sarang laba-laba yang sangat berbahaya bagi keutuhan akidah keislaman di masyarakat. Tengok saja, acara-acara pengajian di Yogyakarta misalnya, lebih banyak diisi oleh ustadz-ustadz lulusan fakultas peternakan UGM. Ustadz yang biasanya hanya hafal juz Amma’ itu lebih diakui eksistensinya oleh masyarakat ketimbang mahasiswa “jurusan” Islam itu sendiri.

Realitas sosial semacam ini tampak buta di permukaan UIN, baik dari pihak kampus maupun dari pihak mahasiswa. Citra buruk ini seolah-olah lahir dari segelintir masyarakat kecil sehingga tidak ada upaya untuk memperbaiki pandangan negatif ini.

Penulis secara pribadi tidak terlalu mempersoalkan dinamika keilmuan di kampus UIN yang sudah sangat maju ketimbang kampus-kampus umum. Jika mahasiswa-mahasiswa UGM yang sok ‘alim itu masih berdebat tentang perayaan maulid misalnya, UIN sudah sampai pada tingkatan pluralisme, liberalisme, dan feminisme. Dalam masalah agama, perkembangan keilmuan di UIN tak bisa disejajarkan dengan kampus-kampus umum. UIN sudah sepantasnya berjuang memperbaharui suatu paradigma yang sudah terbelakang dan tidak cocok dengan keinginan dan kondisi zaman.

Namun juga, memperbaiki citra negatif di masyarakat yang masih menganggap UIN sebagai kampus liberal tentu harus diupayakan bersama. Liberalisme di UIN hanyalah bagian dari tuntutan keilmuan, bukan sesuatu hal yang harus dipaksakan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir, ide-ide gila di internal UIN dapat mencemari keyakinan masyarakat. Itu yang seharusnya di lakukan.

Jika masyarakat belum sanggup menerima suatu terobosan baru ala Muktazilah ini, biarkan kita tetap berdamai bersama masyarakat dengan tidak terlalu sering mengekspos perdebatan-perdebatan dalam bidang keislaman. Kajian-kajian Islam kontemporer ini biarlah menjadi makanan hangat bagi mahasiswa UIN, tidak untuk konsumsi masyarakat luas. Kita harus sadar, seberapa-pun tingginya ilmu kita, ujung sumbunya tetap akan kembali ke tengah-tengah masyarakat.

 

 

=======================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

 

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat