home NOVEL, Restrayer Bab III – Bunglon Ala Intelijen (2)

Bab III – Bunglon Ala Intelijen (2)

Sebelumnya Klik Disini

 

“Saya butuh, segera,” Kombes Pol Dudung Ruanda meminta sekretaris pribadinya, Bripda Kokom Sumarsih untuk memanggilkan Briptu Joni, ada sesuatu hal yang kelihatannya Kombes Pol Dudung butuhkan.

“Baik pak,” Bripda Kokom Sumarsih keluar ruangan. Dia mutar-muter setiap ruangan di Polres Cirebon untuk mencari Briptu Joni.

Kesana-kemari dia tidak menemukannya. Gawat. Pikirnya. Pak Kombes kelihatnnya benar-benar butuh. Tak boleh dia tinggalkan tugas mencari bawahan lebih dari lima belas menit.

“Mana Briptu Joni?” Bripda Kokom terlihat tampak terburu-buru. Dia bertanya kepada anggota lain yang kebetulan sedang mengetik di depan komputer.

“Paling di kantin,” jawabnya santai.

Tanpa berpikir panjang, Bripda Kokom langsung menuju kantin yang berada di belakang kantor Polres. Lumayan jauh, harus melewati sebuah lapangan khusus latihan sepeda motor. Dia berlari menuju kantin yang sangat sederhana. Tampilannya memang seperti warteg kebanyakan, hanya saja cat temboknya sama seperti cat tembok yang dipakai gedung Polres. Itu yang membuat kantin terlihat lebih baik, dan lebih formal.

“Joni!” teriak Bripda Kokom kepada orang yang ditujunya, secara pangkat, berada satu level di atasnya. Tapi Bripda Kokom sudah sangat akrab dengan Briptu Joni.

Briptu Joni yang sedang santai ngopi sambil makan gorengan langsung menoleh ke asal suara.

“Iya ada apa?”

Pertanyaan Briptu Joni itu tak dijawab Bripda Kokom. Hingga benar-benar Bripda Kokom sudah berada di depannya.

“Dipanggil pak kepala!”

“Ada apa?”

“Saya juga kurang tahu.”

Briptu Joni langsung menghabiskan kopinya. Gorengan yang masih berada di tangannya, dia bawa, dimakan sambil jalan.

Briptu Joni sudah berada di depan ruangan kerja Kombes Pol Dudung Ruanda. Ruangan kepala—atau lebih tepatnya ruangan yang lebih tinggi pangkatnya—selalu membuat takut bawahan-bawahannya. Dengan keberanian, Briptu Joni mengetuk pintu. “Tok…Tok…Tok…”

Terdengar suara dari dalam ruangan. “Masuk…”

Suara pintu terbuka. Briptu Joni tersenyum  sambil menundukkan kepala tanda hormat.

“Bapak memanggil saya?”

“Iya, duduk dulu.”

Briptu Joni pun duduk.

“Ada apa yah pak?” Briptu Joni bertanya penuh tanda tanya.

“Ada yang harus kamu jemput entar sore.”

“Siapa pak?”

“Pokoknya kamu jemput dia di stasiun Prujakan. Kata dia kereta dari Jakarta baru sampai di Prujakan sekitar jam empat. Kamu ke sana sebelum jam empat, jam setengah empat  atau jam tiga. Dia orang penting,  jangan sampai dia yang malah menunggu jemputan dari Polres.”

***

Bus berjalan seperti biasa. Tak terlalu cepat, apalagi terlalu lambat. Proporsional. Kadang berhenti lumayan mendadak. Kita tahu sendiri bagaimana keadaan jalanan jalur Pantura. Tak bisa ditebak. Dari mulai becak, motor, mobil, truk gandengan, semua komplit. Kadang-kadang tidak heran angkot berhenti mendadak, sembarangan ditengah jalan. Itu bukan cerita baru. Dan itu dipahami oleh sopir bus Mutiara Indah, dan juga para penumpang. Berhenti mendadak puluhan kali, sudah dianggap biasa.

Keadaan bus Mutiara Indah jurusan Jakarta-Yogyakarta tak mengalami perubahan. Masih dengan empat belas penumpang. Ditambah dengan satu kernet dan satu sopir. Menjadikan total semuanya enam belas orang.

Nyanyian dangdut sudah dari tadi berhenti. Lagunya sudah habis, dan tangan sopir malas untuk memutarnya lagi. Sedangkan si kernet malas mengurusi lagu. Dia asyik memandangi jalanan. Kadang kala ngobrol dengan sopir dengan menggunakan bahasa Sunda. Terlihat memang, keduanya berasal dari suku yang sama. Dari muka saja sebenarnya sudah kentara.

Ngomong-ngomong tentang suku, alangkah bersyukurnya Indonesia memiliki keanekaragaman yang sangat kompleks. Itu anugerah, bukan malah petaka. Tanpa perbedaan, Indonesia bukanlah Indonesia. Benderanya tentu bukan merah putih. Lambangnya tak mungkin garuda Pancasila dengan tulisan semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Maka seharusnya, setiap orang di Republik ini mensyukuri apa yang sudah Tuhan limpahkan untuk negeri kita.

Ada lebih dari 300 suku yang hidup di Indonesia. Mungkin angka ini yang terbanyak dari sekian ratus negara yang ada. Bahkan di Indonesia, ada lebih dari 700 dialek bahasa. Menakjubkan. Tak ada saingannya. Bahkan angka ini bisa menyaingi hal yang sama di Eropa. Setiap suku memiliki kebudayaan sendiri-sendiri. Masing-masing dari mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki suku yang lainnya. Bahkan, saking seringnya kita menjumpai perbedaan, kita bisa mengetahui mereka berasal dari suku mana—atau setidaknya dari pulau mana—hanya dilihat dari wajahnya.

Kembali ke bus Mutiara Indah. Masih duduk di kursi yang sama, Wawan bersama Pak Sukino yang merupakan pensiunan BIN.

Bus sedang melaju, tepatnya di jalur Pantura Cirebon. Tiba-tiba bus berhenti di perempatan. Perempatan yang ramai, salah satu yang paling ramai di Cirebon. Bagaimana tidak, perempatan ini merupakan perempatan yang menyilangkan Pantura dengan jalan menuju Cirebon kota. Jika diamati dari arah Jakarta, perempatan ini, lurus menuju Jawa Tengah, ke kiri menuju Cirebon kota dan ke sebelah kanan arah kabupaten Kuningan.

“Cirebon ini lah yang membara,” Pak Sukino membuka pembicaraan lagi mengenai gangster, setelah sekian lama terhenti dengan membicarakan hal lain, termasuk membicarakan politik.

“Bagaimana pak?” Wawan sepertinya tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan Pak Sukino. Maklum dia sedang fokus dengan hp-nya.

“Diantara seluruh wilayah di Indonesia, daerah yang paling menakutkan dan menjadi basis anak-anak jalanan adalah daerah Jawa Barat. Dan diantara seluruh kota di Jawa Barat, Cirebon lah rajanya!

“Disini tersimpan jutaan cerita malam yang mengerikan. Beberapa diantarnya bahkan membuat kita tak percaya. Bagaimana mungkin, Polres Cirebon mengatakan bahwa Pak Syuaib, salah satu anggota DPRD Cirebon, meninggal karena kecelakaan. Hal ini terus ditutup-tutupi oleh Polres Cirebon. Tapi kami tahu. BIN punya datanya. Pak Syuaib bukan mati karena kecelakaan, tapi ada skenario pembunuhan sebelum kecelakaan terjadi. Ini pembunuhan murni, dan sebenarnya Polres Cirebon mengetahuinya. Hanya mereka bungkam. Mereka tahu bahwa mereka tak akan mampu menemukan siapa yang membunuhnya. Keterlaluan. Muak saya mendengar apa yang dipaparkan oleh anak buah saya dulu mengenai kebobobrokan jalanan. Negeri ini hancur karena generasi penerusnya sendiri! Mereka kurang diberi sentuhan militer!

“Tak seperti di zaman orde baru. Semuanya terkendali. Semuanya terkontrol. Rakyat aman. Tak ada aktivitas sesat semacam ini. Ah, kadang saya merasa iri juga dengan orde baru, bagaimana mungkin orde reformasi yang katanya lebih baik dari orde baru, tak mampu menyaingi apa yang telah dicapai oleh orde baru, dari ekonominya, militernya, semuanya. Ah, mau dibawa kemana negeri ini?”

“Mungkin kita masih proses pak,” Wawan mencoba mengutarakan sesuatu dengan bijak.

“Ya, mungkin reformasi juga membutuhkan waktu 32 tahun untuk tertulis dalam sejarah sebagai orde yang baik. Bukan malah menjadi orde yang membuat negeri ini kacau balau. Demo dimana-mana, membuat macet. Membuat orang emosi. Menghambat perekonomian. Saya tidak habis pikir, mahasiswa-mahasiswa seharusnya kan menuntut ilmu, bermanfaat bagi masyarakat, bukan malah menjadi belenggu bagi rakyat!”

Obrolan mereka berlanjut dengan pembahasan baru. Tapi sementara mereka mengobrol mengenai permasalahan Indonesia, cerita ini masih tetap berlanjut.

***

Polres Cirebon menyambut kedatangan tamu istimewa—lebih tepatnya partner baru—yang baru saja dijemput oleh Briptu Joni dari stasiun Prujakan Cirebon.

Terlihat ada sekitar sepuluh anggota kepolisian yang menyambutnya. Semuanya berdiri di depan kantor Polres. Satu demi satu menyalami tamu istimewa itu. Sambil memancarkan senyuman terbaiknya, beberapa diantaranya juga berkata, “Selamat datang pak, selamat bergabung dan bekerja sama dengan kami.”

“Ya ya terima kasih,” jawab si tamu istimewa itu.

Hingga akhirnya, si tamu berjabat tangan dengan Kombes Pol Dudung Ruanda yang berdiri paling belakang. Tentu saja hal ini dibuat sengaja. Semuanya berjajar garis lurus, sedangkan Kombes Pol berdiri di paling ujung dengan posisi yang tidak terlalu sejajar dengan garis yang dibuat anak buahnya. Jadi si tamu tetap bisa melihat kewibawaan Kombes Pol Dudung Ruanda.

“Mari silahkan masuk Kompol Boni,” Kombes Pol Dudung Ruanda mempersilahkan masuk tamunya itu. Walau sebenarnya, Kompol Boni berpangkat lebih rendah—dua baris dibawah—dari pangkat Kombes Pol Dudung Ruanda, tapi kepala Polres Cirebon itu tak mau meremehkan Kompol Boni. Apalagi Kompol Boni dikirim langsung dari Mabes POLRI, melalui Polda Jabar tentunya.

Kombes Pol Dudung Ruanda juga mendengar beberapa profil mengejutkan mengenai Kompol Boni. Bagaimana Kompol Boni pernah menyelamatkan negara dari aksi penyadapan agen Australia dan menangkapnya. Lima agen Australia yang sudah lama berkeliaran di Jakarta, diciduk olehnya. Tindakannya, analisisnya, kemampuannya, konon lebih cepat dari BIN. Merupakan prajurit terbaik di Polda Jabar, mengantarkannya bekerja di Mabes POLRI. Di sini pun, Kompol Boni tetap yang terbaik, lebih khusus di Baintelkam, salah satu unsur pelaksana tugas pokok yang berada dalam badan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI).

Jadi, bukan tanpa alasan, Kombes Pol Dudung sangat menghormati Kompol Boni. Padahal, pangkat ‘Kompol’ dua tingkat di bawah ‘Kombes Pol’. Tapi itu tidak masalah. Menghormati Kompol Boni, sama seperti halnya menghormati Kapolda Jawa Barat. Menghormati Kapolda Jawa Barat, sama juga menghormati Kapolri.

Tapi tetap, kendali Polres berada di tangannya. Ada beberapa hal yang tidak akan dicampur tangankan kepada Kompol Boni. Itu pasti. Kompol Boni hanya dikirim dari Mabes POLRI untuk menyelematkan citra kepolisian di wilayah Cirebon. Mabes POLRI sudah mengetahui keburukan insiden dua tahun yang lalu. Dan Kapolri sudah mencermatinya dengan baik. Apa yang diusulkan oleh Kapolda Jawa Barat dengan menyuruh Kompol Boni untuk turun langsung membongkar sindikat gangster yang mencakup hampir banyak mafia merupakan tindakan yang tepat. Kompol Boni memang pantas menerima tugas ini.

Sementara Kombes Pol Dudung Ruanda melamun dalam pikirannya sambil jalan, tak tahunya dia bersama Kompol Boni sudah berada di depan pintu ruang kepala. Kompol Boni mempersilahkan sang kepala masuk terlebih dahulu. Mereka berdua pun masuk ruangan Kombes Pol Dudung Ruanda untuk membicarakan sesuatu hal yang menjadi pembicaraan hangat di media massa Cirebon dan sekitarnya.

“Bagaimana perjalannya Kompol?” tanya Kombes Pol Dudung Ruanda dengan pertanyaan-pertanyaan ringan. Basa-basi istilahnya.

“Cukup bagus. Hanya saja entah mengapa, POLRI tak membiarkan saya menggunakan helikopter, padahal bisa lebih cepat.”

“Mungkin terlalu mahal untuk digunakan.”

“Entahlah, tapi mereka berani menerbangkan helikopter dari Yogyakarta hingga Jakarta. Saya kira, itu bisa lebih mahal.”

“Oh yah? Dari Yogyakarta? Ada kasus juga disana?”

“Tidak, hanya menengok mertua.”

“Hmmm, bagaimana dengan Kapolda Jawa Barat?” Kombes Pol Dudung Ruanda mengalihkan pembicaraan, mulai masuk ke inti pembahasan, “Apakah sudah jelas apa yang seharusnya dilakukan?”

“Kapolda Jawa Barat? Bahkan saya hanya di suruh oleh atasan saya, Komjen Sudarta, ketua bagian Baintelkam POLRI, untuk datang ke Polres Cirebon. Ini tugas dari Kapolri. Hanya itu.”

“Benarkah mereka tidak membicarakan sedikit pun?”

“Yah, bahkan bocoron pun tidak. Sebenarnya saya sudah biasa dengan kerja semacam ini. Atasan saya biasanya tidak memberikan secara rinci apa yang harus saya lakukan. Seperti itu, sudah biasa. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, mengapa mereka repot-repot mengantarkan saya dari Jogja hingga Jakarta? Mengapa tidak turun saja di Cirebon? Meskipun yah, ada beberapa keperluan seperti uang, dan anda pasti tahu lah apa saja yang dibutuhkan seorang intelijen, harus diambil dari Markas Besar. Hanya saja, sebenarnya segala peralatan itu bisa dikirim, entahlah kadang berbelit-belit. Dibuat susah, padahal sebenarnya simpel sekali.”

“Hahahaha,” Kombes Pol Dudung Ruanda tertawa mendengar apa yang dijabarkan Kompol Boni, “Saya kira saya hanya menjadi penjelas saja Kompol. Ternyata harus dari awal yah? Baiklah kalau begitu.”

“Jadi kira-kira apa yang harus saya lakukan?” Kompol Boni mulai menatap Kombes Pol Dudung dengan tatapan tajam.

“Oh ayolah jangan langsung ke inti. Masalah ini lumayan kompleks. Harus dibicarakan dari awal, seperti sebuah cerita.”

“Baiklah, mungkin sambil ngopi akan terasa nikmat,” ternyata dari tadi Kompol Boni sudah tak tahan menahan kerongkongannya dari air kopi.

“Oh, hahaha, yah yah yah, saya hampir lupa!” Kombes Pol Dudung menekan sebuah tombol di pesawat telepon yang berada di meja. Suara di seberang sana bertanya terlebih dahulu, “Iya pak?”

“Bawakan dua gelas kopi ke ruangan saya. Satu seperti biasa, dan satunya lagi…” Kombes Pol Dudung Ruanda menatap Kompol Boni.

“Dengan sedikit gula,” Kompol Boni menambahkan.

“Ya, satunya lagi dengan sedikit gula,” tegas Kombes Pol Dudung Ruanda.

“Siap pak,” suara itu hilang setelah ada suara ‘tuuttt’.

“Anda tahu Kompol,” Kombes Pol Dudung Ruanda kembali membuka perbincangan, “Kejadian dua tahun yang lalu di Cirebon?”

“Kejadian yang mana?”

“Tawuran warga dengan gangster, 21 anggota geng tewas di bacok warga.”

“Oh yah yah, saya baca beritanya, tentu saja. Itu insiden yang besar.”

“Dan tahukah Kompol dampak kejadian itu terhadap kepolisian?”

“Hmmm…” tak sempat Kompol Boni menjawabnya, terdengar pintu diketuk, dan seorang polisi perempuan masuk ruangan, Bripda Kokom. Dia membawa dua gelas kopi di atas nampan. Kedua kopi itu dia letakkan di atas meja. Terdengar ucapan terima kasih dari Kompol Boni maupun Kombes Pol Dudung Ruanda. Ucapan terima kasih itu dijawab dengan penuh senyum oleh Bripda Kokom. Bripda Kokom pun kembali keluar ruangan. Dan pembicaraan yang sempat terganggu itu kembali dilanjutkan.

“Kira-kira anda tahu dampaknya bagi kepolisian?” tanya lagi Kombes Pol Dudung Ruanda.

“Apa itu Pak Kombes?”

“Ketidakpercayaan. Warga Cirebon tak percaya lagi kepada polisi. Mereka selalu membentak setiap polisi. Anggota kami takut dengan gertakan warga. Anda tahu sendiri bagaimana orang Cirebon, saya kira tidak usah dibicarakan. Bagaimana polisi dibakar massa, kantor Polsek di serang hingga hancur, dan masih banyak lagi. Anda tahu orang Cirebon. Sangat terkenal sebagai orang-orang yang pemberani. Bahkan lebih berani dari orang Timur, Madura maupun Batak.”

“Oh yah, saya masih ingat bagaimana Polda Jabar membantu Polres Cirebon dalam menangani kasus ini. Sayang sekali, saya sudah berada di Mabes POLRI. Dan anda juga pasti tahu, masalah di Mabes POLRI sangat banyak. Kebanyakan berbau politis. Berita-berita di daerah banyak yang terabaikan, atau lebih tepatnya sengaja diabaikan.”

Kombes Pol Dudung Ruanda meminum kopi didepannya. Itu juga yang kemudian dilakukan Kompol Boni.

“Kami pikir anak gangster itu tidak akan lagi berulah di kota Cirebon. Tapi praduga itu salah. Beberapa hari yang lalu, terjadi perang geng di jalan Wahid Hasyim. Dua kelompok geng, satu dari Cirebon, satunya lagi dari kabupaten Kuningan, terlibat tawuran.

“Tawuran dalam dunia gangster berbeda dengan tawuran anak SMA biasa. Mereka lebih suka menyebutnya perang, perang geng. Empat orang mati. Angka yang lebih sedikit dari kejadian dua tahun silam. Tapi warga sudah mulai muak dengan ketidaknyamanan ini.

“Yang menjadi perhatian kami, bagaimana cara memusnahkan kelompok-kelompok semacam ini, hingga ke-akar-akarnya.”

“Begitu yah.”

“Saya harap anda tidak menyepelekan tugas ini Kompol. Kelihatannya memanng sederhana, kebanyakan anak-anak remaja, anak SMA, pengangguran, beberapa bahkan mahasiswa. Anak-anak kampung, anak-anak sampah. Anak-anak buangan yang sudah tidak diperhatikan lagi oleh orangtuanya.

“Tapi perlu diingat! Mereka memiliki beking. Ada banyak pihak yang terlibat. Ada banyak pihak yang diuntungkan. Ada banyak pihak yang mencoba menjaga mereka. Dan itu mafia. Mafia yang sangat besar! Dan kami tak mampu menembusnnya. Saya juga berpikir, anggota di Polda pun tak ada yang sanggup hingga menunjuk anda untuk terjun langsung dalam kasus ini.”

“Saya mulai paham pak Kombes. Menjadi mata-mata, masuk ke kandang musuh, mencari informasi, menghancurkan dari dalam, sudah biasa saya lakukan. Saya sudah melakukannya. Berhubungan dengan ASIS, intelijen Australia, MI-6 dari Inggris, MOSSAD dari Israel, CIA dari Amerika. Anda tahu mereka terus mewaspadai Indonesia berada di pihak blok Timur. Dan saya selalu berhadapan dengan orang-orang seperti ini.”

“Saya harap anda bisa memegang omongan anda, benar-benar dapat menuntaskannya Kompol.”

***

 

======================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab III – Bunglon Ala Intelijen (2)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat