home NOVEL, Restrayer Bab IV – Mengenal Medan (1)

Bab IV – Mengenal Medan (1)

Sebelumnya Klik Disini

 

Malam terasa dingin. Ditambah sepi. Angker, beberapa menyebutnya seperti itu. Suara angin sepoi-sepoi mengayunkan dahan pohon. Kabel-kabel PLN pun tak luput dari libasan angin malam. Air-air kolam bergelombang rendah.

Jalanan sangat sepi. Sudah jam—sekitar—sepuluh malam. Maklum di tengah desa, jam sepuluhan sudah tak ada keperluan lagi. Tak ada istilah bekerja di malam hari. Tak seperti Jakarta yang ramai 24 jam. Disini tidak. Dihampir seluruh wilayah di Indonesia bahkan. Sembilan per sepuluh dari seluruh wilayah yang dihuni oleh manusia di bumi pertiwi ini adalah pedesaan, perkampungan, pemukiman yang terkenal alami.

Hanya beberapa motor yang terlihat melintas di jalanan desa, yang ukuran jalannya pun sebenarnya kecil. Hanya sekitar 2,7 meter lebarnya. Dua mobil bertemu, keduanya harus merelakan dua ban paling pinggir untuk menginjak tanah.

Sepi, ya sepi sekali. Ada beberapa tempat di desa yang masih ada kumpulan hingga malam begini, itulah tempat ronda.

Beberapa pemuda duduk-duduk di tempat ronda. Belum ada acara ronda. Yang menjadi bagian jadwal belum pada kumpul, biasanya jam dua belasan. Sebelumnya, pos ronda merupakan tempat nongkrong anak-anak muda. Ada lima orang pemuda yang saat itu nongkrong di pos ronda. Empat diantaranya sedang main kartu. Satu lagi sedang duduk seperti penonton, menunggu giliran yang kalah.

“Woi, si Andika masih di rumah sakit?” tiba-tiba suara itu muncul dari belakang pos ronda. Ternyata seorang pemuda yang merupakan teman dari kelima pemuda yang sedang nongkrong di pos ronda. Pemuda yang datang ini bertato hampir sepanjang lengannya. Mukanya garang, ada bekas codetan di bagian pipi sebelah kanan.

“Eh akang. Masih kang, dua belas jahitan katanya,” jawab salah satu dari yang bermain kartu.

“Parlan, sia pastikan anak-anak yang masuk rumah sakit tidak banyak ngomong!”

Orang yang tadi menjawab ternyata bernama Parlan. Dia kembali menanggapi omongan si lengan tato.

“Sudah beres kang. Kemarin anak-anak jenguk mereka. Geng kita aman!”

“Bagus. Mampus tuh Balistik, 4 cecunguk mati!”

“Hahahaha,” semuanya tertawa keras dengan penuh puas.

“Besok anak-anak inti suruh kumpul  di markas!” si lengan tato kembali ngomong.

“Siap kang,” jawab Parlan.

“Si Edo mana?”

“Biasa, paling lagi cari duit, udah mulai malem kang, nyari mangsa dia.”

“Si Koko?”

“Tadi lagi nganter barang ke Majalengka. Dua kilo kang.”

“Kokain?”

“Ekstasi.”

Aing gak dikasih, brengsek tuh budak.”

“Kelihatannya buru-buru kang. Dia dapet telepon, tadi sore langsung cabut. Sampe sekarang, belum muncul lagi tuh anak.”

“Gimana kabar yang Brebes kang?” tanya salah satu anak lain yang main kartu.

“Ah gak bener, ceweknya kurang bohai. Gak bakal puas geng kita.”

“Yoyoiii, nyari yang Bandung aja kang, yang montok-montok.”

“Kebanyakan gaya kalo cewek Bandung mah, sok jual mahal, gak mau datang ke kampung. Susah koneksinya, padahal aing udah kontak satu geng di sana.”

“Ah, harus invasi kayaknya kang,” satu lagi yang lainnya membuka obrolan.

“Anak Periyangan kota mah gampang di lawan, cuma banyak ngomong doang. Beda sama Periyangan timur, langsung gilas, tak pandang kompromi!”

“Besok kumpul, agenda perang kang?” anak yang tadi gak main kartu mulai ikut suasana obrolan.

“Evaluasi.”

“Perang lagi kapan kang? Lagi semangat-semangatnya nih.”

“Jangan dulu. Polisi lagi sok-sok-an patroli. Kalo bisa, kita serang aja tuh polisi.”

“Bisa diatur kang, kita mah ikut yang di atas aja. Polisi serang hayu, kalo perlu tentara sekalian.”

“Belum cukup senjata. Masih nego sama Angkatan Darat.”

“Peras yang banyak tuh orang DPR, biar kas kita makin banyak kang. Mereka kan bisa nyolong duit rakyat, kita rampok hasil dari colongan mereka. Kita kan rakyat, itu hak kita kang.”

“Anjing, sia mulai pinter politik.”

“Hahahaha,” yang lain pada tertawa.

“Oh iya, si Ubed mana?” si lengan tato kembali nanya.

“Lagi mayoran kang, dua ayam katanya,” Parlan menjawabnya.

“Dimana?”

“Blok Peuteuy.”

“Anak-anak si Juhro?”

Heueuh kang.”

“Acara apaan mereka?”

“Lagi ada rejeki aja kang, kemarin kan si Andi bobol warung pak Haji Salman.”

“Oh yang ilang tiga ratus ribu itu? Masih pemula dia.”

“Udah lah gitu aja,” si lengan tato kembali melanjutkan, “akang pergi dulu. Ada si Ani nunggu di rumah. Jangan lupa besok, anak-anak inti wajib kumpul. Gak kumpul, aing podaran.”

“Siap kang.”

***

Di tempat lain, di malam yang sama, di sebuah kafe remang-remang di pinggir jalan Pantura. Beberapa kafe malam memang biasanya mencampur minumannya dengan minuman beralkohol. Bahkan kafe-kafe yang sudah benar-benar dikuasai anak jalanan, sudah tak ragu lagi menjual bir-bir, bahkan tempat mereka ada di pinggir jalan Pantura yang notabennya merupakan jalan yang padat. Mungkin sebenarnya polisi tahu keberadaan mereka. Hanya mereka tak mengambil tindakan. Tindakan mencari musuh, begitulah pikir para polisi.

Muda-mudi yang nongkrong di kafe ‘Katineung’ kepalanya bergoyang-goyang. Bahkan beberapa diantaranya teler. Kopi-kopi di atas meja hanyalah minuman yang tampak dari luar. Kandungan kopi itu sudah hilang, lebih dominan cairan alkohol yang memabukkan.

Es teh, es jeruk, semua minuman hanyalah bungkus belaka. Kandungannya lebih banyak alkohol. Semua tahu itu. Semua anak-anak di kafe itu tahu mengenai hal ini.

Ada tujuh meja di kafe ‘katineung’. Semuanya ditata rapi, hanya saja sudah tak beraturan sejak pelanggan-pelanggan teler ini datang. Sudah menjadi sebuah resiko. Karyawan kafe harus bekerja ekstra keras di pagi hari untuk membereskan kafenya. Dan itu bukan pekerjaan mudah. Banyak gelas-gelas yang tumpah. Banyak muntahan menjijikan dari pelanggan sialan. Banyak juga ludah-ludah di lantai yang benar-benar membuat karyawan tak mau mengepelnya. Tapi ini resiko. Resiko pekerjaan.

Hingga tiba-tiba seorang pemuda masuk kafe ‘katineung’. Memakai baju bertuliskan ‘Slank’, dia memesan minuman es jeruk ke kasir yang berada di ujung ruangan. Dia langsung duduk, dan es jeruk plus plus itu dia bawa untuk duduk. Dia cari-cari meja yang kosong. Tidak ada. Semua meja penuh, hanya satu kursi di sebuah meja yang masih kosong. Benar juga, ini malam minggu, tidak heran kafe penuh, pikir si pemuda.

Pemuda tersebut tak punya pilihan, dia duduk di kursi kosong sebuah meja yang sudah ada lima orang sudah teler sambil main kartu. Di dalam satu meja terdapat enam kursi. Masing-masing tiga kursi saling menghadap meja.

Dia minum es jeruknya. Nikmat. Dia merasakan derasnya kesegaran air yang melewati kerongkongannya. Matanya mulai remang-remang. Kepalanya mulai bergoyang. Dia menikmati betul suasana itu. Suasana pikiran melayang kadang tak bisa digambarkan. Seolah sedang berjalan menuju Surga, penuh dengan kenikmatan. Walau kenikmatan cuma sesaat, tapi setidaknya dapat menghilangkan banyak masalah yang menimpa. Inilah yang membuat banyak orang kelak memahami betapa panasnya api neraka.

Ditengah-tengah pemuda ini menikmati apa yang ia minum, secara tak sengaja, dia menyenggol orang yang berada di sampingnya.

Maklum sedang dalam kondisi mabuk, orang yang disenggol itu membalas menyenggolnya. Si pemuda Slank itu pun membalasnya lagi. Si orang yang disenggol lagi-lagi membalas. Mereka berdua saling senggol sikut. Hingga tak terasa, si pemuda berbaju Slank menyenggol orang yang sedang main kartu itu dengan lumayan keras. Si pemain kartu itu jatuh ke belakang kursi—kursi yang dipakai tidak memiliki sandaran belakang, ketika di senggol, si pemain kartu mendongak ke belakang hingga terjatuh—cukup keras, kepalanya membentur lantai.

“Anjing, saha ieu?” si pemain kartu yang jatuh tersungkur itu marah. Dia berdiri, memandangi dengan tatapan ala orang mabuk, ke arah pemuda tadi.

“Siapa silaing?”

Belum juga si pemuda menjawab, si pemain kartu langsung menghajarnya, memukul tepat di sebelah pipi kirinya. Tak terima dengan serangan mendadak itu, si pemuda langsung membalasnnya dengan memukul perutnya.

“Sroottttt,” cairan berwarna putih keluar dari mulut si pemain kartu.

Melihat situasi yang memihak padanya, si pemuda berbaju Slank langsung menendang bagian perut si pemain kartu hingga tubuhnya seakan terbang ke belakang. Si pemain kartu tersungkur untuk kedua kalinya ke lantai. Tapi kali ini beda. Dia mengalami serangan yang sangat keras. Sangat sangat keras. Si pemain kartu tak bangun lagi. Pingsan.

Teman-teman satu mejanya yang melihat kejadian itu mulai geram.

“Anjiingggggggg!!!”

Satu pukulan diarahkan ke pemuda berbaju Slank. Ditangkis.

Serangan lagi dari orang yang berbeda. Dia tangkis lagi.

Empat orang yang menyerangnya sudah benar-benar dalam keadaan mabuk, semuanya sudah kehilangan logikanya. Ini kesempatan yang bagus. Walau menghadapi empat orang sekaligus, si baju Slank merasa seperti melawan anak kecil. Hanya memang kata-kata kebun binatang terus saja keluar dari empat orang itu. Tapi itu tidak masalah. Yang paling penting, dia bisa melumpuhkan ke empatnya.

Si baju Slank mulai meninggikan tensi bertarungnya. Satu pukulan dia lancarkan. Dan kena. Orang itu jatuh, walau mencoba bangkit lagi.

Kemudian orang lainnya memberikan pukulan, langsung dia tangkis menggunakan tangan kiri. Tangan kanannya langsung dia kepalkan sekuat tenaga, dia pukul di bagian perutnya yang vital. Orang yang dipukul itu muntah, muntahannya menyemprot sebagian muka si baju Slank. Dengan satu dorongan saja, orang yang muntah ini kemudian tertidur lemas di lantai.

Tinggal tiga lagi. Serangan ketiganya sudah mulai kendor. Alkohol sudah merasuki pikiran dan tenaganya. Satu diantaranya mulai meraba-raba meja untuk mencari barang apapun yang bisa digunakan. Sebelum menemukan benda yang diharapkan, si baju Slank sudah lebih dahulu mengambil gelas. Dengan gelas itu dia pukulkan ke kepala orang itu.

“Prengggg,” suara gelas menghantam kepala orang itu. Darah keluar dari kepalanya.

Tinggal dua.

Dengan gerakan gesit, yang satu dia tendang di perutnya hingga lagi-lagi tersungkur ke lantai. Dan satu orang lagi dia pukul di wajahnya berkali-kali—sekitar tujuh sampai delapan kali pukulan—hingga benar-benar lemas dan kembali tersungkur ke lantai.

Semua musuh terkapar. Dia merasa menang. Bayangkan saja, lima orang dapat dilumpuhkannya dengan mudah. Hanya beberapa menit, dua belas menit mungkin. Atau lebih sedikit. Yang jelas, dia merasa seperti seorang super hero.

Hingga tiba-tiba tubuhnya dipegang dari arah belakang. Ternyata anak-anak lain memperhatikan perkelahiannya dengan lima orang pemabuk berat. Semuanya hanya menonton tanpa mau memisahkan. Itu adalah prinsip anak-anak jalanan. Tak ada kata mendamaikan di kalangan mereka. Yang jelas, seluruh orang yang nongkrong di kafe katineung ini merupakan anak-anak satu geng.

Melihat si pemuda berbaju Slank menang melawan lima orang, yang lain mulai siaga. Apalagi yang lima orang tadi merupakan bagian dari mereka, sedangkan si baju Slank adalah orang asing yang sepertinya baru pertama kali masuk ke kafe ini.

Takutnya si baju Slank adalah musuh, dua orang memegannnya dari belakang, masing-masing memegang tangannya. Seseorang lagi memegang kakinya dari bawah. Dan tiga orang yang lain bergantian memukul orang berbaju Slank itu.

Darah mulai keluar dari mulut dan hidung si baju Slank. Kemudian terdengar suara lantang menggema seantero kafe.

“CUKUPPPPP….!!!”

Semuanya menoleh ke sumber suara. Berjaket hitam dengan sebuah logo di sebelah kiri jaket. Perawakannya kekar, mukanya sangar, rambutnya bergaya punk, setinggi tujuh sentimeter. Rantai menjulur dipinggir pinggangnya. Penampilan preman yang sudah sangat berpengalaman.

Mendengar teriakannya, semua orang yang ada di kafe terdiam. Semuanya tertunduk.

“Minggir!” orang itu menyuruh minggir orang-orang yang tadi memukul si baju Slank.

Orang berjaket hitam ini mendekati si baju Slank. Tangan kanannya mengangkat dagu si baju Slank.

Saha sia?”

Dengan terbata-bata, si baju Slank menjawab, “Bayu.”

***

 

======================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab IV – Mengenal Medan (1)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat