home Restrayer Bab II – Kisah Seorang Penumpang (2)

Bab II – Kisah Seorang Penumpang (2)

Sebelumnya Klik Disini

 

“Saudara, kita beralih ke berita lain yang datang dari kota Cirebon. Dua kelompok geng saling serang di jalan Wahid Hasyim Cirebon. Empat orang meninggal dunia, dan tujuh belas yang lainnya terluka serta dilarikan ke rumah sakit terdekat.”

Tayangan pembawa acara perempuan itu seketika hilang dan digantikan dengan tayangan kondisi sebuah jalanan. Toko-toko dan rumah-rumah warga yang berada di pinggir jalan banyak yang rusak. Kebanyakan kacanya pecah dan pagarnya roboh.

Ada tulisan di bawah tayangan itu.

 

Cirebon, Jawa Barat

Kerusuhan geng motor mengakibatkan rumah warga rusak

 

Muncul suara backround yang tentunya merupakan bagian dari karyawan televisi ini. Suaranya bukan suara pembawa acara perempuan yang tadi, tapi suara laki-laki.

“Perang geng motor kembali terjadi di Cirebon, Jawa Barat. Setidaknya 4 orang tewas dan 17 yang lainnya terluka, beberapa diantaranya mengalami luka parah hingga harus dilarikan ke UGD Rumah Sakit Ciremai. Kerugian pun dialami oleh warga sekitar. Beberapa rumah dan ruko yang berada di sepanjang jalan Wahid Hasyim banyak yang rusak akibat dari lemparan batu. Tidak diketahui sebab pasti perisitiwa ini. Tapi insiden ini telah ditangani oleh Polres Cirebon Kota. Dari Cirebon, Agung Firmansyah melaporkan.”

“Saudara,” pembawa acara perempuan itu muncul lagi, “KPK kembali menangkap Indah Putri, seorang artis yang diduga terlibat korupsi dalam kasus penyalahgunaan proyek pembangunan jalan tol. Jangan kemana-mana, Berita Nusantara akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini.”

“Sleeepppp,” suara televisi itu dimatikan.

“Lihat itu, sudah masuk ke media nasional. Sudah parah!” ucap seorang pemuda berseragam polisi di sudut ruangan.

“Kita tak boleh diam begitu saja, reputasi POLRI bisa dipertanyakan!” ungkap seorang polisi yang duduk paling depan, dia juga yang tadi mematikan televisi.

Dari penampilannya, kelihatan sekali bahwa polisi yang satu ini paling senior di ruangan itu. Atau mungkin memang pemimpinnya. Dengan seragam biasa, tapi memiliki atribut kepangkatan yang lumayan tinggi, dengan simbol atau tanda gambar bunga berwarna kuning tiga buah. Sudah dapat dipastikan bahwa orang ini merupakan polisi yang berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) yang merupakan tingkatan tertinggi di Perwira Menengah.

Suasana di ruangan tersebut memang tidak formal. Jam makan siang. Beberapa polisi malah sambil minum, memainkan hp, ada juga yang fokus ke komputer. Ruangannya memang di desain sebagai ruang tamu. Ada televisi di bagian barat ruangan paling tengah, kemudian ditengah-tengah ruangan terdapat kursi panjang—untuk tiga orang—dengan disertai meja. Kursi inilah yang menjadi tempat duduk Kombes Pol yang tadi kita bicarakan. Dibelakang kursi panjang terdapat dua meja komputer—tepatnya di masing-masing ujung dinding sebelah timur—yang saling berhadapan. Peralatan komputer lengkap. Dan di sebelah utara, terdapat kursi panjang yang terbuat dari kayu. Kursi ini cukup untuk diduduki sekitar lima orang, dan pada saat itu terdapat 3 polisi yang sedang duduk.

“Tapi kita tahu sendiri pak, mereka mafia, mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa kita tembus,” polisi yang duduk di kursi kayu sebelah utara mulai bicara, ditangan kanannya dia memegang botol air mineral.

“Saya tahu saya tahu,” Kombes Pol kembali bersuara, “Ada beberapa pihak yang memang melindungi mereka, saya paham itu. Tapi, oh ayolah, reputasi kita bakalan hancur. Masyarakat tak akan lagi mempercayai kita!”

“Harus ada rapat khusus segera. Amir, siapkan jadwal esok hari untuk membahas ini! Beritahu si Kokom”, lanjut pak Kombes Pol.

“Siap pak laksanakan,” seorang polisi yang dari tadi didepan layar komputer itu menjawab pernyataan atasannya.

***

Tertulis nama “Kompol Boni” di papan nama sebuah meja kerja. Dibelakang meja duduk seorang pemuda bertubuh kekar, menggunakan seragam polisi lengkap beserta atributnya. Dia duduk dengan santai. Kompol Boni merupakan anggota tetap Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Mabes POLRI, salah satu unsur pelaksana tugas pokok yang merupakan bagian dari Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Kompol Boni merupakan anak emas dari Komjen Sudarta, Kepala Baintelkam. Maksudnya anak emas, Kompol Boni selalu diberikan tugas yang berbahaya dari Komjen Sudarta. Hal ini mengisyaratkan bahwa Komjen Sudarta sangat mempercayai bawahannya tersebut.

Bukan tanpa alasan, beberapa penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Kompol Boni selalu membuahkan hasil yang memuaskan bagi Komjen Sudarta. Bahkan Kompol Boni beberapa kali dibutuhkan oleh BIN—Badan Intelijen Negara—dalam mengungkapkan beberapa kasus penting negara. Lebih jauh lagi, Kompol Boni pernah membongkar beberapa kasus korupsi setelah dia direkrut sementara oleh KPK, tentu saja dengan persetujuan Komjen Sudarta.

Hari ini dia duduk dengan santai. Baru saja kemarin dia menyelesaikan sebuah kasus percobaan pembunuhan berencana seorang karyawan kepada bosnya sendiri. Dan dia berhasil. Dia berhasil menangkap si pelaku sebelum berhasil membunuh bos kantornya yang dinilai arogan.

Jadi sungguh nikmat duduk di ruangannya sendiri, duduk di kursi empuk yang bisa diputar, bergoyang ke kiri ke kanan dengan kursinya itu, sambil menutup mata dengan rileks. Dia berpikir beberapa hari kedepan dia akan mengalami hari yang sama, hari yang santai. Dia berpendapat bahwa Komjen Sudarta—atasannya—akan memberikan waktu sekitar lima hari untuk beristirahat. Andaikan ada kasus pun, tentunya beliau akan mempercayakannya kepada anggota yang lain. Dia berpikir begitu, dan dia senang sekali.

Sudah saatnya mengambil cuti untuk bertamasya dengan istri dan anaknya yang masih kecil. Kompol Boni menikah sekitar tiga tahun yang lalu. Baru dikaruniai anak dua tahun setelahnya. Dan sekarang, anaknya yang berjenis kelamin laki-laki itu sudah menginjak angka setahun lebih beberapa bulan, dia tidak tahu persis.

Dia langsung berdiri dari tempat duduk empuknya. Menuju tempat duduk di pojok ruangan yang sudah tersedia komputer full set. Dia sudah berpikir bulat. Dia akan mengambil cuti untuk beberapa hari ke depan, kalau bisa satu minggu full, pikirnya.

Dia mulai mengetik di komputer ruangannya. Sebenarnya tidak mengetik dari awal. Hampir seluruh dokumen atau berkas mengenai hal apapun, sudah tersedia dalam sebuah folder. Termasuk surat izin cuti. Hanya butuh mengedit beberapa kata saja, seperti hari, tanggal, tahun, dan beberapa perubahan yang dianggap perlu. Dia menyadari masalah seperti ini hanyalah formalitas. Apalagi Komjen Sudarta sudah sangat dekat dengan dirinya. Kesalahan beberapa kata tak akan berpengaruh dalam kebijakan Komjen Sudarta dalam menerima surat cutinya.

Dia membuka file yang berjudul ‘Contoh Surat Izin Cuti’ dalam sebuah folder ‘Berkas Penting’. Dia edit beberapa kata-kata yang memang seharusnya di edit.  Setelah dianggap selesai, dia klik ikon di pojok kiri atas, dan memilih tulisan ‘print’. Suara ‘kret-kret-kret’  terdengar menghapus keheningan. Beberapa puluh detik kemudian, hasil print pun keluar secara lengkap. Kompol Boni mengambilnya dan melipat surat tersebut dengan lipatan yang sama seperti halnya melipat undangan nikah.

Dia kembali duduk ke kursi empuknya. Dia membuka laci kecil dalam meja. Dia mengambil sebuah amplop. Sebenarnya tanpa harus memakai surat apalagi memakain amplop segala, Komjen Sudarta akan mengizinkannya. Dia merasa sudah lama sekali tidak mengambil cuti. Seharusnya Komjen Sudarta akan memberikan izin. Pikirnya. Tapi tentu saja, semua ini hanyalah formalitas.

Dia masukkan surat yang sudah di printnya kedalam amplop. Tanpa memberikan lem pada amplopnya, dia langsung berdiri dan menuju pintu ruangan. Dia buka pintu dan keluar ruangan.

Dia berdiri beberapa saat di depan pintu yang bertuliskan ‘Ruangan Kepala, dilarang masuk kecuali yang berkepentingan’.

Dia ketuk pintu tersebut. Tiga kali ketukan, tak ada jawaban. Dia mulai ragu. Tapi mencoba memberanikan diri. Dia ketuk tiga kali lagi. Dan ah, pikirnya, ada jawaban.

“Masuk.”

‘Kreeeeeeeettt,’ suara pintu dibuka.

“Oh, dikira siapa,” orang yang duduk di ruangan tersebut membuka suara, padahal Kompol Boni baru saja melewati beberapa senti dari pintu.

“Silahkan duduk, gak usah tegang seperti itu, nyantai saja,” Komjen Sudarta mempersilakan Kompol Boni untuk duduk.

“Hehehe,” Kompol Boni menanggapinya dengan senyum kecil. Kemudian duduk.

“Bon, Bon, dibandingkan bawahan yang lain, kamu yang paling sering masuk ruangan ini. Tapi tingkahmu itu serasa tegang terus kalau masuk ke sini.”

“Biasa pak, aroma kewibawaan bapak kadang membuat seluruh anggota ciut,” Kompol Boni mulai menanggapi ucapan atasannya.

“Ah bisa saja. Tapi ngomong-ngomong ada apa nih? Mau minta kasus lagi?” Komjen Sudarta mulai menatap Kompol Boni dengan tatapan tajam, namun tetap nyantai.

“Wah bapak ini, kan baru kemarin saja selesai tugas pak,” jawab Kompol Boni dengan penuh canda.

“Lantas?”

“Jadi gini pak, saya kan, mmmm, gimana yah ngomongnya jadi susah,” Kompol Boni mulai tampak ragu.

“Katakan saja tak usah malu-malu seperti itu.”

“Saya kan sudah lama gak libur gitu pak, …” sebelum Kompol Boni melanjutkan kata-katanya, Komjen Sudarta sudah memotongnya.

“Oh dikira apa, mau cuti?” tanya Komjen Sudarta.

“Iya pak,” jawab Kompol Boni sambil menganggukkan kepala.

“Astaga Boni, ya silakan, itu hak kamu. Asal jangan lebih dari satu minggu. Silakan bersenang-senang, apalagi sekarang kan sudah punya baby yang, berapa umurnya?”

“Satu tahun lebih pak”

“Oh ya, jadi yah silakan saja, saya tidak masalah. Apalagi kasus-kasus sekarang tidak ada yang benar-benar gawat. Semuanya saya kira dapat diselesaikan oleh junior-juniormu.”

“Wah terima kasih banyak pak”

“Iya sama-sama”

“Oh iya pak, ini surat permohonan izinnya,” Kompol Boni menyerahkan surat yang sudah dia print tadi kepada Komjen Sudarta.

“Ya terima kasih. Memang, formalitas itu penting.”

***

 

======================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab II – Kisah Seorang Penumpang (2)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat