home NOVEL, Restrayer Bab IV – Mengenal Medan (2)

Bab IV – Mengenal Medan (2)

Sebelumnya Klik Disini

 

Di sebuah gudang yang penuh dengan kardus, penuh dengan peralatan-peralatan yang sudah tidak terpakai, kursi, meja, dan beberapa barang bekas yang lainnya, melingkari sudut-sudut ruangan gudang itu. Di tengahnya berkumpul sekitar sembilan orang, semuanya duduk, hanya satu yang berdiri di hadapan delapan orang yang lainnya.

Mudah ditebak sebenarnya. Orang satu-satunya yang berdiri pasti punya kekuasaan diantara mereka. Mungkin pemimpinnya. Terlihat dari tubuhnya yang berotot, tidak seperti yang delapan yang sedang duduk. Wajahnya mencerminkan kerakusan, walau di sudut matanya yang terdalam ada sedikit duka yang merasukinya.

“Tak bisa kita di lecehkan begitu saja!” pemimpin gudang itu—satu-satunya yang berdiri di gudang itu—mulai membuka keheningan gudang.

“Mereka bersekongkol!” lanjutnya, “Dua geng lawan satu geng, tak masuk akal! Arwah Hitam sudah berkhianat! Kita tak sudi lagi bergandengan tangan dengan mereka! Si Arwah keparat itu sudah merusak solidaritas Kuningan! Mereka lebih memilih berkawan dengan bajingan-bajingan dari Cirebon.”

Delapan orang yang dari tadi duduk tetap mendengarkan pemimpin mereka berorasi. Semuanya memperhatikan. Semuanya tersulut amarah. Terbawa situasi ketegangan anak jalanan. Kuningan telah pecah, pikir mereka.

Tampak hening. Si pemimpin tak melanjutkan orasinya. Seolah-olah sengaja membiarkan anak buahnya membangkitkan api amarah yang terus menggebu-gebu.

“Tapi jika begini, kita kalah jumlah kang,” salah satu yang duduk mulai berkomentar.

“Bangsaaattttttt…” si pemimpin memalingkan muka. Dia bingung dengan situasinya. Sudah tak terkontrol. Sudah ada warna kehancuran yang terlihat di pelupuk matanya. Tapi tidak, dia tidak akan menyerah begitu saja. Walau dihadang banyak musuh, geng-nya tak akan gentar.

“Tak ada cara lain, kita bersekutu dengan Bomber Api,” pikirannya tampak ragu, tapi suaranya terdengar mantap.

“Apa? Tidak, tidak, tidak,” kedelapan orang yang sedang duduk saling pandang. Mereka saling berbicara hingga terdengar gaduh.

“Diammmmmmmm!!! Kita tak punya pilihan lain! Keagungan kita diusik karena pengkhianatan. 4 kawan kita mati di medan perang! Bomber Api bisa kita manfaatkan. Mereka sudah lama membenci Arwah Hitam, terhadap kita juga sebenarnya. Tapi kita coba, tak ada lagi kubu yang bisa kita andalkan!”

“Bagaimana dengan Gandasius?” salah seorang dari delapan orang yang duduk bertanya tentang adanya sebuah kemungkinan.

“Tak bisa diandalkan. Mereka geng banci yang tidak mau terlibat perseteruan dengan geng lain yang lebih besar. Apalagi jika tahu yang mereka hadapi adalah Arwah Hitam yang sudah memiliki perjanjian damai. Geng mereka hanya berani pada geng-geng kecil yang tak seberapa. Mereka hanya fokus menyelundupkan narkoba, otot mereka seperti otot ayam.”

Gudang penyimpanan yang dikenal diantara mereka dengan sebutan ‘Gudang Misil’ itu kembali hening, tenang tak bersuara. Semuanya berpikir keras. Ke-sembilan orang yang berkumpul di Gudang Misil tersebut merupakan para petinggi dari gangster yang empat anggotanya mati di bunuh ketika terjadi perang geng di jalan Wahid Hasyim Cirebon. Mereka menyebut nama mereka sebagai gangster Balistik.

Hal ini dapat terlihat dari spanduk di depan dinding gudang. Spanduk itu merupakan bendera berwarna hitam, putih, biru, secara horizontal. Warna hitam paling atas bertuliskan kata BALISTIK dengan font tertentu. Sedang di warna biru yang bawah terdapat sebuah kalimat yang merupakan kepanjangan dari kata Balistik, yaitu BARUDAK LINTAS TIGA KUNINGAN. Ditengah-tengahnya yang merupakan warna putih, terselip sebuah logo kecil yang jumlahnya tiga saling berjajar. Logo itu sama, merupakan logo kebanggaan anak-anak Balistik. Mereka adalah salah satu komplotan gangster di kabupaten Kuningan Jawa Barat.

Setidaknya ada tiga gangster yang paling menonjol di Kabupaten Kuningan. Ialah Balistik, Arwah Hitam, dan Gandasius. Selain tiga gangster, sebenarnya masih ada beberapa yang lainnya. Tapi selain yang tiga, tidak terlalu mencolok, basisnya masih sedikit, masih geng anak bau kencur istilahnya.

Balistik menguasai wilayah Kuningan bagian timur. Daerah kekuasaannya membentang, dari kecamatan Garawangi terus ke timur melintasi Lebakwangi, Maleber, Cidahu, Cibingbin hingga Luragung. Dari ketiga gangster itu—Balistik, Arwah Hitam dan Gandasius—Balistik lah yang paling luas pengaruhnya. Paling kuat, dan memiliki basis yang paling banyak.

Balistik ini memiliki warna bendera kebanggaan hitam, putih, biru, secara horizontal. Logonya memuat bayang-bayang ular. Karena memang, simbolisasi geng ini adalah ular yang sangat berbisa.

 

Gambar 1.1. Bendera Balistik

 

Gambar 1.2. Logo Balistik

 

 

Geng kedua di kabupaten Kuningan yang cukup berpengaruh adalah Arwah Hitam. Arwah Hitam adalah geng dengan daerah kekuasaan di sebelah utara kabupaten Kuningan yang berbatasan dengan Cirebon. Mencakup kecamatan Jalaksana, Cipicung, Sindangagung, Ciawigebang, Mandirancan terus menuju utara hingga Cilimus. Beberapa diantaranya bahkan dari wilayah-wilayah perbatasan Cirebon-Kuningan, seperti Beber.

Benderanya hanya terdiri dari dua warna, yaitu warna hitam dan kuning secara horizontal, hitam yang berada di atas, dan kuning berada di bawah. Walau basisnya lebih sedikit dari Balistik, tapi sudah terkenal anggota-anggotanya garang. Tak kenal ampun.

Arwah Hitam ini memiliki simbol serigala. Logonya melambangkan kebesaran dunia kegelapan yang penuh misteri. Penuh ketakutan. Membuat semua orang bergidik tak berani. Kelompok yang haus akan darah. Dan sekarang, terkenal pengkhianat.

 

Gambar 1.3. Bendera Arwah Hitam

 

Gambar 1.4. Logo Arwah Hitam

 

 

 

Dan yang satunya lagi adalah Gandasius. Nama Gandasius bukanlah singkatan, tapi murni sebuah nama yang diciptakan para pendirinya. Diantara ketiga gangster Kuningan, Gandasius yang paling tidak dominan. Walau memiliki jumlah basis massa yang banyak dan masuk tiga gangster yang paling berpengaruh di Kuningan, tapi memiliki paling sedikit gesekan dengan gangster lain. Hal ini bukan tanpa alasan. Mereka lebih memilih fokus dalam bisnis bawah tanah. Tak suka terlibat perkelahian dengan gangster-gangster yang lebih besar darinya. Paling banter terjadi perang pun, yang mereka hadapi hanyalah gangster-gangster kecil Kuningan yang jumlahnya hanya puluhan sampai ratusan orang saja.

Warna kebanggaan mereka adalah Hitam, Putih, Kuning, di susun secara vertikal. Warna Hitam berada paling kiri, putih berada di tengah, dan kuning warna paling kanan. Kekuasaannya berada di wilayah Kuningan bagian barat. Membentang dari kecamatan Kadugede, Cigugur, hingga Darma yang berbatasan dengan kabupatenn Majalengka. Tidak sedikit anggotanya berasal dari Cikijing, sebuah kecamatan paling timur Majalengka.

Simbol kebesarannya adalah kuda berwarna kuning. Kuda melambangkan kota Kuningan. Kuda melambangkan sebuah keharmonisan jiwa. Maka sesuai dengan kondisi Gandasius yang tidak terlalu sering membuat onar, setidaknya jika dibandingkan dengan dua geng lainnya di Kuningan, yaitu Balistik dan Arwah Hitam.

 

 

Gambar 1.5. Bendera Gandasius

 

Gambar 1.6. Logo Gandasius

 

 

Ketiga gangster Kuningan ini: Balistik; Arwah Hitam; Gandasius, memiliki perjanjian damai. Ketiganya berkomitmen untuk tidak saling serang. Mereka menyebutnya ‘Solidaritas Kuningan’. Karena merupakan gangster yang sama-sama berasal dari tanah Kuningan, maka ketiganya bersaudara. Tapi tidak berarti ketiganya saling bantu membantu dalam bisnis, atau dalam perang dengan geng lain di luar Kuningan. Perjanjian ini hanya memuat untuk tidak saling serang antara satu geng dengan geng yang lainnya.

Balistik dan Arwah Hitam, keduanya memiliki musuh dengan geng-geng besar di luar Kuningan. Itu bukan berarti Balistik dan Arwah Hitam harus saling membantu mengalahkan musuhnya. Keduanya memiliki musuh yang berbeda. Hanya tidak saling serang saja, itu sudah cukup dikatakan sebagai Solidaritas Kuningan. Selain geng besar di luar Kuningan, Balistik dan Arwah Hitam juga memiliki musuh geng-geng kecil di wilayah Kuningan. Geng kecil yang jumlah angggotanya sedikit—mungkin hanya ratusan berandalan—tapi terus bermunculan, tak kenal habis. Berbeda dengan Balistik dan Arwah Hitam, Gandasius hanya melayani perlawanan geng-geng kecil Kuningan. Mereka terus berupaya menjalin komunikasi dengan geng-geng besar, baik dengan Balistik, dengan Arwah Hitam, bahkan dengan geng dari Majalengka.

 

 

============================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab IV – Mengenal Medan (2)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat