home Restrayer Bab I – Ruh Perjalanan (1)

Bab I – Ruh Perjalanan (1)

Tengkorak I

Ruh Perjalanan

 

“Jogja-Jogja-Jogja”, kernet bus Mutiara Indah itu bersuara lantang di terik siang yang sungguh panas. Apalagi dengan cuaca ibu kota yang iklimnya sudah sangat memprihatinkan. Setiap kernet pasti akan bersuara sangat lantang seperti itu, apalagi bus yang akan dia komandoi bersama sopir akan berangkap satu jam lagi. Keadaan bus belum penuh, bahkan sangat sedikit. Sepi sekali. Tapi hatinya tidak terlalu risau. Perusahaan busnya merupakan perusahaan yang sudah maju, tidak se-ortodoks beberapa perusahaan bus di Jawa Barat yang masih menggunakan sistem kejar setoran. Di Mutiara Indah, menggunakan sistem gaji. Jadi kernet tersebut tidak terlalu khawatir walau harus pergi dari Jakarta hanya dengan penumpang yang sangat sedikit.

Terlihat baru 12 orang yang sudah duduk di bus patas ekonomi ber-AC tersebut. Lima diantaranya adalah anak-anak yang masih kecil, seusia lima tahun sampai sepuluh tahunan. Masih kecil. Bermanja-manjaan kepada ibu-ibunya. Kadang kala—tidak terlalu sering—pedagang naik ke atas bus untuk menjajakan barang jajanannya. Ada tukang lontong beserta tempe gorengnya, ada juga tukang aqua dan minuman-minuman segar yang masih dingin. Pun juga terlihat ada tukang mainan dan beberapa pedagang lain yang naik ke bus tersebut. Tidak sesering bus lain pastinya. Bus dengan fasilitas AC biasanya jarang penumpang karena harganya yang lumayan tinggi. Kebanyakan dari penumpangnya juga selalu membawa makanan dari rumahnya. Hal itu dibaca dengan baik oleh para pedagang. Mereka lebih suka berdagang di bus-bus yang sumpek, tak ber-AC, karena selain penumpangnya banyak, kebanyakan dari mereka juga pasti membutuhkan makanan dan minuman di tengah perjalanan. Maklum, berdiri di tengah bus selama perjalanan akan membuat seseorang pegal dan merasa lapar. Belum lagi hawanya yang pastinya akan terasa sangat panas karena sumpeknya bus.

Belum terlihat adanya penumpang yang naik ke bus Mutiara Indah. Tubuh si kernet terus menerus mengeluarkan keringat. Maklum, cuaca Jakarta sungguh luar biasa panasnya. Hampir berbanding terbalik dengan keadaan Jakarta tempo dulu, setidaknya sepuluh tahun yang lalu. Di era ini, gedung-gedung tinggi terus berlomba membangun kerajaan bisnisnya, tak bisa kita bedakan lagi dengan kota-kota besar yang dimiliki negara-negara maju.

Terminal Pulogadung semakin gaduh. Kendaraan demi kendaraan lalu lalang, masuk dan keluar terminal. Selain bus, terlihat pula angkot, mobil-mobil elf, kopaja, ojek, becak dan segala jenis kendaraan yang lain.

Memang iya, pikir si kernet, terminal tidak terlalu ramai pertengahan bulan seperti ini. Ditambah dengan hari kerja, senin lagi, sudah pasti terminal jarak jauh—maksudnya melayani rute jarak jauh—seperti Pulogadung ini sepi. Sangat jauh berbeda jika harus dibandingkan dengan akhir pekan apalagi di akhir bulan, banyak yang benar-benar rindu dengan keluarganya. Tapi se-sepi-sepinya Pulogadung, ratusan orang tetap terlihat sibuk. Salah satu terminal legendaris ini memang menjadi kebanggaan warga Jakarta.

Si sopir bus sudah ancang-ancang menaiki bus. Kernet tetap dengan suara nyaringnya, mencari penumpang. Masih tersisa sekitar setengah jam waktu normal untuk bersiap-siap berangkat.

Sopir bus mencoba menghidupkan mesin. “Tseh-tseh-tseh”, suara stater mobil terdengar si anak kecil di dalam mobil. Si sopir mencoba untuk yang kedua kalinya. “Tseh-tseh-tseh”, tetap gagal. Dan di percobaan yang ketiga, mesin mobil pun menyala. Anak-anak yang berada di dalam bus begitu gembira dan tidak sabar mobil melaju, apalagi berjalan di tol, mereka sangat suka sekali. Tapi ternyata sopir bus baru menghangatkan mesin. Biasa, perjalanan sangat jauh. Sopir turun dan mengecek beberapa bagian mobil. Dia mengecek ban depan, kemudian berjalan ke arah belakang bus, dia mengecek ban belakang. Kemudian dia lanjutkan ke sisi bagian kanan bus. Setelah selesai mengecek ban mobil, si sopir kemudian masuk ke kolong bus, mengecek untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, takutnya ada sambungan kabel yang putus atau beberapa bagian yang cacat.

Si kernet tetap nyaring. Suaranya mengalahkan mesin bajaj yang melintas di seberang warung. “Jogja, Jogja, masih kosong, masih kosong”, teriaknya. Kemudian dia masuk ke dalam bus. Ternyata dia mengambil sebotol air mineral, diminumnya air mineral yang diambilnya itu. Plong, rasa haus yang dari tadi dia alami, serasa hilang dengan aliran air yang membasahi kerongkongannya. Ditambah pula, efek suara yang dari tadi ia keluarkan, membuat semuanya kembali fresh.

Ketika dia turun lagi dari bus untuk—lagi-lagi—teriak-teriak, tiba-tiba seorang bapak-bapak, dengan dua kardus di tangannya, mencoba masuk ke dalam bus.

“Jogja pak?”

“Iya mas,” jawab si bapak-bapak itu.

Dengan sigap si kernet mengambil dua kardus dari tangan bapak-bapak itu, lalu kemudian dia masukkan ke bagasi bus yang berada di samping kiri bus. Sementara si bapak yang tadi masuk bus dan duduk di kursi sebelah kiri, barisan ke tujuh. Beberapa orang lebih suka duduk paling depan, ada juga yang suka duduk paling belakang, dan tentu saja ada yang lebih memilih untuk duduk di kursi yang tengah. Dan si bapak ini pasti masuk kategori yang terakhir.

Bus Mutiara Indah ini ukurannya normal. Dengan kapasitas sekitar 60 orang, komposisi tempat duduk dua kiri dan dua kanan. Warna tempat duduknya berwarna biru agak muda, dengan tulisan di belakang setiap kursi,

 

PT. Mutiara Indah

Jurusan Yogyakarta-Jakarta

Informasi hubungi (0274) 431 653

 

Si bapak mengamatinya dengan seksama. Kualitas busnya pun sangat baik. Bersih dan juga terawat dengan baik. Itulah alasan mengapa si bapak lebih memilih naik bus Mutiara Indah dibanding dengan bus-bus yang lain, ‘bus Mutiara Indah memang memuaskan’, begitulah yang ada dalam benak si bapak. Si bapak pun duduk di kursi sebelah kiri barisan ke tujuh dari depan, dengan mengambil tempat duduk yang paling dekat dengan jendela bus.

“Krek”, terdengar suara pintu bus dibuka. Si sopir ternyata masuk. Hampir berbarengan, si kernet pun masuk dari pintu yang berlawanan. Dia tidak sendirian, seorang karyawan perempuan masuk dari arah pintu yang sama dengan si kernet, memakai baju warna biru muda, khas karyawan PT. Mutiara Indah.

Si bapak itu memperhatikan seluruh penumpang di bus. Dia hitung, dan penumpang hanya berjumlah tiga belas orang. Seorang ibu dengan anak perempuannya yang masih kecil duduk paling depan—kursi belakang sopir.  Dua orang muda-mudi duduk di kursi baris kedua, tapi sejajar dengan dirinya, yaitu kursi sebelah kiri. Dan sisanya berada di belakang dirinya, dengan letak yang saling berjauhan. Ada juga yang dia lihat, seorang laki-laki muda, membawa sarung dan dengan santainya, dia tiduran. Dua kursi yang seharusnya untuk dua orang, dia pakai sendiri. Nyaman mungkin, seperti rumah sendiri.

“Tolong karcisnya,” seperti biasa perempuan tadi melakukan operasi untuk meminta para penumpang mengeluarkan karcis. Tidak semua penumpang memiliki karcis, bagi mereka yang tidak sempat membelinya di agen resmi, biasanya langsung datang ke busnya, langsung duduk di bus, dan bayar di tempat.

Si ibu-ibu dan anaknya sudah memiliki karcis. Perempuan tadi kemudian meminta hal yang sama pada pasangan muda-mudi di sebelah kiri. Mereka pun sudah membeli karcis. Hingga tibalah si perempuan tadi ke seorang bapak yang duduk di barian ketujuh sebelah kiri.

“Tolong karcisnya pak,” dengan penuh senyum perempuan itu meminta hal yang sama.

“Saya belum membeli karcisnya mba, nih,” jawab si bapak sambil menyodorkan uang dua ratus lima puluh ribu rupiah.

Si perempuan sudah mengetahui apa yang harus ia lakukan. Dia mengeluarkan karcis dari saku yang melilit pinggangnya—seperti tas kecil ala kernet—dan menulis dikarcis tersebut. Dengan cekatan, dia menerima uang si bapak kemudian menyerahkan karcis yang sudah menjadi hak bapak tersebut. “Terima kasih,” ucap si perempuan.

Karyawan perempuan itu kemudian menuju bagian belakang. Si bapak tidak memperhatikan lagi. Pandangannya terfokus ke depan bus. Disana tersedia layar TV beserta DVD dibawahnya. Kebetulan si sopir memasukkan kepingan CD ke dalam DVD, dan dalam hitungan menit, layarpun mulai berwarna. Tertulis di awal layar televisi, “Bulan Batu Hiu, Karya Doel Sumbang.” Alunan musik kemudian membuat bus semakin mengasyikkan.

Tak lama dari itu, perempuan tadi pun turun dari pintu yang sama, pintu depan sebelah kiri. Setelah si kernet menutup pintunya, perjalanan pun dimulai.

***

Bus baru keluar dari terminal Pulogadung. Baru saja beberapa meter dari gerbang terminal, seseorang dari belakang memukul-mukul bus sambil berlari. Seorang bertubuh kekar berlari di sebelah kiri bus sambil berteriak, “Berhenti, berhenti.”

“Ada apa tuh?” tanya si sopir.

“Mending stop aja dulu bang, kali aja penumpang,” jawab si kernet.

Si sopir pun berhenti. Kernet membuka pintu.

Pemuda yang tadi berlari, kemudian naik bus. Dia mengeluarkan karcis dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada si kernet. Si kernet memperhatikan tanggal yang tercantum dalam karcis tersebut. Tanggalnya tepat.

“Silahkan mas,” ujar si kernet sambil memberikan karcis tersebut.

Si pemuda itu pun duduk di kursi nomor tujuh, sebelah kanan, sejajar dengan bapak-bapak tadi.

Bus pun kemudian melaju, menuju kota budaya, kota pelajar, kota gudeg, kota Ngayogyakarto Hadiningrat.

***

 

====================

Ditulis oleh : IDIK SAEFUL BAHRI, S.H.

Facebook Comments
TAGS:

IDIK SAEFUL BAHRI

Idik Saeful Bahri, S.H. adalah warganet yang aktif mempromosikan hubungan kuat antara Keagamaan, Kenegaraan, dan Kebudayaan. Bahwa ketiganya merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi, bukan merupakan bagian terpisah yang saling bertentangan. Islam, Indonesia, dan Tradisi, dapat hidup beriringan dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena diatas ketiganya berdiri suatu fondasi kuat yang alamiyah dari Tuhan, yaitu Kemanusiaan. Konflik atas dasar pertentangan diantara agama, negara, dan budaya, seharusnya dapat dihindari karena kesadaran akan unsur kesatuan makhluk (Kemanusiaan). Dalam sebagian tulisannya, Idik Saeful Bahri biasa menggunakan nama pena, yakni @idikms.

One thought on “Bab I – Ruh Perjalanan (1)

Tinggalkan Balasan

Bahasa Rakyat