home Restrayer Bab I – Ruh Perjalanan (2)

Bab I – Ruh Perjalanan (2)

Sebelumnya Klik Disini

Polesan warna biru muda bus Mutiara Indah melaju dengan kecepatan normal. Satu demi satu kendaraan—baik sepeda motor maupun mobil—disalipnya dengan hati-hati. Tak jarang bus-bus lain menyalip dengan kecepatan yang membuat jantung berdebar-debar.

Pasti bus Jawa Barat, pikir si sopir.

Bus-bus yang berasal dari Jawa Barat memang sangat terkenal merajai jalanan. Apalagi bus-bus dari Jawa Barat bagian timur, seperti Cirebon, Kuningan maupun Ciamis. Kecepatan hampir seratus kilometer per jam di tengah jalan yang ramai, membuat bus-bus lain minggir. Bukan tanpa alasan, kebanyakan bus-bus dari Jawa Barat masih menggunakan sistem kejar setoran. Itu artinya, setiap bus berlomba untuk mencari penumpang. Segala macam tindakan dihalalkan. Saling sikut, saling adu jotos, tak jarang terjadi dikalangan sopir bus Jawa Barat. Bahkan sering terjadi keributan di terminal Pulogadung antar sesama sopir Jawa Barat, bahkan dari PT yang sama, saling serang, saling ejek, dan saling pukul, hanya karena saling salip dan mencuri penumpang yang seharusnya menjadi haknya.

Meskipun pihak perusahaan sudah memberikan jadwal keberangkatan, sekitar lima belas menit sekali, tapi karena sistem yang digunakan masih sistem kejar setoran, saling sikut itu tak akan pernah hilang. Gaya ortodoks ini seharusnya sudah lenyap ditengah-tengah kebutuhan masyarakat akan alat transportasi yang aman dan nyaman.

Tapi itulah liciknya perusahaan. Keuntungan dengan sistem kejar setoran jauh lebih besar dari sistem gaji. Pemasukan terjamin, tapi tidak mengindahkan kenyamanan penumpang. Para sopir dan kernet pun sudah terbiasa hidup di tengah jalanan yang keras. Tak akan mungkin anda menemukan mobil bus dari Jawa Barat yang masih menggunakan sistem kejar setoran, bodinya mulus dan terawat. Tak mungkin. Semuanya pasti berantakan, bagaikan rambut orang gila yang tak pernah dicukur dan disisir. Tak terawat, kumuh, kotor, sumpek dan bau. Tak enak jika harus naik bus-bus seperti itu.

Tapi apa daya, masyarakat Jawa Barat tak bisa berbuat banyak. Bus-bus jelek itu terus saja dinaiki, karena tak ada lagi bus lain yang bisa digunakan. Persaingan perusahaan bus di Jawa Barat masih sedikit. Setiap kota paling banter punya tiga perusahaan bus, itupun semuanya sistem kejar setoran. Kalau pun salah satunya dengan sistem gaji, bus-busnya nyaman, ber-AC dan pelayanannya ramah, tapi harga yang ditawarkan sangat mahal untuk ukuran bus seperti itu di daerah lain.

Tengok saja jika kita lihat bus-bus asal Jawa bagian tengah hingga timur. Dari Jakarta mereka bagaikan bekicot yang berjalan sangat hati-hati. Kenyamanan penumpang menjadi prioritas utama. Berbeda dengan bus-bus asal Jawa Barat—entahlah kemana mereka pergi, ke Bandung, Bogor, Cirebon, Kuningan, dan sekitarnya—semuanya bagaikan burung-burung elang yang siap memangsa makanannya. Terbang dengan kecepatan sangat tinggi, tak jarang harus menabrak ranting pohon yang terkibas angin.

Jadi bukan tanpa alasan si sopir bus Mutiara Indah berpikir bahwa bus yang nyerempet busnya dengan kecepatan luar biasa pasti berasal dari Jawa Barat. Terbukti, belakang bus tersebut tertulis dengan jelas, “Jakarta-Kuningan”.

Bus pun terus melaju dengan kecepatan normal. Hingga tibalah bus berhenti.

Si sopir mengeluarkan tangannya, kemudian kembali memasukkannya lagi dengan sebuah benda menempel di tangannya. Kita tahu apa yang dipegang oleh si sopir. Tentu saja,  kartu jalan tol.

Si sopir menutup jendela yang dari tadi terbuka. Sudah sewajarnya di jalan tol, setiap mobil akan menutup jendelanya, karena akan melaju dengan kecepatan tinggi.

Sedikit demi sedikit bus menambah kecepatan. Teriakan anak-anak menambah suasana bus semakin ramai. Ditambah dengan nyanyian Doel Sumbang yang sudah masuk di lagu kesekian, judulnya ‘Beja ti Jurig”. Jeritan anak-anak, “Ngeng-ngeng-ngeng,” membuat perjalanan dengan menggunakan bus sangat mengasyikkan.

Bus terus melaju. Hingga terbentanglah tulisan di pintu tol, “Gerbang Tol Cikampek”. Bus Mutiara Indah ini memilih jalur yang khusus mobil besar, gerbangnya berada di sebelah kiri. Ada sekitar lima mobil di depan bus Mutiara Indah, dua yang paling depan adalah truk, dan tiga selanjutnya adalah bus. Antrian ini cukup untuk si sopir mempersiapkan uang pembayaran. Entah berapa uang yang dikeluarkan, tapi setelah si sopir telah siap dengan uangnya, antrian pun semakin berkurang. Tibalah giliran bus Mutiara Indah membayar jasa tol. Si sopir memberikan uang dan kartu tol kepada penjaga gerbang tol, seorang perempuan yang—kelihatannya—lumayan berparas manis. Beberapa detik bus berhenti karena menunggu uang kembalian, dan kemudian melaju dengan kecepatan rendah.

Sopir terus menekan pedal gas. Bus berjalan seperti biasa. Kemudian kecepatannya dikurangi, karena didepan merupakan pertigaan Cikampek yang menjadi arus paling ramai di Cikampek. Arah kanan merupakan arah menuju Purwakarta kota hingga tembusannya bisa masuk ke kota Bandung melalui tol. Sedangkan ke sebelah kiri menuju kota Karawang, selanjutnya menuju Cirebon melalui Pantura.

Si sopir sudah lihai. Dia tahu jalan mana yang harus dia ambil. Arah kiri, tentu saja. Lampu sen kiri dia nyalakan. Dan dengan perlahan, bus membelok ke arah kiri menuju Karawang kota. Bus terus melaju.

Hingga akhirnya, beberapa—paling cuma 1,5 km—kilometer dari pertigaan Cikampek, dua orang berjaket hitam melambaikan tangannya ke arah bus.

Si sopir dan si kernet sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Si sopir tentu saja berhenti, dan si kernet membuka pintu bus.

Dua orang yang tadi menghentikan bus masuk melalui pintu depan. Bus melaju seperti biasa. Satu dari dua orang itu memiliki tubuh kerempeng, kurus sekali. Wajahnya pucat, matanya kehitam-hiataman. Bagi mereka yang hidup di dunia gelap, pasti tahu bahwa bodi orang ini merupakan ciri dari mereka para pencandu narkoba. Memakai jaket hitam dengan warna garis yang melingkar pundak berwarna kuning. Belakang jaketnya dengan jelas bergambarkan tengkorak berwarna merah dan putih serta dibawah gambar tengkorak itu bertuliskan kata Restrayer. Setiap sopir sudah tahu. Setiap kernet sudah tahu. Setiap orang yang hidup dijalanan pasti sudah tahu. Tapi tentu saja tidak semua orang mengetahui, termasuk beberapa penumpang di bus. Sedangkan orang yang satunya memiliki fisik yang jauh berbeda. Sangat kontras antara satu dengan yang lainnya. Dengan memakai jaket yang sama, orang yang satu ini memiliki tubuh yang besar, six pack. Otot-ototnya menonjol dibalik jaket yang ia gunakan. Wajahnya sangar, menggunakan kacamata hitam layaknya seorang intelijen di film-film Hollywood.

Tapi orang awam pun akan tahu, walau salah satunya memiliki tubuh yang besar dan berotot, tapi semua pasti setuju, bahwa bos diantara mereka berdua adalah si kurus kerempeng. Dapat terbaca dari cara mereka berjalan. Si kerempeng berada di depan sedangkan si tubuh besar berada di belakangnya.

Si kerempeng melihat wajah-wajah yang duduk paling depan. Ibu-ibu dan anak-anak, pikirnya. Dia langsung maju ke barisan kedua dengan diikuti oleh si tubuh besar. Ada pasangan muda-mudi yang duduk dibarisan kedua sebelah kiri. Si kerempeng menjulurkan tangan kanannya seperti seorang pengemis.

Si pemuda yang duduk di samping pasangannya tampak bingung, karena mungkin dia baru mengalami hal ini. Maklum saja, dia biasa berangkat dari Jakarta ke Yogyakarta menggunakan jasa kereta api. Jadi ini adalah pengalaman pertama dia melintasi jalanan Jawa Barat menggunakan kendaraan umum.

Si kerempeng menengok partnernya yang bertubuh besar. Melihat keadaan ini, si tubuh besar mengerti situasi yang terjadi. Dia maju dan mengepalkan tangan kanannya sambil berdehem, “ehem”.  Si pemuda yang duduk baru sadar dia berhadapan dengan siapa. Hampir saja pasangannya yang perempuan menjerit, ketika tiba-tiba si pemuda langsung menepuk pinggangnya sambil berbisik, “Jangan teriak!”.

Kemudian si pemuda mengeluarkan uang dua puluh ribuan kepada si kerempeng. “Mohon jangan ganggu kami mas,” si pemuda memelas.

Si kerempeng sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak mempedulikan kata-kata si pemuda yang sedang duduk, si kerempeng langsung menuju ke barisan selanjutnya. Tentu saja, si bapak-bapak yang duduk di barisan ketujuh sebelah kiri.

Dengan tindakan yang sama, si kerempeng menjulurkan tangan kanannya. Si bapak seharusnya tahu apa yang harus dia perbuat. Melihat apa yang sudah dilakukan si pemuda di kursi kedua, seharusnya si bapak melihat adegan sebelumnya.

Si bapak terlihat polos. Tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Atau memang hanya pura-pura.

“Ada apa mas?” tanya si bapak polos.

“Ada apa ceunah?” si kerempeng mengulangi ucapan si bapak sambil nengok ke si tubuh besar. Keduanya tertawa kecil merendahkan.

Tanpa komando lagi, si tubuh besar maju. Seperti biasa, gertakan yang membuat orang—seharusnya—bergidig takut. “Ehem”.

Si bapak tampak tak bergeming, tetap dengan kepolosannya. Seperti tak memahami apa yang seharusnya ia lakukan.

Melihat tingkah laku si bapak yang dari tadi tak mengerti apa yang diinginkan, si tubuh besar menarik kerah baju si bapak, hingga si bapak yang tadinya duduk menjadi berdiri. “Serahkan uang koplok!” bentak si tubuh besar.

Tak disangka, dan tak akan mungkin ada yang menyangka. Si  bapak yang wajahnya sudah mulai berkeriput, sebenarnya jika melihat fisiknya, memiliki otot yang—memang lebih kecil dari si tubuh besar—lumayan kuat, melawan si tubuh besar. Tak disangka, dengan gerakan cepat, si bapak memukul wajah si tubuh besar, hingga terdorong kebelakang. Si kerempeng yang dari tadi cuma menjadi penonton, melihat apa yang dilihatnya, tentu menjadi geram. “Bangsatt!” si kerempeng langsung maju dengan mencoba memukul si bapak. Tapi tentu saja, dari fisik saja sudah dapat terlihat mana yang akan tersungkur lebih dulu.

Pukulan si kerempeng dengan mudah di tangkis oleh tangan kiri si bapak, kemudian dengan sigap tangan kanannya memukul si kerempeng, tepat di mukanya. Darah muncrat dari mulut si kerempeng, karena jelas, pukulannya sangat keras sekali.

Teriakan-teriakan ibu-ibu dan anak-anak semakin menggema. Melihat kejadian itu, ibu-ibu dengan cepat menutup mata anak-anaknya, karena menganggap kejadian yang mereka lihat sangat tidak pantas disaksikan oleh anak kecil.

Beberapa detik hening. Hingga tibalah si tubuh besar dan si kerempeng bekerja sama untuk melumpuhkan si bapak. Dengan gerakan cepat, si tubuh besar mengeluarkan sebuah pisau yang dari tadi tersimpan di belakang celananya. Si tubuh besar menggerak-gerakkan tangan kanannya yang sudah dipersenjatai pisau, sementara si kerempeng juga menggerak-gerakkan tangannya ke arah si bapak dari arah yang lain, tepat dari tempat duduk di barisan ke enam, berarti dari depan kursi si bapak. Sedangkan mata si bapak tetap fokus pada si tubuh besar yang berdiri tepat di tengah bus, diantara kursi duduk penumpang.

Melihat situasi ini, si kerempeng tak akan menyia-nyiakan situasi. Dia ambil sebuah pukulan keras ke aras si bapak, hingga mengenai pundak kirinya. “Blak,” si bapak mulai mengerang kesakitan. Sementara matanya melihat si kerempeng, si tubuh besar dengan lincah mengayunkan pisaunya dan “plas” mengenai tangan si bapak. Jeritan “Akhhhh” keluar dari mulut si bapak. Darah mengucur lumayan deras dari tangannya.

Tak ada yang menolong. Sopir menjalankan busnya seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Pun demikian dengan si kernet, acuh dan tak mau terlibat. Si pemuda yang duduk di kursi nomor dua memeluk pasangannya yang dari tadi menutup telinganya. “Tenang saja, kita akan selamat, kita tak akan di apa-apakan,” bisik si pemuda kepada pasangannya.

Sayang sekali di barisan belakang, semuanya hanyalah ibu-ibu, perempuan-perempuan muda serta anak-anak, yang tentunya tak akan berani membantu. Ada memang seorang pemuda yang tiduran menggunakan sarung, tapi sepertinya dia benar-benar tidur. Hanya si pemuda yang dari tadi duduk di kursi barisan ketujuh sebelah kanan—yang tadi naik bus paling akhir dengan berlari mengejar bus—yang diharapkan oleh si bapak menolongnya. Tapi si pemuda itu pura-pura tidak tahu kejadian yang sebenarnya berada di sampingnya itu. Pemuda itu memalingkan wajahnya ke arah luar, sehingga apa yang terjadi, sama sekali tak terlihat olehnya, walau memang suaranya dapat terdegar dengan jelas.

Si bapak memahami arti diam si pemuda. Tentunya dia takut. Lebih memilih cari aman dibandingkan dengan harus mencari mati. Walau tubuhnya besar, tapi tentu saja, melawan komplotan bukanlah sebuah ide yang bagus. Si bapak memahami itu, ia tak menyalahkan si pemuda yang tidak menolongnya.

Dengan kecewa, si bapak mendesah.

Tangan kanan si bapak meraba-raba benda yang berada di kanan celananya. Dan….

“Jangan bergerak!” dengan cepat si bapak mengeluarkan sebuah pistol dan diarahkan kepada si tubuh besar dan si kerempeng saling bergantian. Kemudian tangan kirinya mengambil sebuah benda dari saku bajunya, sebuah identitas. Identitas itu ia tunjukkan kepada preman-preman bangsat itu.

“Jangan bergerak, saya dari BIN!”

Melihat situasinya yang semakin kacau, keduanya langsung lari ke belakang bus dengan terburu-buru. Si kerempeng berteriak dengan keras, “Berhenti pir!”.

Si sopir mendengar jelas apa yang ia dengar. Ia menginjak rem, dan bus pun berhenti agak mendadak. Para penumpang—khususnya ibu-ibu—dengan serempak membaca “Astaghfirullah”.

Keduanya pun turun dan “brak”, suara pintu tertutup. Semua penumpang bus pasti tahu, bahwa kedua berandal itu sudah turun dari bus.

Tapi si bapak masih memegang pistolnya. Ibu-ibu masih takut dan masih menutup mata anak-anaknya. Seolah memahami situasi, si bapak langsung memasukkan kembali pistol yang ia keluarkan. Ia pun duduk kembali seperti biasa.

***

 

====================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab I – Ruh Perjalanan (2)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat