home Restrayer Bab II – Kisah Seorang Penumpang (3)

Bab II – Kisah Seorang Penumpang (3)

Sebelumnya Klik Disini

 

“Jadi cutinya kang?”

“Jadi dong,” jawab Kompol Boni, yang ternyata pertanyaan tadi dari istrinya, Karlina.

“Berapa hari?”

“Pak Darta si bilang jangan lebih dari seminggu.”

“Ya udah seminggu full.”

“Dasar cewek, jalan-jalan terus kerjaannya.”

“Kapan lagi coba? Kamu hampir setiap hari kerja. Bahkan hari minggu pun kerja. Kalaupun lagi gak ada tugas, biasanya cuma tiga hari. Itu pun kamu gunakan buat istirahat, tidur seharian.”

“Iya, iya, tapi entar banyak masalah néng.”

“Masalah apa lagi?”

“Masalah di dompet! Haha.”

“Dasar cowok dimana aja juga sama, perhitungan.”

“Iya lah, mau makan pake apa kalo gak pake duit?”

“Ya bisa pake nasi, ditambah tempe sama sambel, kan udah lumayan.”

“Lah buat beli nasi sama tempenya pake apa bu?”

“Ya udah lah, terserah akang aja. Tapi eneng pengen 1 minggu full, titik.”

“Heuh dasar.”

***

“Ok rapat saya tutup. Saya kira semua hal sudah terbahas dengan tuntas. Untuk selanjutnya, saya menginginkan kerja sama dari semuanya, dan berkerja semaksimal mungkin.” Kombes Pol yang merupakan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Resort (Kapolres) Cirebon menutup rapat di pagi hari. Rapat yang membahas tentang permasalahan perang gangster di jalan Wahid Hasyim beberapa hari yang lalu telah menemui titik kesepakatan.

Cirebon sangat terkenal dengan kebrutalan anak jalanan. Bahkan lebih parah dari kota-kota lainnya di Jawa Barat, termasuk jika dibandingkan dengan Bandung sekalipun, yang katanya dianggap sebagai kota yang memulai gerakan-gerakan gangster di Indonesia.

Darah demi darah selalu tumpah setiap perang geng. Kerugian selalu saja dirasakan oleh masyarakat. Entah rumahnya yang rusak karena lemparan batu, atau motor/mobil yang rusak karena tidak sengaja melintasi jalanan yang sedang terjadi perang geng. Beberapa diantaranya bahkan mengalami korban nyawa dari masyarakat yang tidak tahu apa-apa.

Setelah banyaknya perang geng dan kejahatan jalanan, masyarakat menunggu tindakan nyata kepolisian. Tapi tindakan itu tak benar-benar berarti. Korban tetap berjatuhan. Kerugian tak bisa dibendung. Yang akhirnya masyarakat Cirebon sudah tidak bernar-benar percaya lagi kepada Polres Cirebon.

Ketika terjadi perang geng antara gangster Cirebon dan gangster Kuningan, warga Cirebon dengan jumlah massa yang sangat besar memukul mundur kedua gangster tersebut. Warga Cirebon melengkapi dirinya dengan parang, pedang, golok, pisau, batu dan segala hal yang biasa digunakan dalam tawuran. Tak ayal, dua  puluh satu anggota geng motor tewas sia-sia. Dan korban luka berjatuhan, sangat banyak sekali, baik dari pihak anak geng, maupun dari pihak warga.

Kejadian itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Dan itu sangat memukul Polres Cirebon. Banyak cibiran datang ke Kapolres Cirebon. Media-media nasional memberitakannya hampir setiap hari. Saking panasnya kejadian tersebut , Kapolda Jawa Barat menurunkan anggotanya untuk membantu mengamankan situasi di Cirebon.

Memang tindakan warga tak bisa dibenarkan menurut perspektif hukum. Tapi kenyataannya malah sangat terasa. Cirebon tak lagi dibayangi hantu jalanan. Warga Cirebon yang tadinya takut dan malas jika harus keluar malam, setelah kejadian itu sudah kembali normal.

Spanduk-spanduk banyak beterbangan di sekitar kota Cirebon yang membenarkan tindakan warga. Banyak dukungan yang diberikan kepada warga. Itu yang membuat Polres Cirebon seperti di skak mat. Mati tanpa taring. Mati tanpa kehormatan. Mati lebih sia-sia dari anggota geng yang di serang warga.

Polres Cirebon seperti bisu. Mereka tidak mau diwawancarai media, baik regional maupun media nasional. Mereka bingung. Kapolres pada saat itu, Kombes Pol Rudi Gunawan tidak bisa dihubungi untuk beberapa hari. Setiap polisi dianggap rendah di Cirebon dalam hari-hari pertama setelah peristiwa tersebut. Semua warga serasa tak butuh polisi.

Melihat situasi di Cirebon yang semakin memburuk, Kapolda Jawa barat, Inspektur Jendral Polisi (Irjen Pol) Tatang Suanda, mengutus anak buahnya untuk memberikan bantuan bagi Polres Cirebon. Dalam—sekitar—dua minggu, anggota Polda Jabar dan Polres Cirebon bekerja sama mengembalikan kepercayaan dan citra kepolisian dimata masyarakat. Beberapa seminar di laksanakan di setiap perguruan tinggi di Cirebon. Setiap jalanan di jaga oleh pihak kepolisian, bahkan hingga tengah malam. Lebih jauh lagi, masyarakat disuguhkan pemandangan yang sangat kontras. Biasanya polisi—mohon maaf—sangat sulit memberikan pelayanan dengan penuh senyum, tiba-tiba setiap polisi melebarkan mulutnya, tanda senyum yang sangat ramah.

Setiap hari disuguhkan dengan keramah-tamahan, warga sudah mulai terbiasa. Warga Cirebon sudah bisa melupakan ketidak-becusan polisi dalam menangani peristiwa besar beberapa hari yang lalu.

Dua tahun sudah Cirebon kembali normal. Kapolres pun sudah digantikan oleh Kombes Pol Dudung Ruanda. Warga dan polisi menganggap kebrutalan geng tak akan terjadi lagi, setidaknya tak akan parah. Tapi kejadian kemarin, kembali memukul Polres Cirebon. Pukulan keras, pukulan telak, pukulan kekalahan.

Kombes Pol Dudung Ruanda tak ingin mengalami nasib buruk seperti pendahulunya, Kombes Pol Rudi Gunawan. Setelah berita perang geng terjadi di jalan Wahid Hasyim, Kombes Pol Dudung Ruanda langsung mengadakan rapat esok paginya.

Rapat yang dimulai pada pukul setelah delapan pagi itu, sudah ditutup pada pukul sepuluh. Dua jam setengah. Menghasilkan banyak kebijakan untuk mengatasi peristiwa itu. Ada yang ditugaskan untuk menyelidiki pembunuhannya, yaitu mencari para pembunuh 4 korban. Ada juga yang diperintahkan untuk menjamin pembiayaan rumah sakit. Beberapa anggota lain mendapat tugas untuk meminta dana kepada pemerintah dalam mengganti kerusakan dan kerugian yang dialami warga.

Dan satu tugas lagi yang dibahas. Kombes Pol Dudung Ruanda tak ingin kejadian serupa terulang. Dia tak ingin mengalami nasib yang sama seperti Kombes Pol Rudi Gunawan. Dia harus menyelidiki akar gangster yang ada di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Dia harus menemukan otak dan para petinggi gangster. Dia akan memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada mereka. Tapi itu sulit. Kombes Pol Dudung Ruanda mengakui hal itu.

Banyak rumor yang datang hingga ke kepolisian, bahwa apa yang disebut gangster adalah mafia hukum yang memiliki kekuatan luar biasa. Ada beking dibelakangnya. Ada orang-orang berpengaruh, pejabat-pejabat, orang-orang kaya, atau siapapun itu, yang bermain dibelakang layar. Dan itu membuat polisi tak bisa masuk ke lingkaran setan gangster.

Dia harus mencari cara. Dan dia menemukan sebuah ide.

***

“Oh liburan ini benar-benar spesial kang,” Karlina tersenyum mesra kepada suaminya.

“Ah biasa saja,” Kompol Boni menjawabnya enteng.

“Ih nggak romantis banget,” Karlina memprotes, “jauh-jauh dari Jakarta ke Yogyakarta untuk liburan, dan kamu gak respect! Keterlaluan!”

“Iya-iya, spesial banget kok.”

Kompol Boni dan Karlina—sambil menggendong anak laki-lakinya yang masih berumur satu tahun lebih—sedang berada di salah satu keajaiban dunia yang dimiliki Indonesia, candi Borobudur.  Keduanya sedang berdiri di tingkatan candi yang paling atas. Terlihat nuansa alam berwarna hijau membentang luas, sangat indah sekali.

Tangan kiri Karlina menggendong si kecil Raka, sedangkan tangan kanannya menggenggam sebuah kamera digital. Satu momen dua momen dia curi sembunyi-sembunyi gambar suaminya. Kadangkala dia menyuruh Kompol Boni untuk memfoto dirinya.

Sudah lama, pikir Karlina, dia tidak mengunjungi Yogyakarta. Kota masa kecilnya, kota kelahirannya. Hampir satu tahun lebih dia tidak mengunjungi Yogyakarta, tak mengunjungi ibu-bapaknya. Bahkan Idul Fitri kemarin pun dia tak pulang mudik. Harus giliran ke rumah orangtua Kompol Boni yang berada di Garut, Jawa Barat. Dia hanya melampiaskan rindu kepada orangtuanya dengan mendengar suara mereka di telepon. Itu saja. Dan masa cuti suaminya itu dia manfaatkan betul untuk bertemu orangtuanya.

Menginjakkan kaki di Yogyakarta, kotanya para sultan, mengingatkan dia akan kehidupan masa kecilnya. Masa-masa SD, kemudian masuk SMP, dan terakhir SMA. Dia harus berpisah dengan kota kelahirannya dan dari orangtuanya setelah dia memutuskan untuk kuliah ke Bandung, tepatnya kuliah ke Universitas Padjadjaran dengan mengambil program studi Pendidikan Matematika.

Dia bertemu dengan Kompol Boni ketika Kompol Boni mendapatkan tugas untuk mengikuti perkuliahan di beberapa mata kuliah program studi Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran, salah satunya mata kuliah Peradilan Militer.

Dia bertemu dengan Kompol Boni di perpustakaan. Pertemuan yang konyol, pikirnya. Kompol Boni yang hidup di kepolisian, dengan pelatihan keras dan jauh dari berbagai macam teknologi seperti komputer—bahkan anggota baru polisi dilarang untuk menggunakan hp—harus bingung ketika laptopnya tiba-tiba mati. Beberapa kali Kompol Boni menekan tombol on. Tapi laptop tak juga menyala. Melihat perilaku orang asing yang kebetulan duduk disampingnya, dia langsung buka percakapan, “Mungkin baterainya habis kang.”

“Oh gitu yah, aduh gimana nih,” keluh Kompol Boni.

“Bawa chargernya?”

“Aduh saya tak tahu apa-apa. Ini laptop teman saya. Hanya beberapa kali saya menggunakan laptop, itupun teman saya hanya mengajarkan saya menyalakan laptop dan mematikannya, ditambah dengan membuka microsoft word untuk menulis tugas, hanya itu. Kebetulan saya meminjamnya, mungkin dia lupa mengajari saya tentang, apa tadi?”

“Charger.”

“Iya charger.”

Gaptek banget nih orang, pikir Karlina.

“Ya udah kang, tunggu dulu bentar,” Karlina merasa kasihan dengan orang asing disampingnya itu. Dia tahu laptop yang dia gunakan berbeda merk dengan laptop yang digunakan si orang asing itu. Chargernya pun berbeda. Tapi dia tahu siapa yang memiliki laptop dengan jenis yang sama. Dia telepon temannya, yang kebetulan temannya baru saja keluar kelas. Dia telepon, dan temannya itu datang ke perpustakaan dengan membawa charger laptopnya. Masalah pun selesai.

Tapi perkenalan diantara Karlina dan orang asing itu ternyata baru permulaan. Mereka saling bertanya nama, kemudian tukeran nomer hp, dan kita tidak akan membahasnya lagi. Terlalu panjang. Intinya, mereka sudah memiliki Raka, si anak kecil berumur lebih dari satu tahun.

Pikiran Karlina masih bernostalgia dengan keindahan masa lalu. Mereka duduk di tangga candi. Hal  yang juga dilakukan oleh beberapa orang, tentunya saling berdempetan agar tidak mengganggu arus jalan orang lain. Dan sengaja mereka memilih tangga turun, karena tangga naik biasanya lebih ramai.

Kompol Boni mengeluarkan makanan ringan dari tas yang dia gendong. Mengeluarkan juga air mineral. Dia minum air mineralnya, sedangkan makanan ringannya dia berikan kepada Karlina.

Karlina menikmati makanan ringan yang di berikan oleh Kompol Boni. Mereka sama-sama menikmati liburan kali ini. Hati Kompol Boni serasa plong bisa keluar dari rutinitas kepolisian yang membosankan. Tapi disisi yang lain juga, dia harus berpikir ekstra keras untuk tetap mngamankan keuangan keluarga. Jangan sampai liburannya kali ini mengganggu tabungannya. Itu yang saat ini ada dipikirkannya.

Keduanya saling memandang rumput-rumput di bawah sana—disekitar candi—yang sangat menyejukkan. Ketika tiba-tiba nada ponsel Kompol Boni berdering, menghancurkan suasana mesra keduanya.

“Halo…”

“Iya pak?”

“Saya sedang di Yogyakarta, bersama istri dan anak saya, sekalian mengunjungi mertua.”

“Apa? Bagaimana mungkin pak?”

“Tapi saya tak bisa kesana dalam satu malam pak, bayangkan saja perjalanan kereta yang ekspress saja bisa menghabiskan waktu sepuluh jam, dan biasanya dari Jogja baru berangkat tengah malam nanti. Naik bus apalagi, belum ditambah macet.”

“Apa? Helikopter?”

“Memang ada masalah serius apa?”

“Ya udah pak, saya tunggu helikopternya.”

Tuuuuuuuuuuuuuuutttt. Telepon ditutup. Wajah Kompol Boni kembali lusuh. Ditatapnya wajah istrinya yang dari tadi menikmati pemandangan. Karlina, tanpa menoleh Kompol Boni, bertanya.

“Dari siapa?”

“Biasa, Komjen Sudarta.”

“Ngapain lagi dia?”

“Entahlah, yang jelas, dalam beberapa jam ini helikopter akan menjemput akang. Kita pulang sekarang.”

***

 

===================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab II – Kisah Seorang Penumpang (3)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat