home NOVEL, Restrayer Bab III – Bunglon Ala Intelijen (1)

Bab III – Bunglon Ala Intelijen (1)

Sebelumnya Klik Disini

 

Tengkorak 3

Bunglon Ala Intelijen

 

Orang awam akan berpikir keadaan Polres Cirebon sama seperti biasa, tak berubah, walau suatu waktu beberapa wartawan terlihat datang ke Polres tersebut. Padahal didalamnya, setiap polisi bekerja sangat keras. Mereka was-was akan pemberitaan negatif. Mereka mencoba agar kejadian 2 tahun yang lalu tidak terulang lagi. Setidaknya Kombes Pol Dudung Ruanda sudah menjamin kewibawaan Polres Cirebon tidak akan terganggu. Masyarakat akan tetap membutuhkan Polres Cirebon. Semua aparat kepolisian lumayan tenang, walau di hati terdalamnya, masih trauma.

Dua orang polisi berbadan tegap keluar Polres. Keduanya memandang arah depan seperti seekor kuda yang sedang fokus. Ditangan mereka tergenggam helm berwarna hitam. Mereka menuju tempat parkir motor yang berada di sebelah kantor Polres.

Sesampainya di tempat parkir, salah satu dari mereka merogoh saku celananya untuk mengambil kunci. Tanpa ada yang mengomandoi, dia masukkan kuncinya ke lubang yang semestinya dipakai untuk kunci. Starter, dan suara motor pun berdengung. Maklum, motor metik yang masih mulus, satu kali tekan, mesin bekerja dengan sangat baik.

Kedua polisi itu naik motor dan meninggalkan Polres.

Tak terlalu lama, mungkin sekitar lima belas menit. Mereka sampai di sebuah bangunan besar berlantai tiga. Tertulis sangat besar di depan bangunan itu “Rumah Sakit Ciremai”. Si polisi yang duduk paling depan mengendarai motornya menuju tempat parkir rumah sakit yang berada di belakang gedung. Setelah sampai, mereka turun dan meninggalkan motor beserta helm mereka kepada petugas keamanan parkir.

Mereka masuk ke rumah sakit melalui pintu belakang. Mereka melewati lorong panjang yang di setiap dindingnya terpampang gambar-gambar kedokteran.

Polisi yang di bajunya tertulis ‘Asep Saefudin’ mengamati sambil lalu lalang. Dia membaca sekilas gambar-gambar di dinding. Terlihat olehnya ada  gambar yang melukiskan prosedur rumah sakit. Ada juga gambar yang menjelaskan bahaya narkoba. Hingga tak terasa, lorong itu telah ia lewati bersama temannya yang bernama ‘Udin Tajudin’.

Udin Tajudin memiliki perawakan yang lebih besar dari Asep Saefudin. Dia memiliki kulit berwarna putih, setidaknya lebih putih dari Asep. Rambut keduanya disisir rapi. Tapi jelas sekali terlihat, Asep sebenarnya memiliki rambut ikal. Hanya saja karena rambutnya pendek—standar kepolisian—maka ikalnya tidak terlalu kentara. Keduanya memakai seragam kepolisian lengkap dengan atributnya. Terlihat dengan sangat jelas dari atribut yang mereka kenakan, mereka masih anggota Bintara, lebih tepatnya berpangkat Brigadir Polisi Satu atau Briptu.

Mereka berdua menuju layanan informasi rumah sakit. Berdiri disana ada sekitar lima perempuan, berjejer dengan kursi yang berbeda. Tiga diantaranya sedang melayani keluarga pasien atau mungkin orang yang ingin menjenguk. Dua perempuan lainnya lengah sambil duduk santai.

Briptu Udin dan Briptu Asep mendatangi salah satu perempuan yang sedang santai itu. Melihat ada polisi datang di hadapannya, perempuan yang tertulis nama ‘Indah Prameswari’ di meja layanan depannya—seperti meja lobi—langsung berdiri. Dengan ramah dia menawarkan jasa informasi yang sudah menjadi prosedur.

“Ada yang bisa saya bantu pak?”

“Ini ada surat dari Polres,” Briptu Udin menjulurkan surat yang sudah dia siapkan dari tadi.

Indah Prameswari membaca sepintas surat yang diberikan Briptu Udin. Selang beberapa detik, Indah duduk kembali untuk mengecek komputer. Beberapa kali terdengar suara ketikan tangan yang merupakan gesekan tangan Indah Prameswari dengan keyboard. Sekitar lima menit Indah masih memandangi layar komputer. Kemudian terdengar suara kertas di print. Hingga selanjutnya dia berdiri, dan memberikan kertas yang baru saja di printnya itu kepada Briptu Udin.

“Terima kasih,” Briptu Udin menutupnya sambil segera menuju ruangan yang tertulis di kertas yang dikasih oleh Indah.

“Sama-sama,” Indah Prameswari menjawabnya ramah, walau Briptu Udin dan Briptu Asep setengah hati mendengarnya.

Briptu Udin dan Briptu Asep menuju lantai dua. Melalui tangga-tangga yang umbagannya rendah-rendah. Mungkin tinggi diantara satu tangga dengan tangga lainnya hanya 15 sentimeter.

Hingga tibalah mereka di sebuah ruangan yang dari awal mereka target. Lagi-lagi peran Briptu Udin lebih banyak dari Briptu Asep. Dia membuka pintu ruangan.

Dalam satu kamar, terdapat tiga pasien. Dan semua pasien itulah yang merupakan salah satu korban dari tujuh belas yang luka-luka akibat perang gangster di jalan Wahid Hasyim. Ketiga korban yang berada di kamar tersebut, didampingi oleh keluarganya, satu dari mereka hanya ditunggui oleh ibunya saja. Kemudian dua yang lainnya ditunggu oleh dua orang, entahlah siapa yang menunggu, orang tuanya atau saudaranya.

Briptu Udin mulai membuka pembicaraan.

“Selamat siang, pak, bu.”

“Iya siang pak,” jawab seorang bapak yang merupakan orang tua dari salah satu korban.

“Begini pak, bu, kami ditugaskan dari Polres Cirebon untuk bertanya satu dua pertanyaan kepada anak bapak atau ibu. Mungkin hanya sekitar lima menit, tidak akan lama. Hanya beberapa pertanyaan klasik yang sudah menjadi prosedur.”

Kelima orang yang menunggu korban saling tatap. Diantara mereka mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan. Dan bapak tadi—satu-satunya bapak dari lima orang itu, tiga ibu-ibu dan satu lagi masih remaja—kembali mewakili mereka.

“Oh silahkan pak, kami berlima akan keluar dulu.”

“Terima kasih atas perhatiannya pak,” Briptu Udin tersenyum penuh ramah.

Kelima keluarga korban keluar ruangan. Orang terakhir yang keluar tersebut sekaligus menutup pintu.

Ketiga korban harap-harap cemas. Mereka tahu tindakan tawuran yang mereka lakukan dua hari yang lalu akan mengundang banyak polisi. Dari mulai setelah kejadian, polisi selalu datang ke rumah sakit. Dan ini yang ketiga kalinya bagi mereka, dengan orang yang berbeda.

Tak menunda banyak waktu, Briptu Udin langsung membuka dengan pertanyaan.

“Kalian satu geng?”

Ketiganya mengangguk.

“Siapa ketua geng kalian?”

Ketiganya saling tatap, dan mereka menggeleng. Briptu Udin tahu pertanyaan ini akan sulit dijawab. Dia tak bisa memaksa mereka membuka mulut. Mereka masih remaja. Berdasarkan pertanyaan yang katanya pernah diajukan di hari pertama, mereka masih berstatus sebagai pelajar SMA. Masih labil.

“Apakah kalian melihat pelaku yang membunuh empat orang yang mati kemarin?”

Korban yang terbaring di tempat duduk dekat pintu membuka mulutnya.

“Pada malam itu,” suaranya terbara-bata, “suasana perang benar-benar terasa. Bukan puluhan orang, bukan pula ratusan, tapi ribuan. Entah berapa ribu, yang jelas dari ujung jalan yang saya lihat sampai ujung lagi, semuanya seperti lautan manusia.

“Mereka garang. Membawa banyak senjata. Parang, golok, pedang, gir, semuanya. Saya tidak sempat melihat siapa yang dibunuh ataupun siapa yang membunuh. Tak ada yang memperhatikan hal semacam itu, kami fokus pada orang-orang di depan kami.”

Mendengar penuturan orang pertama, Briptu Udin kembali menggeleng. Investigasi yang dia lakukan bersama Briptu Asep akan mengalami banyak hambatan. Setiap anak gangster terikat dengan ketentuan geng-nya masing-masing. Mereka diam, atau mati dengan cara mengenaskan. Bahkan polisi saja, tak bisa memastikan keselamatan orang yang sudah diincar oleh gangster. Briptu Udin memahami hal ini, dia tahu desas-desus mengenai gangster yang sudah dipercayai seluruh anggota di Polres.

Tapi dia harus berusaha. Dia tak bisa memaksa mereka, setidaknya hingga hari ini. Hingga mereka masih di rumah sakit, dia tak bisa memaksa, dan memang seharusnya tak boleh memaksa.

“Kamu?” Briptu Udin menatap anak SMA yang terbaring di kasur tengah. Badannya kecil, lebih kecil dari kedua anak lainnya. Anak-anak gangster cuma berani keroyokan, karena jelas, jika satu lawan satu, mereka dapat dikalahkan dengan mudah. Pikir Briptu Udin.

“Demi Allah pak saya tidak tahu apa-apa!” anak itu menjawab dengan suara mantap, tapi terkesan dipaksakan.

“Kamu?” Briptu Udin sudah mulai frustasi. Dia menatap anak yang terakhir.

Untuk yang terakhir ini, jawabannya agak bertele-tele. Tapi intinya tetap sama. Nihil. Semuanya tak ada yang mau memberikan penjelasan. Briptu Udin pun tak bisa memaksa mereka, apalagi masih di rumah sakit. Pihak Polres sudah memberikan instruksi, bahwa pertanyaan kepada pelaku korban yang masih di rumah sakit hanyalah formalitas belaka. Hal ini hanya diperuntukkan bagi citra kepolisian, agar terlihat lebih sibuk, terlihat memang bekerja secara profesional, setidaknya dalam pandangan media massa. Pihak Polres pun tahu, mencari informasi keterangan terhadap anak-anak gangster, sama sulitnya dengan menyuruh mata-mata atau intelijen musuh untuk membuka mulut. Mereka semua komplotan. Satu kena, maka semuanya kena. Jika salah satu diantara mereka ada yang berani melaporkan, maka anggota yang lainnya akan mencari dia, dan Demi Tuhan, tak ada aparat apapun yang bisa melindunginya dari komplotan anak gangster.

Sudah beberapa kali hal itu terjadi. Sebut saja namanya Maman. Dia anak Bogor, masuk komplotan salah satu gangster. Entah karena apa, Maman berkhianat. Dia melaporkan komplotannya kepada pihak kepolisian.

Kepolisian langsung mencoba memburu komplotan yang dibocorkan oleh Maman. Tempat mangkalanya, sindikat-sindikat yang bekerja, dan adanya dugaan transaksi narkoba, serta segala yang diketahui Maman, semuanya nihil. Maman baru sadar, posisinya dalam bahaya. Ternyata, anak-anak gangster sudah tahu ketika Maman menginjakkan kaki di kepolisian. Maman langsung meminta kepolisian untuk melindungi dirinya. Beberapa polisi berjaga dirumahnya setiap jam. Tapi empat hari setelahnya, Maman dikabarkan meninggal dunia karena gantung diri.

Tetangga-tetangganya mengira Maman memang bunuh diri. Tapi polisi tahu, bahwa Maman benar-benar di bunuh. Tapi hal ini mereka tutup-tutupi karena mereka menganggap percuma. Andaikan mereka membuka mulut bahwa Maman dibunuh, masyarakat akan menuntut kepada polisi untuk mencari siapa pembunuhnya. Dan itu masalahnya. Polisi tidak benar-benar sistematis dalam menghadapi gangster.

Briptu Udin dan Briptu Asep memohon pamit kepada keluarga korban. Mereka berdua memasuki kamar-kamar lain. Masih ada empat belas orang yang harus mereka tanyai, meskipun mereka sudah tahu bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak ada gunanya. Tapi apa daya, ini perintah.

***

 

===================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab III – Bunglon Ala Intelijen (1)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat