home NOVEL, Restrayer Bab IV – Mengenal Medan (3)

Bab IV – Mengenal Medan (3)

Sebelumnya Klik Disini

 

Berbeda dengan wilayah Kuningan yang terbagi menjadi tiga wilayah kekuasaan, Majalengka justru berpaham tunggal. Hanya satu geng yang berkuasa, yaitu Bomber Api.

Seluruh wilayah kabupaten Majalengka hanya dikuasai satu geng. Meskipun banyak geng-geng kecil, tapi semuanya tak bersuara. Geng-geng kecil itu tahu ada induk geng di Majalengka yang tidak bisa dilawan dengan mudah. Karena itulah, Bomber Api tidak memiliki musuh di dalam wilayah Majalengka. Tak heran, Bomber Api selalu membuat onar di berbagai wilayah lain. Mereka menyerang geng-geng Kuningan—kecuali Gandasius yang memiliki perjanjian damai, melawan geng-geng Cirebon, Indramayu, Ciamis, Tasikmalaya, termasuk Sumedang dan Bandung. Bomber Api adalah kelompok yang besar. Berani bertandang ke kandang musuh. Berani menghadapi berbagai jenis gangster.

Dua musuh yang berasal dari Kuningan, yaitu Balistik dan Arwah Hitam. Walau begitu, Balistik dan Arwah Hitam tidak bersatu untuk menghancurkan Bomber Api. Keduanya berjalan di jalan yang berbeda. Bomber Api memahami situasi ini, mereka mengetahui perjanjian diantara ketiga gangster di Kuningan yang melahirkan ‘Solidaritas Kuningan’. Mereka tahu arah politik anak-anak jalanan.

Andaikan ingin menyerang ke Kuningan, Bomber Api akan berpisah menjadi dua kubu, satu kubu melintasi wilayah kabupaten Kuningan sebelah utara untuk bertemu Arwah Hitam, dan satunya lagi menuju ke wilayah timur Kuningan untuk bertemu langsung dengan Balistik. Di tengah malam, mereka membuat onar di Kuningan. Beberapa jalanan selalu menjadi ajang pertemuan Bomber Api dengan kedua penguasa Kuningan.

Bomber Api memiliki bendera kebanggaan berwarna merah, kuning, merah, disusun secara horizontal. Sesuai dengan nama gangster mereka, Api, memiliki warna merah yang dominan.

Simbol paling agung bagi kelompok Bomber Api ini adalah kalajengking. Makhluk kecil yang mematikan ini membuat banyak orang ketakutan. Gambar kalajengking memiliki banyak legenda yang penuh dengan nuansa darah. Haus akan darah. Haus akan kekuasaan. Haus akan pembunuhan.

 

Gambar 1.7. Bendera Bomber Api

 

Gambar 1.8. Logo Bomber Api

 

 

Lain di Kuningan dan Majalengka, lain pula di Cirebon. Bahkan dari tiga wilayah ini—Kuningan, Majalengka, dan Cirebon—Cirebon lah yang paling mematikan. Komplotannya tak pandang bulu. Tak pandang musuh. Semuanya dihabisi. Entah kuat, entah lemah, mereka terus menerus mencari musuh.

Cirebon pun menjadi surga bagi kehidupan jalanan. Bayangkan saja, wilayah yang sebenarnya lebih kecil dari kabupaten Kuningan ini memiliki jumlah gangster terbanyak di Jawa Barat, bahkan di Indonesia.

Cirebon memiliki sekitar dua belas geng jalanan, yang semuanya memiliki kekuatan dan komposisi yang sama hebatnya. Komplotan Cirebon terkenal jauh lebih sadis dari geng-geng manapun di Jawa Barat. Setiap geng saling bermusuhan. Dalam kamus geng-geng Cirebon, perdamaian hanyalah mitos.

Tapi sekitar tujuh tahun yang lalu, ada beberapa insiden di Cirebon yang mengakibatkan adanya persekutuan atau aliansi dari ke dua belas gangster di Cirebon. Pada waktu itu, Cirebon sedang giat-giatnya membuka investasi bebas. Seluruh uang berjumlah besar serasa mengobrak-abrik kota Cirebon. Gedung-gedung di didirikan. Mall-mall memanjakan warga Cirebon.

Dari dua belas gangster Cirebon, terjadi dua aliansi, satu aliansi hanya terdiri dari dua gangster, sedangkan sepuluh geng lainnya berada di aliansi yang lain. Walau begitu, dua gangster dapat mengimbangi kekuatan sepuluh gangster. Kekuatan yang dimaksud, tentu saja dalam masalah bisnis. Karena satu dari dua gangster tersebut memiliki basis di Cirebon kota. Itu artinya, banyak bisnis yang mereka handle.

Dua geng tersebut benar-benar terkenal paling kejam. Selalu mencari-cari masalah. Setiap kelompok manapun yang bertemu dengan  mereka di tengah malam, entah itu geng, klub motor biasa, atau bahkan ormas, semuanya di libas. Tak pandang bulu.

Keduanya adalah Artex dan Viradron. Kedua geng ini yang paling terkenal diantara sepuluh yang lainnya. Tapi bukan berarti keduanya merupakan pemimpin atau penguasa jalanan di Cirebon. Sepuluh geng jalanan yang lainnya sama sekali tidak mengenal rasa takut walau berurusan dengan Artex dan Viradron. Tapi kesadisan dan pengalaman kedua geng ini di jalanan lebih tinggi dari yang lainnya.

Dua belas geng motor di Cirebon merupakan geng-geng besar. Mereka memiliki jumlah yang sangat banyak, walau wilayah daerah mereka sangat kecil, hanya mencakup beberapa kecamatan saja, tapi kuantitasnya sangatlah besar. Entahlah, mungkin anak-anak Cirebon terobsesi sekali untuk bergabung di geng jalanan. Disamping juga, penduduk Cirebon lebih banyak daripada penduduk Kuningan dan Majalengka.

Tapi meskipun terkenal sadis, geng-geng motor di Cirebon sudah tahu resiko yang dihadapi. Saling bermusuhan dengan yang lainnya, hidup tanpa teman, tentu akan mempersempit gerak-gerik mereka. Itulah mengapa, di Cirebon terkesan jarang anak-anak geng konvoi di jalanan Cirebon. Mereka lebih suka berdiam diri di markas masing-masing. Kadang kala berkonvoi dengan menggunakan baju bebas, tanpa menggunakan atribut gangster mereka. Semuanya sudah tahu akan hal ini. Walau kadang suatu malam—maksimal satu minggu dua kali—selalu saja ada geng yang keluar menguasai jalanan lebih dari jam satu malam. Mereka hanya konvoi dan mencari kepuasan, seolah-olah mereka lah penguasa Cirebon.

Tak jarang juga, anggota-anggota geng di Cirebon lebih suka berjalan sendiri-sendiri, atau dalam koloni yang lebih kecil, lima motor misalnya. Kemudian mereka mencari mangsa untuk dijarah. Maka sebenarnya, tindakan penjarahan di malam hari atau lebih terkenal dengan sebutan begal lebih sering terjadi daripada perang geng. Andaikan terjadi perang geng, salah satu kubunya pasti berasal dari luar, dari Kuningan, Majalengka atau Indramayu. Tapi perlu di catat, sekalinya di Cirebon terjadi perang geng, korban yang berjatuhan tak akan tanggung!

Membicarakan dua geng tersadis di Cirebon, yaitu Artex dan Viradron, merupakan topik yang paling penting. Hampir semua sindikat dan mafia-mafia besar, selalu bersekongkol dengan mereka. Karena Artex dan Viradron memiliki banyak akses dan link di pemerintahan. Hal ini tidak terlepas dari aliansi mereka tujuh tahun yang lalu (tepatnya tahun 1992).

Dimulai dari Artex. Artex adalah sebuah geng di Cirebon yang memiliki basis di wilayah Cirebon kota. Mereka menguasai banyak tempat-tempat penting di Cirebon, termasuk terminal dan stasiun. Mereka terkenal sangat sadis. Jika kebetulan mereka sedang memiliki keinginan untuk mengadakan konvoi di malam hari, kemudian mereka bertemu dengan rombongan konvoi lain, walau konvoi itu bukan anak-anak geng, mereka akan menyerangnya. Pernah terjadi, sebuah klub motor biasa, harus berhadapan dengan geng ini. Walau tidak ada yang mati, tapi banyak yang masuk rumah sakit, tak sedikit dari mereka yang lukanya sangat parah.

Artex ini memiliki bendera kebanggaan berwarna hitam dan putih, di susun dan di pisahkan dengan garis diagonal. Warna hitam berada di bagian segitiga atas, sedangkan warna putih berada di bagian segitiga bawahnya.

Geng ini memiliki simbol kebesaran yaitu burung elang, yang merupakan penguasa udara. Tidak heran, dengan reputasi mereka, elang cukup untuk menggambarkan ambisi geng ini dalam menumpas geng-geng lainnya.

 

Gambar 1.9. Bendera Artex

 

Gambar 2.1. Lambang Artex

 

 

Lain lagi dengan Viradron. Geng dengan reputasi yang hampir sama dengan Artex ini memiliki basis di wilayah Arjawinangun. Viradron ini sangat berambisi dalam menghandle bisnis-bisnis yang menguntungkan. Narkoba, pelacuran, lahan keamanan, lahan parkir, penyelundupan senjata api, debt collector, dan banyak lagi yang lainnya. Itulah yang membuat geng ini terkenal memiliki pendanaan kas yang cukup besar, bahkan jika harus di bandingkan dengan Artex yang hidup di kota.

Bendera kebanggaan Viradron berwarna kuning, hitam, merah, disusun secara horizontal. Warna kuning paling atas, hitam berada di tengah, dan merah warna paling bawah.

Viradron ini  memiliki simbol yang selalu mereka junjung tinggi, yaitu buaya muara. Bahkan di markas utama mereka, sengaja memelihara beberapa buaya yang mereka tangkap sendiri di sungai.

 

Gambar 2.2. Bendera Viradron

 

Gambar 2.3. Lambang Viradron

 

 

Kronologi sejarah terbentuknya aliansi gangster di Cirebon sekitar tujuh tahun yang lalu, terjadi persekutuan besar-besar. Persekutuan itu diakibatkan ketika pertama kalinya Cirebon membuka akses investasi. Setiap geng motor saling bersaing dalam mencari konsumen yang membutuhkan jasanya. Saling sikut pun terjadi. Hingga akhirnya, terdengar kabar bahwa Artex dan Viradron membuat sebuah aliansi.

Aliansi ini mengakibatkan kerugian besar bagi ke sepuluh gengster yang lainnya. Hingga mereka pun membentuk aliansi tandingan. Dua geng yaitu Artex dan Viradron dapat mengimbangi kekuatan sepuluh gangster karena dulu basisnya sangat besar, menyebar di setiap wilayah di Cirebon. Walau sudah berlalu dan kembali menjadi normal, tapi bekas-bekas aliansi tersebut sebenarnya masih ada.

Adapun sepuluh gangster lainnya, merupakan geng-geng dengan basis yang hampir sama. Tidak terlalu besar seperti Artex dan Viradron. Tapi tak bisa dipungkiri, ke sepuluhnya merupakan geng-geng sadis. Semuanya saling bermusuhan dan selalu membuat onar. Hal inilah yang membuat Cirebon salah satu neraka bagi kehidupan malam.

Kesepuluh gangster tersebut, ialah:

Biks, merupakan gangster yang memiliki basis di Ciwaringin, dengan bendera berwarna merah dan kuning disusun secara horizontal. Geng ini memiliki simbol kebanggaan kumbang.

 

 

Gambar 2.4. Bendera Biks

 

Gambar 2.5. Lambang Biks

 

Geng kedua adalah Khayangan, merupakan gangster yang memiliki basis di Plumbon, dengan bendera berwarna putih, hitam, kuning, disusun secara horizontal. Geng ini memiliki simbol kebanggaan bunglon.

 

Gambar 2.6. Bendera Khayangan

 

Gambar 2.7. Lambang Khayangan

 

Gangster selanjutnya, yaitu geng ketiga adalah FBS. FBS (Federasi Barudak Setan), merupakan gangster yang memiliki basis di Ciledug dan Waled, dengan bendera berwarna biru, putih, hitam, disusun secara vertikal. Geng ini memiliki simbol kebanggaan kadal.

 

 

Gambar 2.8. Bendera FBS

 

Gambar 2.9. Lambang FBS

 

Geng ke empat di Cirebon adalah Xaxar. Xaxar, merupakan gangster yang memiliki basis di Plered, dengan bendera berwarna kuning, putih, biru, disusun secara vertikal. Geng ini memiliki simbol kebanggaan belut listrik.

 

 

Gambar 3.1. Bendera Xaxar

Gambar 3.2. Lambang Xaxar

 

 

Geng ke lima adalah Zurig. Kata Zurig diambil dari bahasa Sunda, dari kata Jurig yang artinya Setan. Zurig, merupakan gangster yang memiliki basis di Sumber, dengan bendera keagungan berwarna merah, hitam, kuning, disusun secara huruf X. Merah di atas, hitam di kiri dan kanan, kuning di bawah. Geng ini memiliki simbol kebanggaan kelelawar.

 

Gambar 3.3. Bendera Zurig

 

Gambar 3.4. Lambang Zurig

 

Geng selanjutnya yang ke enam adalah Baja Sakti. Baja Sakti, merupakan gangster yang memiliki basis di Losari, dengan bendera berwarna biru, hitam, putih, disusun secara horizontal. Geng ini memiliki simbol kebanggaan kucing hutan.

 

Gambar 3.5. Bendera Baja Sakti

 

Gambar 3.6. Lambang Baja Sakti

 

 

Geng ke tujuh bernama Kastalista. Kastalista, merupakan gangster yang memiliki basis di Palimanan, dengan bendera berwarna putih dan biru disusun secara horizontal. Geng ini memiliki simbol kebanggaan merpati.

 

Gambar 3.7. Bendera Kastalista

 

Gambar 3.8. Lambang Kastalista

 

 

Gangster ke delapan adalah Trivos. Trivos, merupakan gangster yang memiliki basis di Astanajapura, dengan bendera berwarna kuning, hitam, kuning, disusun secara vertikal. Geng ini memiliki simbol kebanggaan burung hantu.

 

 

Gambar 3.9. Bendera Trivos

 

Gambar 4.1. Lambang Trivos

 

Geng selanjutnya nomor sembilan adalah Listama. Listama, merupakan gangster yang memiliki basis di Gunung Jati, dengan bendera berwarna merah dan hitam disusun secara horizontal. Geng ini memiliki simbol kebanggaan rubah.

 

Gambar 4.2. Bendera Listama

 

Gambar 4.3. Lambang Listama

 

Dan gangster terakhir di Cirebon adalah Andros. Andros, merupakan gangster yang memiliki basis di Gebang, dengan bendera berwarna putih, hitam, biru, disusun secara horizontal. Geng ini memiliki simbol kebanggaan semut merah.

 

Gambar 4.4. Bendera Andros

 

Gambar 4.5. Lambang Andros

 

 

========================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab IV – Mengenal Medan (3)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat