home Restrayer Bab II – Kisah Seorang Penumpang (4)

Bab II – Kisah Seorang Penumpang (4)

Sebelumnya Klik Disini

 

Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Mobil sedan hitam berplat nomor AB. Dua orang berpakaian rapi—menggunakan jas dan kaca-mata hitam—keluar mobil dan mengetuk pintu rumah.

Karlina membuka pintu. Dia heran dengan penampilan dua orang di depannya. Tak lama kemudian Kompol Boni muncul di belakang Karlina.

“Siapa kalian?” tanya Kompol Boni.

“Kami diperintahkan Komjen Sudarta untuk menjemput anda, pak. Helikopter sudah tersedia di Lanud Adisucipto,” salah satu dari kedua orang berkaca mata hitam itu menjawab pertanyaan Kompol Boni.

Tiba-tiba Karlina membuka mulutnya dengan keras.

“Tidak tidak tidak. Bilang sama si Sudarta sialan itu, suami saya sedang cuti. Dia tak bisa sewenang-wenang memberikan tugas kepada bawahannya. Ini keterlaluan!” nadanya kuat dan tegas, sangat keras, penuh amarah.

“Eh eh eh, Karlina,” Kompol Boni bereaksi, “Apa-apaan ini?”

“Kamu sedang cuti kang, gak bisa dia se-enaknya seperti itu!”

“Tapi dia atasan aku.”

“Tak peduli. Setelah cuti aku sendiri yang datang menghadapnya. Aku sudah muak.”

Kompol Boni tahu keresahan istrinya. Dia masih memandangi Karlina. Tapi dia juga sadar, ada dua orang yang dari tadi melihat pertengkaran mereka.

“Tunggu sebentar,” Kompol Boni mohon diri kepada dua orang berkaca mata hitam tadi, kemudian masuk ke dalam rumah sambil menarik tangan Karlina.

“Pokoknya aku mau nanti ke Jakarta harus bareng sama kamu,” tegas Karlina.

“Ya udah kan bisa sekarang pake helikopter, gratis lagi.”

“Tidak, baru sehari kita di Jogja kang. Kita masih punya beberapa hari untuk menghabiskan waktu bersama. Tidak bisakah dia—Komjen Sudarta—memahami hal ini?”

“Bukan itu masalahnya lin. Entah mengapa, akang merasa ada sesuatu hal yang tidak beres. Atau mungkin ada sebuah kasus besar yang tidak bisa ditangani oleh junior-junior akang. Kamu tahu sendiri kan, akang dianggap sebagai anggota paling senior di Baintelkam. Kamu harus memahami posisi akang dong.”

“Tapi kang….” belum juga Karlina menyelesaikan kalimatnya, Kompol Boni sudah memotongnya.

“Stttt, akang janji, akang akan tegas kepada pak Darta. Akang akan datangi pak Darta. Andaikan pak Darta meminta akang untuk menyelesaikan sebuah kasus lagi, akang akan memberikan syarat cuti full satu bulan. Akang janji!”

“Omong kosong.”

“Akang serius. Memanggil anggota untuk bekerja dalam keadaan cuti bukan hal yang biasa lin. Akang tahu pak Darta sangat butuh kinerja akang. Dan akang bisa nego mengenai hal itu.”

“Akang janji?”

“Iya, janji.”

“Ya udah, Elin gak bisa berbuat apa-apa. Tapi satu hal yang harus diingat!”

“Apa?”

“Hati-hati, jaga kesehatan.”

“Itu sudah menjadi bagian dari kewajiban.”

Kompol Boni mencium kening istrinya. Mata Karlina sedikit berlinang, suasana yang seharusnya menyenangkan dirusak oleh atasan suaminya. Dalam hatinya dia benar-benar tidak terima.

“Akang pergi dulu, Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam,” Karlina menjawab salam suaminya dengan sangat berat.

***

“Kompol Boni?” tanya Wawan yang duduk di sebelah bapak-bapak anggota BIN di bus Mutiara Indah.

“Iya Kompol Boni, kenapa?” tanya Pak Sukino.

“Oh yang itu pak, pernah  namanya saya baca di koran di Singapura dalam bahasa Inggris. Tapi itu sudah lama, tahun 1999 kan kalau tidak salah? Saat itu bahasa Inggris saya masih sangat buruk, saya malas jika harus membaca berita-berita berbahasa Inggris.”

“Oh pasti, harusnya memang pernah dengar, namanya disebut-sebut di banyak media, entah itu televisi, radio, koran, semuanya menyebut-nyebut namanya.”

“Saya baru tahu nama itu sangat terkenal di dunia jalanan.”

“Namanya muncul setelah Kapolres Cirebon meminta bantuan kepada Kapolda Jawa Barat. Polres Cirebon tidak ingin kejadian kerusuhan antara warga dengan gangster di Cirebon dua tahun sebelumnya, yaitu tahun 1997 pas lagi krisis moneter terulang kembali.

“Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, Kapolres Cirebon meminta bantuan kepolisian daerah provinsi Jawa Barat. Polda Jabar sudah pernah bekerja sama dengan Polres Cirebon. Mereka juga sangat mengetahui mafia jalanan. Mereka sudah mengantongi banyak nama gangster di Jawa Barat, termasuk geng-geng di Cirebon dan sekitarnya. Tapi Kapolda Jabar pun tahu, mereka sedang menghadapi mafia yang sangat kuat.  Ada banyak beking yang membiayai para berandalan bermotor.”

“Terus apa yang dilakukan Polda Jabar pak? Tentunya mereka tidak diam begitu saja kan?”

“Oh tentu saja tidak. Kapolda Jabar berpikir keras untuk menyelesaikan permasalahan di Cirebon. Dua tahun sebelumhnya dia juga merasakan dampak dari kerusuhan Cirebon. Namanya lumayan tergoyang karena mendatangkan bantuan ke Cirebon, terkesan terlambat.

“Kapolda Jabar terus mengotak-atik otaknya. Anggota-anggota Polda Jabar tidak ada yang benar-benar bisa diandalkan. Kualitas lapangan mereka belum bisa dikatakan mampu untuk terjun ke dunia gangster.

“Kemudian tiba-tiba Kapolda Jabar ingat sebuah nama yang menjadi anggota hebat yang dulu pernah duduk di salah satu staff di Polda Jabar. Namanya Kompol Boni. Dia anggota yang berani. Berani mengambil resiko, berani mati dalam menjalankan tugas. Dia juga terkenal dalam mengatasi berbagai macam kasus ketika masih mengabdi di Polda Jabar.

“Dengan segudang prestasi itulah, Mabes POLRI merekrutnya untuk masuk di bagian intelijen mereka, Baintelkam POLRI. Ditambah pula, Kompol Boni merupakan warga asli Jawa Barat, dari Garut dia kalau tidak salah. Kapolda Jabar menganggap Kompol Boni pasti bisa diandalkan, terlebih medannya masih berada di Jawa Barat, secara kultur, dia akan dengan mudah berinteraksi, karena satu bahasa—bahasa Sunda—juga satu kebudayaan.

“Akhirnya Kapolda Jabar menghubungi Kapolri. Dia meminta Kompol Boni untuk membantu memecahkan kasus di jalanan. Mendengar apa yang disampaikan Kapolda Jabar, Kapolri langsung memerintahkan kepala Baintelkam untuk meminta Kompol Boni diberikan tugas ke Cirebon.

“Tapi sebenarnya kepala Baintelkam, Komjen Sudarta, itu serba salah.”

“Serba salah bagaimana pak?” tanya Wawan penasaran.

“Ternyata, sebelumnya itu Kompol Boni sudah meminta cuti selama satu minggu. Kompol Boni berlibur dengan keluarganya ke rumah mertuanya di Yogyakarta.  Tapi karena perintah ini dari kepala tertinggi POLRI, kepala Baintelkam gak bisa berbuat apa-apa.

“Akhirnya dia memerintahkan Kompol Boni untuk kembali lagi ke Jakarta. Dan Kompol Boni benar-benar menghadapi perjalanan kasus yang mengerikan.”

***

 

====================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab II – Kisah Seorang Penumpang (4)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat